Read More >>"> Aku. Kamu. Waktu (BAB 6: Waktu Kita) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - Aku. Kamu. Waktu
MENU
About Us  

 

Juni, 2001

Malam itu menjadi malam paling mengerikan di dalam hidupku. Malam yang paling kutakutkan akhirnya tiba. Malam yang menjadi akhir dari segala kehidupan.

            “IBU!”

            Beberapa orang berseragam menatapku. Terkejut karena aku tiba-tiba masuk sambil menjerit.  Mereka pada akhirnya memberiku jalan untuk bisa melihat sosok perempuan yang telah tergeletak di lantai yang berselimutkan darah.

            “IBU!”

            Aku tersungkur, memeluknya. Dengan tangan yang berusaha menutup luka di perut ibu agar darah sialan itu berhenti mengalir. Lihatlah wajah ibuku yang telah membiru. Aku tahu. Aku tahu pasti siapa yang telah melakukan ini.

            “Di mana dia?! Di mana orang yang telah membunuh ibuku?!” Aku berteriak pada orang-orang berseragam itu. Sekelebat aku mendengar bahwa si tersangka telah masuk bui.

            Aku tidak terima. Bagaimana bisa dia masih diizinkan untuk hidup setelah merebut kehidupan orang lain? Aku tidak terima jika dia hanya dikurung dalam jeruji besi! Harusnya dia sudah ditenggelamkan di dalam api neraka!

            “Nak, ibumu harus di bawa ke rumah sakit untuk di autopsi,” seseorang menyentuh pudakku aku menggeleng cepat.

            Buat apa? Rumah sakit tidak akan membuat ibuku hidup kembali.

            Aku hanya ingin memeluk ibuku sedikit lebih lama sebelum tubuh ibu memilih untuk terbaring di dalam tanah. Aku hanya ingin bersama ibu. Aku hanya ingin itu. Tapi orang-orang berseragam itu menarik tubuhku, lalu cepat-cepat mengangkat tubuh ibu. Jeritanku semakin menjadi.

            “Jangan! Jangan!”

            Aku mohon jangan biarkan aku berpisah dari ibu. Aku mohon.

            Tante Ira yang sejak tadi melihatku segera memberi pelukan erat. Tubuhku melemas. Duduk di atas ubin lantai yang dingin. Terisa-isak.

            “Ibu… Ibu…”

            Malam itu bukan hanya menjadi malam kematian ibu, tapi juga aku.

***

            Aku tidak tahu lagi siapa diriku. Kematian ibu juga mematikan hidupku yang masih hidup. Aku tidak lagi memiliki alasan untuk menjalani hari. Tujuh belas tahun hidupku diisi dengan harapan ‘aku ingin menjaga dan membahagiakan ibu’ lalu saat ibu telah tiada, aku bisa berbuat apa?

            “Dua ribu,” ucapku sambil menyerahkan segelas teh hangat kepada pembeli. Pembeli paling setia di toko ini.

            “Untukmu.” Dia berkata sambil berlalu. Mengambil duduk di teras toko. Aku menatap segelas teh hangat dan lelaki yang kini menerawang hujan itu secara bergantian.

            Sudah tiga minggu sejak kejadian di malam itu. Saat aku meminta tolong padanya untuk mengantarku segera pulang ke rumah. Dia berada di sana saat aku menjerit histeris melihat sekerumun orang telah berada di pekarangan rumah. Berlarian masuk ke dalam dan melepas garis batas polisi sambil tergugu.

            Dia juga masih berada di sana saat satu persatu orang yang bergerumbul untuk menonton ‘peristiwa besar’ kembali ke rumah masing-masing. Dia benar-benar masih berada di sisiku dan ikut mengantar ibu berpulang selamanya. Bahkan Pak Hendri, dokter yang dulu menangani Ibu ikut melayat. Mungkin Yanuar yang telah menelepon ayahnya.

            Aku tidak tahu Pak Hendri datang untuk menyampaikan rasa duka atau menjemput anaknya yang semalaman tidak kunjung pulang, karena setelah duduk selama tiga puluh menit Pak Hendri undur diri bersama Yanuar yang masih berusaha menolak.

            Beberapa menit setelah kepergian Pak Hendri dan Yanuar, sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah. Aku tahu benar siapa penumpangnya. Mereka adalah keluarga dari Dini.

