Read More >>"> Meja Makan dan Piring Kaca (15) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - Meja Makan dan Piring Kaca
MENU
About Us  

From: Choi Inha 
Sumin ah, apa kau masih di restoran? Aku baru selesai mengerjakan tugasku. Tidak akan ada bus ke rumah selarut ini

Baek Sumin
Ya, aku masih di restoran. Kemarilah! Apakah kau bisa mendapatkan bus untuk kesini?

From: Choi Inha
Temanku mau mengantarku kesana

Baek Sumin
Oke, aku menunggumu

Beberapa menit kemudian, sebuah mobil sport mewah memasuki tempat parkir restoran di ujung jalan itu. Padahal tempat makan itu sudah sepi, bahkan kedua pemiliknya sudah bersiap menutup tempat itu. "Taehyung ah!" teriak seorang gadis dari dalam mobil sport itu.

Namja yang dipanggil itu, segera mengurungkan niatnya yang akan menutup restoran. "Inha noona?" katanya tidak yakin.

Kemudian seorang gadis keluar dari mobil itu dan memang benar bahwa ia adalah Inha. "Hai! Maaf aku tidak bisa membantu kalian" katanya dengan menyesal.

"Tidak masalah. Tapi syukurlah kau datang tepat waktu, noona. Kami akan makan bersama." kata Jimin.

"Apakah itu teman noona? Atau pacar noona?" Tanya Taehyung sambil mendekati yeoja Choi itu.

"Dia hanya temanku" jawab Inha tersenyum sadis.

"Annyeonghasaeyo" ujar Taehyung yang membungkukkan badan pada pria asing di dalam mobil.

"Annyeonghasaeyo" jawab teman Inha yang masih berada di dalam mobil, seperti tidak berniat untuk keluar.

"Noona, ajaklah dia makan bersama kita juga." Bisik Jimin yang entah sejak kapan sudah berdiri di samping sahabat Sumin itu.

"Mwo?! Tidak. Ini sudah malam!" Tolak Inha sambil menggeleng.

"Ayolah noona. Kasihan dia" Dukung Taehyung.

Inha menghela nafas, mengalah. Iapun melongok di jendela mobil temannya itu. "Junmyung, makanlah disini bersama kami!"

"Tapi..." bantah Jun Myung.

"Anggap saja ini ucapan terima kasihku karena kau mau mengantarku." Potong Inha disertai senyum mengancam.

"Baiklah jika kau memaksa" teman Inha yang bernama Jun Myung itu akhirnya keluar dari mobil lantas berkenalan dengan Jimin dan Taehyung.

Saat Inha memasuki dapur, dia sangat terkejut melihat Jungkook yang sedang duduk berdua dengan seorang gadis berseragam sekolah. Hatinya terasa sakit melihat pemandangan itu. "Waaah, Jungkook sudah memiliki pacar?" goda Inha dengan senyum palsunya. Sepertinya gadis ini sangat pandai berakting.

Namja yang disindir itu segera mengangkat pandangan. "Oh, Inha noona." Sapanya dengan wajah polos. "Dia pekerja sambilan disini. Aku hanya membantunya mengerjakan tugas."

Gadis berseragam sekolah itu segera berdiri dan membungkuk sopan. "Annyeonghasaeyo, Ji Eunbyul imnida. Aku akan bekerja sambilan disini mulai hari ini."

Inha merasa tertohok karena telah salah paham. Tapi ia segera menutupi wajah konyolnya itu dengan senyuman. "Choi Inha imnida. Buatlah dirimu nyaman disini, Eunbyul ah. Tapi semoga kau tahan dengan ketiga namja sinting itu" kata Inha sambil melirik ketiga pemilik restoran yang sedang tertawa terbahak-bahak entah karena apa.

Ji Eunbyul terkikik geli. "Arraseoyo, eonnie"

Setelah mengangguk, Inha  mengeraskan suaranya, "Semuanya, kenalkan. Ini temanku yang mengantarku kemari. Dia akan bergabung dengan kita malam ini."

"Lee Junmyung imnida" kata lelaki teman Inha itu sambil membungkuk.

Pria tampan itupun disambut baik oleh semua orang. "Selamat datang" ucap mereka bersahutan.

