"Duh Ibu, menika putri ingkang kula suwun(1)," ucap Arjuna sambil memegang kedua tanganku.
Note (1): Aduh Ibu, ini putri yang saya mau.
Jantungku yang sudah dag-dig-dug tak jelas sejak Bu Wahyu menyerukan namaku dan Arjuna untuk memainkan peran sebagai Kleting Kuning dan Ande Ande Lumut semakin berpacu cepat. Kalau adegan ini terus berlanjut sampai lima menit ke depan, sudah bisa kupastikan kalau aku akan jatuh dengan gaya bebas ke lantai. Lantaran tak kuat menahan kaki yang mati rasa akibat berhadapan sedekat ini dengan salah satu cowok idaman SMA Pusaka Bangsa.
Sumpah demi Patrick di kartun Spongebob jadi profesor. Otakku masih terus berpikir, kenapa harus aku yang memerankan Kleting Kuning? Padahal banyak murid ekstra drama yang memiliki akting bagus dibandingkan aku. Apa karena aku memiliki tampang melas, jadi Bu Wahyu memilihku dibanding Vivian, si ratu drama? Tapi kenapa juga lawan mainku harus Arjuna? Apa kesepuluh cowok yang sedang duduk di pojok ruangan itu tidak bisa? Ahh, aku seperti ingin terjun saja dari atas pohon kencur!
"Opo ora salah koe, Ngger(2)?" kata Rina yang memerankan Mbok Rondho Dadapan.
Note (2): Apa tidak salah kamu, Nak?
"Mboten Ibu, kula sampun manteb kaliyan pilihan kula(3)!"
Note (3): Tidak Ibu, saya sudah mantab dengan pilihan saya!
"Yo wes lek pancen iku wes dadi pilihanmu. Si Mbok melu marem, Ngger(4)!"
Note (4): Ya sudah kalau itu sudah jadi pilihanmu. Ibu juga ikut bahagia, Nak!
"Ibu."
"Opo maneh, Ngger(5)?"
Note (5): Apalagi, Nak?
"Kula namung badhe matur, sakyetosipun kula niki Panji Asmara Bangun, pangeran saking Kerajaan Jenggala(6)."
Note (6): Saya hanya ingin mengatakan, sebenarnya saya ini Panji Asmara Bangun, pangeran dari Kerajaan Jenggala.
"Opo, pangeran?" teriak tiga orang yang memainkan peran sebagai Kleting Merah, Kleting Biru dan Kleting Hijau.
"Aku uga uwes suwi nunggu sliramu Putri Sekartaji(7)," ucap Arjuna dengan tangan kanan yang mulai mengusap pipiku. Membuatku sedikit membelalak dan menahan nafas karena kelakuannya ini.
Note (7): Aku juga sudah lama menunggumu Putri Sekartaji.
"Opo, Putri Sekartaji?" teriak kembali Vivian, Okta dan Siska lalu menjatuhkan diri ke lantai, berakting pingsan.
Suara tepuk tangan bergemuruh memenuhi ruang seni. Sudut mataku langsung mengerling liar mencari keberadaan Intan, sahabatku sejak masa orientasi siswa baru di SMA Pusaka Bangsa. Nafas kasar secara reflek keluar dari mulutku, saat penglihatanku menemukan ia sedang bertepuk tangan dengan bibir yang menyungginkan senyum lebar. Aku tidak tahu bagaimana perasaannya saat ini. Semoga saja dia tidak cemburu.
"Ya, bagus seperti itu. Tapi untuk kamu Dana!" teriak Bu Wahyu menunjuk ke cowok yang sedang duduk di pojokan dekat dengan pintu, "kamu harus serius. Prajurit itu harus gagah bukan cengengesan. Oke, kita ulang lagi!"
Mendengar kata 'ulang lagi', mataku langsung kembali melirik Intan. Dan dia masih mengembangkan senyum tiga jarinya. Seperti memberi isyarat, aku tidak apa-apa.
***
"Kau hebat, Ra!"
Aku hanya mampu mengumbar senyum kecut tanpa berani memandangnya. Rasanya hatiku malu untuk memandang Intan setelah akting gila tadi. Alhasil kini pandangan mataku terfokus pada dua tangan yang sedang menali sepatu, seolah sangat sibuk hingga tak bisa memandangnya walaupun hanya sekilas. "Apa kau cemburu?"
"Enggak."
"Jangan bohong!"
"Aku nggak bohong, lagipula aku nggak berhak untuk cemburu. Arjuna bukan apa-apaku," ucapnya dengan memelankan suara di tiga kata terakhir.