            “Yuli!”

            Dini turun dari mobil dan berlarian untuk memelukku. Tangisnya pecah seketika. Dengan tergugu dia berbisik, “Kamu kuat! Kamu tabah!”

            Lelehan air mata yang menghiasi wajahku bercampur senyuman kecil. Lihatlah gadis ini, mencoba memberi semangat untukku yang berduka tapi tangisnya malah melebihi diriku.

            “Dasar.” Tiba-tiba saja aku tersenyum kecil karena mengingat kejadian itu.

            Mataku kembali menatap Yanuar, dan entah mengapa hal itu membuatku menghela napas panjang. Ini untuk pertama kalinya ada seorang laki-laki yang menunjukkan perasaannya dengan sungguh-sungguh padaku. Biasanya, jika ada yang menyatakan cinta ditolak satu atau dua kali dia tidak akan pernah menemuiku lagi., namun Yanuar berbeda. Rasanya sudah berjuta kali aku menolak, berteriak, bahkan mengusirnya, tapi tetap saja dia berada di sini. Bahkan saat aku benar-benar di titik terbawah, dia ada di sisiku.

            Tidak. Aku tidak mencintanya. Hanya saja, aku bisa mulai bersikap baik karena menghargai perasaan dan perjuangannya bukan?

            “Kamu bisa masuk ke dalam, di sini dingin,” ucapku setelah memutuskan untuk keluar menemui Yanuar. Dia menoleh, lalu tersenyum. Senyum itu entah mengapa selalu mengingatkanku pada ibu. Senyum yang menenangkan.

            “Nggak apa-apa,” jawabnya. “Kalau hujannya reda aku akan segera pulang dan nggak ganggu kamu lagi. Tenang saja,” lanjutnya.

            Aku hanya diam, lalu kembali masuk ke dalam toko. Kulihat Yanuar juga kembali sibuk menatap rintikan air langit itu. Apa dia tengah menghitung jumlahnya?

            Kira-kira tujuh menit kemudian aku kembali keluar toko sambil membawa segelas kopi. Yanuar tertawa saat aku menyerahkan kopi itu padanya. Membuatku mendengus sebal.

            “Itu ganti cokelat hangat ini,” ucapku sambil menggoyangkan sedikit gelas tehku. Yanuar membalas dengan angggukan.

            Selanjutnya, aku dan Yanuar tidak bersuara. Aku tidak tahu kenapa beberapa hari terakhir laki-laki ini lebih banyak diam. Dia masih sering ke toko, bahkan lebih lama, tapi candaannya hanya sewajarnya tidak sampai membuatku kewalahan.

            “Apa kamu merasa ternganggu denganku?” Yanuar membuka kembali obrolan dengan sebuah pertanyaan. Aku paham pertanyaan itu, tapi memilih untuk diam.

            “Selama ini, aku berusaha untuk tetap berada di dekatmu karena ingin memastikan perasaanku. Apa sebenarnya aku memang jatuh cinta sama kamu, atau hanya perasaan sementara seperti yang sering kamu bilang.”

            Yanuar tetap berbicara, dan aku tetap diam. Mendengarkan.

            “Dan aku sudah menemukan jawabannya di malam itu…” Yanuar menggantungkan ucapannya, menatapku, “jadi, jika kamu merasa terganggu bersabarlah karena aku nggak bisa untuk menjauh darimu.”

            Aku mendengus. Ya ampun, aku kira dia akan berbicara untuk memilih mundur dan berhenti menggangguku jika aku mengiyakan, tapi… lihatlah! Laki-laki ini benar-benar tidak bisa ditebak.

            “Kamu tersenyum.”

            Aku tersentak saat dia menunjuk wajahku. Cepat saja aku merubah raut wajah menjadi datar, padahal aku sendiri tidak sadar kapan dan kenapa aku tersenyum.

            “Oh ya, keluaraga siapa itu…” Yanuar mulai berganti topik, dan entah mengapa aku merasa bersyukur.

            “Dini,” jawabku. Dia mengangguk-angguk.

            “Iya. Dini. Apa kamu baik-baik saja hidup di sana?” tanyanya.

            Anggukan dalamku membuatnya tersenyum.

            “Baguslah, aku jadi nggak perlu repot-repot merusak rumahmu,” sahutnya. Hal itu membuatku melotot sebal.