"Selamat datang" kata Sumin tersenyum. "Baek Sumin imnida."

Tiba-tiba Junmyung mendekati Inha yang sedang mencuci tangan di wastafel. "Baek Sumin itu temanmu?" bisiknya.

"Ya, sejak kecil. Wae?"

"Kenapa kau tidak pernah mengatakan padaku jika memiliki sahabat secantik itu?"

Inha menatap teman kuliahnya itu dengan aneh. "Apa pentingnya untukmu?"

"Karena mungkin saja aku berjodoh dengannya" jawab Junmyung dengan cengiran bodoh.

Inha langsung memutar iris matanya tidak peduli. "Asal kau tahu saja, dia sudah memiliki pacar!"

"Oh benarkah? Siapa yang lebih tampan diantara aku dan pacar Sumin?" Tanya pria bersurai coklat pasir itu dengan percaya diri.

Si gadis berambut ikal menatap kosong pada Junmyung. Seolah pria di hadapannya itu adalah orang paling bodoh yang pernah dia kenal. "Tentu saja pacar Sumin lebih tampan!"

"Ah kau pasti berbohong, Inha. Akui saja ketampananku!"

Inha kembali memutar kelereng matanya dengan sebal. "Kau tahu, pacar Sumin sebenarnya ada di dalam ruangan ini." Katanya dengan senyum sombong. Kemudian gadis itu meninggalkan Junmyung yang terbelalak kaget. Pria kelewat percaya diri yang sayangnya tampan ini langsung mengamati setiap gerak-gerik ketiga lelaki disana.

???? Black Roses ????

"Eunbyul ah, apa tidak apa-apa kau pulang selarut ini?" tanya Inha dengan khawatir.

"Sebenarnya kau bisa pulang pukul 10 tadi" kata Taehyung.

"Gwaenchana. Eomma sudah mengijinkanku tadi" jawab Eunbyul sambil menyampirkan tasnya di bahu.

"Bawalah baju ganti besok. Karena kami tidak memiliki seragam untukmu" kata Sumin.

Eunbyul mengangguk paham. Mereka baru saja selesai makan malam bersama yang menyenangkan. Dan sekarang semuanya sedang berkumpul di depan teras restoran.

"Jimin, dimana mobilmu? pinjamkan padaku untuk mengantar Eunbyul" pinta Taehyung pada teman selinenya.

"Tidak perlu. Biar aku saja yang mengantarnya, sekaligus mengantar Inha juga." Sahut Junmyung.

"Tidak Junmyung, aku akan menginap di rumah Sumin." tolak Inha.

"Rumahku hanya 5 rumah dari sini" Sambung Sumin sambil tersenyum.

"Baiklah. Kajja, Eunbyul ah!" Junmyungpun memasuki mobilnya diikuti oleh Eunbyul. Tapi sebelum ia melajukan kendaraannya, namja Lee itu masih sempat melihat Jimin yang mencium puncak kepala Sumin.

Dan pemandangan romantis itu berhasil membuat hatinya memanas. Ya, dia sudah tahu bahwa Jiminlah pacar dari gadis incarannya. Ia sudah berkali-kali melihat adegan romantis diantara keduanya saat makan malam tadi. Apalagi dengan Inha dan Taehyung yang terus menggoda sepasang kekasih itu. Hal itu semakin menguatkan dugaannya.

Tapi sepertinya pria tampan ini tidak berniat untuk menyerah mendapatkan Sumin. Terbukti dengan cengkraman tangannya yang semakin menguat pada kemudi mobil.

???? Black Roses ????

"Annyeong" Sapa seorang pria yang bersandar di mobilnya.

"Jun Myung?!" Inha terbelalak kaget melihat temannya yang sudah berada di depan toko bunga Sumin. "Apa yang kau lakukan disini?"

"Menjemputmu" Junmyung tersenyum manis. Oh tentu saja ini hanya bualan. Karena sebenarnya ia hanya ingin bertemu dengan Sumin. "Jadi Sumin ssi adalah pemilik toko bunga?" lanjutnya sambil mengamati bangunan putih di belakang kedua gadis itu.