"Cemburu juga nggak apa-apa, kau 'kan menyukainya."
"Tapi aku sadar statusku hanya temannya. Lagipula kau itu sahabatku yang tahu kalau aku menyukainya, mana mungkin aku cemburu padamu. Kecuali kalau kau sampai suka pada dia, baru aku akan cemburu."
Ciit ... duorr. Seperti ada kembang api yang sengaja diletuskan ke dalam hatiku. Kata-kata Intan barusan sukses menyentil bagian hati yang menyimpan nama Arjuna. Bagian hati yan sudah lama ingin aku singkirkan, tapi belum juga bisa.
"Ayo pulang!" ajakku setelah selesai menali sepatu dan menepuk bagian belakang rok seragamku. Ini juga sebagai caraku mengalihkan pembicaraan yang bila dilanjut bisa membuat hatiku terkena sindrom patah hati tingkat tiga belas.
"Tapi bener ya, Ra. Kau jangan sampai suka pada Arjuna. Jangan nikung!" katanya memperingatkanku dengan telunjuk yang menggantung tepat hdi depan wajahku sambil mengumbar senyum ala pasta gigi andalannya.
"Iya, Intan sayang!" jawabku membuat intonasi sebiasa mungkin kemudian meraih lengannya untuk kugandeng.
***
Akting tadi siang benar-benar telah menyita pikiranku dan membuatku semakin bingung dengan dua rasa yang berkecamuk di dalam hatiku. Senang, tentu rasa itu hadir di sana. Namun rasa itu langsung menciut saat aku ingat wajah Intan beberapa bulan yang lalu saat dia bercerita mengenai cinta pertamanya.
Bila sudah merasa seperti ini, aku sangat ingin segera lulus dari SMA. Soalnya aku sudah lelah menyembunyikan perasaanku, lelah menahan rasa ingin memberi perhatian lebih pada Arjuna serta lelah membohongi Intan dan diriku sendiri kalau aku tidak menyukai laki-laki berjambul tipis itu. Kenapa sih kisah cintaku tak semanis film Dilan 1990?
Lagu Lingkaran miliki Astrid yang sedang mengalun dari hapeku berganti menjadi lagu Heaven yang aku gunakan sebagai nada dering panggilan. Degub jantungku langsung berpacu dengan cepat ketika enam huruf yang membentuk nama Arjuna tertera di layar.
"Assalamualaikum. Ada apa, Jun?"
"Walaikumsalam. Aku cuma mau minta maaf, Ra."
Kata-kata itu sukses membuat tiga kerutan bertengger di dahiku, "Untuk apa?"
"Untuk aktingku tadi. Maaf, kalau aku sudah keterlaluan."
"Oh, nggak apa-apa."
"Terima kasih."
Hening. Arjuna tidak lagi berbicara. Aku juga tidak tahu mau bertanya apa untuk mencairkan suasana. Otakku rasanya ikut membeku.
"Ra," panggil Arjuna setelah diam beberapa menit.
"Ada apa?" tanyaku dengan nada suara yang bergetar, semoga dia tak mendengar suara gugupku. Aku hanya tak sanggup mendengar panggilan Arjuna yang mengalun begitu lembut. Seingatku ia tidak pernah memanggilku dengan intonasi seperti itu.
"Aku senang bisa main drama denganmu."
Sekali lagi kembang api diletuskan ke dalam hatiku. Aku seperti terangkat ke udara setelah mendengar ucapan Arjuna. Namun sedetik kemudian langsung jatuh dengan bebas karena nama Intan yang tiba-tiba melintas di kepalaku.
"Ra, Aira?" panggil Arjuna lagi dari seberang telepon.
"Kau tadi bicara apa?"
"Bukan apa-apa, lupakan saja. Lagi apa?"
Maaf, batinku sedikit menyesal dengan pertanyaan yang membuatku terlihat seperti orang tak peka. Tapi bila aku menanggapi ucapan itu, bisa-bisa aku terbawa suasana. Dan itu bisa menyakiti hatiku lebih dalam lagi. "Lagi belajar, besok ada ulangan kimia."
"Oh, maaf kalau sudah mengganggu waktu belajarmu. Selamat belajar, Assalamualaikum."
"Waalaikumsallam," jawabku lalu mematikan sambungan telepon terlebih dulu.
Kau sama sekali tidak mengganggu belajarku, Jun. Aku sebenarnya masih sangat ingin bercengkerama panjang lebar denganmu. Namun logikaku harus kumenangkan, aku harus segera mengakhiri teleponmu atau hatiku akan tidak stabil lagi. Sehingga kembali berhasrat untuk memilikimu. Aku tidak mau harus bersaing dengan satu-satunya teman dekatku di SMA serta membuat persahabatanku dan Intan retak. Aku tidak mau sampai hal itu terjadi.