            Pasalnya, sehari setelah ibu dimakamkan, aku mengunci diri. tidak akan membiarkan seorang pun mengganggu. Di hari pertama, aku bisa mendengar Tante Ira yang mengetuk pintu berkali-kali. Beberapa jam kemudian, pintu itu di dobrak. Memperlihatkan tubuh Yanuar yang masih mengenakan seragam sekolah.

            Hari berikutnya, aku melakukan hal yang sama. Kali ini bukan hanya mengunci pintu bahkan menggemboknya. Mungkin dengan cara ini tidak akan bisa untuk didobrak lagi. Tapi Yanuar kembali datang dengan cara memecahkan jendela ruang tamu. Konyolnya, dia sama sekali tidak merasa bersalah dan malah memberiku semangkuk bubur ayam.

            Aku tidak tahu apa yang harus kuperbuat dengan kaca rumahku. Yanuar tidak bertanggung jawab, katanya dengan cara ini dia bisa masuk karena pintunya tidak berfungsi. Dasar menyebalkan.

            “Kalau ada rampok bagaimana?” Aku memprotes, tapi dia dengan enak menjawab, “Rampok akan kabur kena bentakanmu.”

            Akhirnya di malam hari, Tante Ira mengajakku bermalam di rumahnya. Besok, suami Tante Ira akan mencoba memperbaiki. Aku sampai merasa tidak enak hati karena harus merepotkan orang lain karena Yanuar. Tapi saat disalahkan tetap saja jawabannya, “Salah sendiri karena pintunya dikunci.”

             Saat Om Beni—suami Tante Ira—memperbaiki kaca rumah, Dini datang bersama kedua orang tuanya.

            “Ayo ikut ke rumah, Yul! Tinggal sama aku!” Itulah yang dia ucapkan saat baru turun dari mobil. Seketika aku kebingungan, dan orang tua Dini menjelaskan dengan telaten.

            “Kami akan membiayai pendidikan dan kehidupan kamu. Tidak apa-apa, tidak perlu sungkan, juga jangan dianggap hutang. Ini semua tulus kami lakukan karena Dini menyayangi kamu.”

            Aku meminta waktu dua hari untuk memikirkannya. Di dua hari itu Yanuar masih sering mengunjungi rumah. Aku yang puasa bicara, pada akhirnya meminta pendapat Yanuar tentang masalah ini. Aku tidak sadar, kenapa aku harus bertanya padanya, yang jelas saat itu aku membutuhkan bantuan dari pemikiran orang lain selain apa yang kupikirkan sendiri.

            Yanuar tanpa berpikir panjang langsung menyetujui. Katanya itu hal yang amat baik, dan aku harus bersyukur memiliki sahabat seperti Dini. Tanpa dia bilang pun, aku selalu bersyukur mengenal Dini.

            “Dini itu beda banget ya sama kamu. Dia banyak omong, kamu pelit.”

            Dia hanya tertawa saat aku mendelik tajam padanya. Selanjutnya, percakapan malam itu lebih banyak tentang Dini, dan hanya aku yang berbicara. Yanuar mendengar dengan senyuman. Aku tidak tahu dia benar-benar mendengar ceritaku tentang bagaimana aku dan Dini pertama bertemu, tentang persahabatan kita, atau dia tersenyum karena untuk kali pertama aku berbicara panjang lebar padanya.

            “Hujannya sudah reda,” ucapnya setelah aku mengakhiri cerita. Aku ikut menatap langit. Benar. Air langit itu telah berhenti berjatuhan ke bumi.

            “Kamu pulang sekarang?” tanyaku.

            “Kenapa? Kamu nggak rela ya aku pulang?” Yanuar balik bertanya, dengan kedipan mata menggoda. Lagi-lagi membuatku mendengus sebal.

            “Sekarang masih pukul sembilan malam.” Dia melirik jam tangannya. “Mau jalan-jalan?” tanyanya.

            Aku mengernyitkan dahi. “Tokonya nggak ada yang jaga.”

            “Itu urusan gampang.”

            Setelah itu Yanuar mengeluarkan telepon genggamnya. Berbicara dengan seseorang di seberang sana, lalu berakhir dengan kalimat, “Kalau kau nggak datang dalam sepuluh menit tamat riwayat nilai fisikamu.”