"Aku tidak memintamu untuk menjemputku. Lagipula aku akan berangkat bersama Sumin." Jawab Inha dengan sinis, mengabaikan basa-basi Junmyung barusan.

"Sumin ssi juga kuliah di kampus kita? Kenapa aku tidak pernah melihatnya?" Tanya pria itu dengan pandangan memuja pada gadis incarannya itu.

Sumin tersenyum. "Aku tidak kuliah. Tapi hari ini aku memiliki jadwal pemotretan."

"Waaah jadi kau seorang model? Boleh aku berfoto denganmu?"

Mendengar itu langsung membuat Inha memutar bola matanya jengah. Sedangkan Sumin hanya mengangguk, tidak menyadari modus dari teman sahabatnya itu. Kemudian mereka berduapun berfoto bersama dengan Inha yang menjadi fotografernya. Yah, meskipun yeoja Choi itu melakukannya dengan setengah hati hingga membuat hasil fotonya sedikit blur.

"Kalau begitu aku akan mengantar Sumin ssi ke tempat pemotretan sebelum kita berangkat ke kampus. Silahkan" Jun Myung membukakan pintu mobil.

Sumin melirik Inha. Sahabatnya itu hanya menghela nafas pasrah dan segera masuk ke dalam mobil Junmyung. Di dalam mobil, si yeoja Baek mengirimi Inha sebuah pesan. Karena tidak mungkin membicarakan seseorang tepat di depan orang itu sendiri, bukan?

Baek Sumin 
Kupikir dia menyukaimu, Inha. Dia sangat perhatian padamu. Mau mengantarmu semalam, dan sekarang dia menjemputmu tanpa diminta

From: Choi Inha 
Tidak, Sumin. Dia menyukaimu, bukan aku! Dia melakukan itu semua agar bisa bertemu denganmu. Lagipula aku tetap menyukai Jungkook, Sumin. Jungkook bahkan lebih tampan dari Jun Myung

Baek Sumin 
Tapi Jungkook bahkan biasa saja denganmu. Kenapa harus menunggu untuk sesuatu yang tidak pasti?

???? Black Roses ????

Sumin sangat terkejut mendapati Jun Myung tengah bersandar di mobilnya yang ia parkir di depan studio pemotretan. "Junmyung ssi?"

"Oh Sumin ssi, kau sudah selesai?"

"Nde. Tapi apa yang kau lakukan disini?"

"Menjemputmu" Jun Myung mengangkat bahunya. Seolah menjemput Sumin adalah kegiatan rutinnya yang tidak perlu dipertanyakan lagi. "Kajja" katanya sambil membukakan pintu mobil.

"Apa Inha juga ada di dalam?" Tanya Sumin sambil melongok ke dalam mobil sport mewah itu.

Tapi pria itu malah mendorong Sumin masuk ke mobilnya dan langsung menutup pintu. Setelah itu, ia segera duduk di balik kemudi. "Inha pulang ke rumahnya." Jawabnya sambil tersenyum.

Tentu saja Sumin kaget mendapat perlakuan seperti itu dari Junmyung. Gadis itu segera membuka pintu dengan kesal.

Tapi Junmyung dengan sigap menggapai pintu melewati tubuh Sumin dan kembali menutupnya. Kemudian lelaki itu menarik sabuk pengaman di atas kepala Sumin dan memasangkannya ke tubuh gadis pujaannya. "Kau sangat cantik, Sumin ssi" katanya tepat di depan wajah Sumin.

Tapi yeoja Baek itu hanya diam dengan rahang mengeras. Benar apa yang dikatakan Inha bahwa namja disampingnya yang sedang mengendarai mobil ini memang menyukainya. Tapi Sumin tidak suka dengan sikapnya yang pemaksa seperti tadi. "Apa maumu?" tanya Sumin datar.

Junmyung menatap Sumin sekilas dengan wajah ceria. Kemudian pandangannya kembali ke jalanan. "Hanya ingin mengantarmu pulang. Ah ya, kau pasti lapar. Bagaimana kalau kita makan dulu?"

"Tidak, terima kasih. Aku masih kenyang" Jawab Sumin sambil memandang keluar jendela. Mood gadis itu seketika menjadi buruk karena namja aneh ini.