***
Jam bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak sepuluh menit yang lalu. Semua teman-teman sekelasku sudah pergi ke tujuan mereka masing-masing. Mungkin pulang ke rumah, nongkrong di kafe bersama teman atau pacar, mungkin juga ikut ekstrakurikuler lainnya. 'Kan kesibukan mereka beda-beda. Sedangkan aku masih duduk dengan nyaman di bangku kesayanganku sambil menatap papan tulis yang penuh dengan rumus-rumus trigonometri.
Tadi saat istirahat pertama, Bu Wahyu menyampaikan lewat microfon yang ada di ruang guru kalau sepulang sekolah anggota ekstra drama yang terpilih menjadi pemeran di drama 'Ande Ande Lumut Golek Garwa' harus berkumpul di ruang seni. Itulah mengapa aku enggan meninggalkan kelas, rasanya kakiku sangat berat dibuat untuk melangkah. Seperti sedang diikat dengan bola tolak peluru khusus untuk putra.
"Belum pulang, Ra?" tanya Elang yang baru saja masuk ke dalam kelas.
"Belum, masih mau latihan drama. Dari pagi kau baru masuk kelas sekarang?"
Dia mengangguk sambil menyampirkan tas ke pundak kirinya, "Ini gara-gara si Yola pakai acara nggak masuk. Aku jadi kena getahnya. Eh iya, ekstra drama mau nampilin apa buat pensi disnatalis?"
"Aku juga nggak tahu, Lang. Kalau itu tanya langsung aja ke Bu Wahyu. Kemungkin tahun ini ekstra drama nggak bisa jadi pengisi acara disnatalis. Soalnya pensinya juga mepet sama Festival Seni."
Elang kembali mengangguk, "Begitu ya. Eh, tadi ada tugas apa?"
"Biologi sama bahasa Inggris, tapi yang biologi udah dikumpulin."
"Oh, kau bahasa Inggris udah?"
"Memangnya kenapa kalau sudah?" aku pura-pura bodoh.
"Ya pinjemlah, Ra," ucapnya sambil mulai berjalan ke pintu keluar.
"Aira!" teriak Rina dan Siska dari luar kelas, membuatku sedikit bergidik karena suara melengking milik mereka.
"Ya Allah, malah pacaran," ucap Rina dengan kepala yang ia longokkan di ambang pintu. Sangat mirip dengan pelawak jaman dulu yang berperan sebagai maling kelas teri.
"Hei kalian, jangan berduaan di kelas nanti yang ketiga setan!" kini giliran Siska yang menyembulkan kepalanya di pintu.
"Setannya kalian!" ucap Elang dengan nada ketusnya kemudian melanjutkan langkahnya ke luar kelas yang sempat terhenti karena teriakan dua manusia ciptaan Tuhan Yang Maha Esa itu.
"Ya Allah, aku ini manusia bukan setan. Kau sunggu jahat, Lang!" ujar Siska berdialog drama seperti pemeran utama di film Ratapan Anak Tiri.
"Tapi kau lebih mirip setan dibanding manusia," kata Elang menanggapi, setelah sampai di ambang pintu laki-laki yang memiliki jabatan sebagai waketos itu menarik tali yang mengikat rambut milik Siska lalu mengacak-acaknya, "kaya setan 'kan?" ucap Elang lagi kemudian berlari untuk mengantisipasi amukan gadis itu.
"Elang!" pekik Siska sambil mengejar Elang yang sepertinya sudah berlari cukup jauh.
"Ayo Ra, Bu Wahyu sudah datang!"
Aku menarik nafas dalam lalu menghembuskannya secara kasar lewat mulut. Kemudian berdiri dari duduk nyamanku dan berjalan menuju ke arah Rina. Sambil berusaha menekan perasaanku yang mulai grogi karena akan kembali berakting seperti kemarin dengan Arjuna. "Profesional, Ra. Profesional!" ucapku dalam hati.
dhinioctv

















[ hello readers~ maaf yaaa chapter 9 ini nggak terlalu panjang. chap ini fokus ke Aysha dulu~ di chapter-chapter selanjutnya bakal adaaa konflik-konflik seru nan menegangkan, insyaallah bisa menarik kalian ke dalam cerita. >< happy reading guys and see you in the next chapter~ love you all. ]
Comment on chapter Baper atau Bukan?