            Saat aku bertanya kepada siapa dia berbicara, Yanuar hanya menggidikkan bahu. Aku mengetahui siapa orang yang diancam dengan nilai fisika itu sepuluh menit kemudian, saat dia sampai di depan toko dengan peluh di pelipis karena mengayuh sepeda dengan kecepatan penuh.

            “Jaga toko sebentar ya, Bim. Aku mau ngajak Yuli keluar sebentar.”

            Lelaki itu aku kenal sebagai Bima, teman sebangku Yanuar. Dia belum sempat membuka mulutnya saat Yanuar melepas topi biru di kepalaku untuk dilempar kepada Bima. Lalu dengan hitungan detik menarikku untuk naik ke motornya.

            “Kurang ajar!”

            Aku bisa mendengar umpatan Bima. Membuatku menoleh. Aku rasa lelaki itu sedang melempar topiku ke tanah.

            “Tenang saja. Bima nggak akan marah lama-lama. Dia bisa bertanggung jawab juga kok.”

            Padahal aku tidak berkata apa-apa, tapi Yanuar menjawab kegelisahan hatiku tanpa aku suruh.

            “Kita mau ke mana?” tanyaku.

            “Ke mana saja. Sekarang berhenti cerewet dan hidup aroma sehabis hujan ini dalam-dalam. Nikmati semilir angin yang menyapa dan menusuk-nusuk pori-pori kulit. Jika bisa, biarkan bibirmu tersenyum melihat keindahan dunia ini.”

            Aku tidak sadar jika malam di Jakarta bisa terlihat begitu indah. Atau memang aku yang baru saja memiliki kesempatan untuk melihat kota dengan kerlipan berjuta lampu ini secara sungguh-sungguh. Rasa sesak di dada yang telah tertahan begitu lama seperti menemukan obatnya. Aroma sehabis hujan telah memenuhi indraku.

            “Indah, kan?” tanyanya. Aku mengangguk dengan mata terpejam karena menikmati aroma khas yang baru kusadari.

            Selama ini di kepalaku, di hidupku, hanya tentang kepahitan memiliki seorang ayah yang kejam. Rasa bebas dari cengkraman itu terasa mustahil, tapi kini ternyata aku bisa merasakannya berkat laki-laki ini.   

            “Hidup ini bukan tentang orang lain, tapi tentang dirimu sendiri. Hidupmu adalah milikmu. Jadi jalani hari-hari atas dasar kesukaanmu, impianmu.”

            Aku termenung. Ucapan Yanuar seolah-olah ingin memberiku sedikit pencerahan. Apa dia tahu jika beberapa hari terakhir aku tidak memiliki alasan lagi untuk hidup? Ah, tentu saja dia tahu. Saat ini, dia akan selalu tahu apa pun tentang diriku.

             “Impianku selama ini hanya membahagiakan Ibu,” sahutku dengan suara parau. Tidak. Aku mohon jangan menangis. Kenapa aku masih ingin menangis setiap mengucap kata itu?

            “Benar sekali.” Yanuar mengangguk setuju. Aku menatap punggungnya dengan sendu.

            “Tapi Ibu sudah tidak ada.”

            “Tidak ada di sisimu, apa itu artinya ibumu tidak melihatmu di atas sana?”

            Aku mendongak pada langit. Membayangkan wajah ibu yang dihiasi senyuman menyapaku di balik awan mendung. Tanpa kusadari motor Yanuar berhenti di sebuah jalan kecil dengan satu lampu temaram yang berdiri di tepian. Dia melepas helm, lalu berbalik untuk menatapku.

            “Aku tahu rasa kehilangan itu masih teramat dalam, tapi sekarang saatnya kamu hidup untuk dirimu sendiri. Kamu harus mngizinkan dirimu yang berkuasa atas kehidupanmu, bukan hanya untuk orang lain.”

            Telapak tangan Yanuar yang dingin menyentuh pipiku, menghapus air mata yang tak kusadari sudah bertengger di sana.

            “Ibumu akan mengerti, Yul. Bangkitlah agar Ibumu nggak bergundah hati di sana. Tersenyumlah.”

            Mungkin, malam itu menjadi titik awal aku menyadari jika sosok Yanuar bukan lagi sebagai laki-laki asing yang hobi menguntit dan menggodaku. Dia berada di posisi, di mana aku bebas berekspresi tanpa memasang topeng wajah “baik-baik saja”.