"Baiklah. Tapi lain kali kita harus makan bersama"

"Kita sudah melakukannya semalam"

"Maksudku, hanya kita berdua"

"Bertiga dengan Inha"

"Sumin ssi, aku hanya ingin makan malam berdua denganmu"

"Aku tidak akan pergi berdua denganmu"

Jun Myung menghela nafas. "Baiklah. Kita pergi bertiga dengan Inha"

Tidak menanggapi lebih lanjut, Sumin malah berkata, "Turunkan aku di restoran saja"

Mobil yang terlampau mewah itu akhirnya tiba di tempat parkir restoran milik trio Jimin-Taehyung-Jungkook. Saat Sumin membuka pintu mobil, Junmyung langsung memegang pergelangan tangan gadis itu. Membuat yeoja bermata bulat itu menatap si pelaku dengan tatapan galak.

"Apa kau sangat mencintai pacarmu itu?" Tanyanya tiba-tiba.

Sudah mengira akan pertanyaan ini, Sumin menjawab, "Ya"

"Kalau begitu aku akan membuatmu jatuh cinta padaku." Kata si namja Lee itu dengan serius.

Sumin tertawa jengah. "Lakukan saja jika kau bisa. Karena aku tidak akan pernah jatuh cinta pada orang sepertimu!" Gadis itu segera melepas cengkraman Junmyung dan secepat kilat keluar dari mobil.

Tidak lupa, Sumin membanting pintu mobil Junmyung sekeras-kerasnya.

TBC


Kurang gimana?
Ada typo kah?
Kurang detail kah deskripsinya?
Kurang ngefeel kah?
Kasih masukan dong ????
 

With love, Astralian ????

How do you feel about this chapter?

0 0 1 0 0 0
Submit A Comment
Comments (29)
  • ditastar

    Kenapa aku sangat bodoh?! (pakai tanda tanya di depannya, Bung).

    Comment on chapter Prolog
  • ddherdi

    Sobat, boleh kasih saran? Coba pelajari lagi tentang kalimat bercetak miring. Dan dialog tag.

    Comment on chapter Prolog
  • lanacobalt

    Terima kasih @TaniaWahab Siap, saya akan pelajari lagi.

    Comment on chapter Prolog
  • TaniaWahab

    Ceritanya bagus. Saya suka. Sarannya adalah pelajari lagi tentang partikel, awalan, dan akhiran. Dan penulisan kata apa pun ditulis terpisah. Bukan apapun.

    Comment on chapter Prolog
  • SusanSwansh

    @lanacobalt semangat terus Kak. Anjing menggonggong, biarin aja. Nanti kalau capek juga diam. Hehe. I like your story. Good luck.

    Comment on chapter Prolog
  • lanacobalt

    Terima kasih @SusanSwansh nanti aku koreksi lagi penulisannya.

    Comment on chapter Prolog
  • SusanSwansh

    @Limlaui kata siapa jelek. Bagus, kok. Inspiratif. Diksinya juga bagus. Cuma ada beberapa kata yang tidak sesuai dengan KBBI. (fikiran--pikiran) Novel jelek itu, novel yang ditulis tidak dengan hati. Tapi ini feelnya dapet, kok. Mungkin, selera kamu saja Kawan yang berbeda. Tapi, ya, nggak perlu mindikte karya orang juga. Itu tidak baik. Dan seburuk-buruknya orang itu adalah yang suka mencela.

