PLAK!
Satu tamparan mendarat sempurna di pipi kiriku.
“Perempuan tidak tahu diri!”
Aku hanya bisa diam. Ditambah dengan tamparan lagi di tempat yang sama.
“Bagaimana kamu tega melakukan ini pada Dini?!”
“Aku—”
Aku tidak sempat menyelesaikan ucapanku saat tamparan yang untuk ketiga kali meluncur lebih keras dari sebelumnya.
“Kamu lupa semua kebaikan Dini? Dia yang memohon padan orang tua kami untuk membantumu membiayai semua kehidupanmu! Dan apa yang kamu lakukan sebagai balasan? Jelaskan!”
Mataku sudah terpejam. Siap menerima tamparan untuk kesekian kalinya, tapi saat aku sudah menunggu dengan napas yang tertahan, tidak ada rasa sakit yang kembali muncul.
“Cukup!”
Aku membuka mata. Menatap lelaki di depanku yang kini menahan tangan perempuan yang sedari tadi telah menghempaskan segala amarahnya padaku.
“Cukup, Dina.”
“Apa kamu sedang membela istri mudamu sekarang?” Dina bertanya sambil melirik padaku saat menekan kata istri muda. Dan entah mengapa itu lebih menyakitkan dibanding tamparannya.
“Dina, jangan begitu.”
PLAK!
Suara tamparan itu membuat napasku tertahan. Aku bisa melihat air muka tak berdaya lelaki itu di depan Dina. Aku juga bisa melihat amarah yang tak terkira dari pancaran mata Dina saat menamparnya, sama seperti saat dia menamparku.
“Aku benar-benar kasihan dengan kakakku. Harus hidup di antara drama kalian berdua di sepanjang hidupnya. Tersiksa melihat suami dan sahabatnya memiliki ikatan di belakangannya.”
Dina pergi dari ruang kamar dengan segala ucapan yang mencekik perasaan. Meninggalkanku dengan lelaki itu dalam keheningan.
“Sudah kubilang, kan?”
Lelaki itu menatapku, lalu menarikku dalam dekapannya saat satu air mata keluar begitu saja.
Sedihhh bgt tapi baguss lanjut terus yaa????
Comment on chapter Prolog