            “Dan jangan lupa sholat. Berdoa. Doa anak sholeh dan sholehah akan membantu Ibumu.”

            Ucapan terakhir Yanuar itu seketika membuatku tersenyum sekaligus tertawa. Ternyata dia masih alim juga.

           

           

 

 

 

 

Tags: twm18 romance

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (5)
  • Chocolavaa

    Sedihhh bgt tapi baguss lanjut terus yaa????

    Comment on chapter Prolog
  • Fatih

    Bagusss lanjutt

    Comment on chapter BAB 1: Aku Adalah Dosa
  • 9davv

    I just saw the ad

    Comment on chapter Prolog
  • Vidyakus_

    :"(

    Comment on chapter Prolog
  • ibl

    Ceritanya bagus dan recommended ???? semangaat thor dan ditunggu kelanjutannya

    Comment on chapter Prolog
Similar Tags
For Cello
31      12     0     
Romance
Adiba jatuh cinta pada seseorang yang hanya mampu ia gapai sebatas punggungnya saja. Seseorang yang ia sanggup menikmati bayangan dan tidak pernah bisa ia miliki. Seseorang yang hadir bagai bintang jatuh, sekelebat kemudian menghilang, sebelum tangannya sanggup untuk menggapainya. "Cello, nggak usah bimbang. Cukup kamu terus bersama dia, dan biarkan aku tetap seperti ini. Di sampingmu!&qu...
Kesetiaan
5      5     0     
Short Story
Cerita tersebut menceritakan tentang kesetiaan perasaan seorang gadis pada sahabat kecilnya
Menuntut Rasa
274      225     3     
Short Story
Ini ceritaku bersama teman hidupku, Nadia. Kukira aku paham semuanya. Kukira aku tahu segalanya. Tapi ternyata aku jauh dari itu.
Alvira ; Kaligrafi untuk Sabrina
146      48     0     
Romance
Sabrina Rinjani, perempuan priyayi yang keturunan dari trah Kyai di hadapkan pada dilema ketika biduk rumah tangga buatan orangtuanya di terjang tsunami poligami. Rumah tangga yang bak kapal Nuh oleng sedemikian rupa. Sabrina harus memilih. Sabrina mempertaruhkan dirinya sebagai perempuan shalehah yang harus ikhlas sebagai perempuan yang rela di madu atau sebaliknya melakukan pemberontakan ata...
Looking for J ( L) O ( V )( E) B
25      11     0     
Romance
Ketika Takdir membawamu kembali pada Cinta yang lalu, pada cinta pertamamu, yang sangat kau harapkan sebelumnya tapi disaat yang bersamaan pula, kamu merasa waktu pertemuan itu tidak tepat buatmu. Kamu merasa masih banyak hal yang perlu diperbaiki dari dirimu. Sementara Dia,orang yang kamu harapkan, telah jauh lebih baik di depanmu, apakah kamu harus merasa bahagia atau tidak, akan Takdir yang da...
THE WAY FOR MY LOVE
4      4     0     
Romance
Desider
5      5     0     
Short Story
"Kerinduan yang Mendalam"
Phi
13      3     0     
Science Fiction
Wii kabur dari rumah dengan alasan ingin melanjutkan kuliah di kota. Padahal dia memutus segala identitas dan kontak yang berhubungan dengan rumah. Wii ingin mencari panggung baru yang bisa menerima dia apa adanya. Tapi di kota, dia bertemu dengan sekumpulan orang aneh. Bergaul dengan masalah orang lain, hingga membuatnya menemukan dirinya sendiri.
Crystal Dimension
5      5     0     
Short Story
Aku pertama bertemu dengannya saat salju datang. Aku berpisah dengannya sebelum salju pergi. Wajahnya samar saat aku mencoba mengingatnya. Namun tatapannya berbeda dengan manusia biasa pada umumnya. Mungkinkah ia malaikat surga? Atau mungkin sebaliknya? Alam semesta, pertemukan lagi aku dengannya. Maka akan aku berikan hal yang paling berharga untuk menahannya disini.
Bandung
307      68     0     
Fan Fiction
Aku benci perubahan, perubahan yang mereka lakukan. Perubahan yang membuat seolah-olah kami tak pernah saling mengenal sebelumnya - Kemala Rizkya Utami