    Comment on chapter Prolog
  • lanacobalt

    Terima kasih supportnya

    Comment on chapter Prolog
  • Limlaui

    Novelnya jelek

    Comment on chapter Prolog
Similar Tags
Jika Aku Bertahan
352      237     0     
Romance
Tidak wajar, itu adalah kata-kata yang cocok untuk menggambarkan pertemuan pertama Aya dengan Farel. Ketika depresi mengambil alih kesadarannya, Farel menyelamatkan Aya sebelum gadis itu lompat ke kali. Tapi besoknya secara ajaib lelaki itu pindah ke sekolahnya. Sialnya salah mengenalinya sebagai Lily, sahabat Aya sendiri. Lily mengambil kesempatan itu, dia berpura-pura menjadi Aya yang perna...
Malu malu cinta diam diam
14      14     0     
Short Story
Melihatmu dari jauhpun sudah membuatku puas. karena aku menyukaimu dalam diam dan mencintaimu dalam doaku
Intuisi
124      84     0     
Romance
Yang dirindukan itu ternyata dekat, dekat seperti nadi, namun rasanya timbul tenggelam. Seakan mati suri. Hendak merasa, namun tak kuasa untuk digapai. Terlalu jauh. Hendak memiliki, namun sekejap sirna. Bak ditelan ombak besar yang menelan pantai yang tenang. Bingung, resah, gelisah, rindu, bercampur menjadi satu. Adakah yang mampu mendeskripsikan rasaku ini?
Cinta Tak Terduga
145      122     0     
Romance
Setelah pertemuan pertama mereka yang berawal dari tugas ujian praktek mata pelajaran Bahasa Indonesia di bulan Maret, Ayudia dapat mendengar suara pertama Tiyo, dan menatap mata indah miliknya. Dia adalah lelaki yang berhasil membuat Ayudia terkagum-kagum hanya dengan waktu yang singkat, dan setelah itupun pertemanan mereka berjalan dengan baik. Lama kelamaan setelah banyak menghabiskan waktu...
My Universe 1
127      81     0     
Romance
Ini adalah kisah tentang dua sejoli Bintang dan Senja versiku.... Bintang, gadis polos yang hadir dalam kehidupan Senja, lelaki yang trauma akan sebuah hubungan dan menutup hatinya. Senja juga bermasalah dengan Embun, adik tiri yang begitu mencintainya.. Happy Reading :)
Tentang Penyihir dan Warna yang Terabaikan
231      149     0     
Fantasy
Once upon a time .... Seorang bayi terlahir bersama telur dan dekapan pelangi. Seorang wanita baik hati menjadi hancur akibat iri dan dengki. Sebuah cermin harus menyesal karena kejujurannya. Seekor naga membeci dirinya sebagai naga. Seorang nenek tua bergelambir mengajarkan sihir pada cucunya. Sepasang kakak beradik memakan penyihir buta di rumah kue. Dan ... seluruh warna sihir tidak men...
LAST MEMORIES FOR YOU ARAY
346      272     5     
Short Story
Seorang cewe yang mencintai seorang cowo modus,php, dan banyak gebetannya. Sejak 2 tahun Dita menyukai Aray, tapi Aray hanya menganggapnya teman. Hingga suatu hari di hari ulang tahun Aray ia mengungkapkan perasaan yang selama ini bernama cinta, yang tak pernah ia sadari. Tapi semua sudah terlambat dihari ulang tahunnya juga hari dimana kepergian Dita untuk selama-lamanya.
Mencintaimu di Ujung Penantianku
138      102     0     
Romance
Perubahan berjalan perlahan tapi pasti... Seperti orang-orang yang satu persatu pergi meninggalkan jejak-jejak langkah mereka pada orang-orang yang ditinggal.. Jarum jam berputar detik demi detik...menit demi menit...jam demi jam... Tiada henti... Seperti silih bergantinya orang datang dan pergi... Tak ada yang menetap dalam keabadian... Dan aku...masih disini...
Aleya
0      0     0     
Romance
Kau memberiku sepucuk harapan yang tak bisa kuhindari. Kau memberiku kenangan yang susah untuk kulupakan. Aku hanyalah bayangan bagimu. Kita telah melewati beberapa rute tetapi masih saja perasaan itu tidak bisa kukendalikan, perasaanmu masih sama dengan orang yang sama. Kalau begitu, kenapa kau membiarkan aku terus menyukaimu? Kenapa kau membiarkan aku memperbesar perasaanku padamu? Kena...
KATUMBIRI
431      353     4     
Short Story
Aku yang buta akan kesungguhan dan keegoisan. Antara mimpi dan kenyataan, akankah aku melepas salah satunya? Ini kisahku, Si Pemimpi dalam tirai hujan. Aku yang berhutang pada hujan. Hujan yang telah melukis pelangi menjadi lebih indah.