Read More >>"> Code: Scarlet (Mission 5) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - Code: Scarlet
MENU
About Us  

Dua tahun lalu, sebuah insiden besar hampir menghancurkan seluruh wilayah Distrik 1—wilayah paling Timur dari Kota Natsushibara.

Tak lama setelah insiden tersebut, beberapa kelompok agen dari Distrik 3—Distrik Keamanan Khusus—melakukan pencarian. Mereka menyusuri puing-puing bangunan yang sudah tak berbentuk selama beberapa hari. Di bawah bangunan pusat distrik tersebut mereka menemukan sebuah laboraturium bawah tanah.

Setelah ditemukan beberapa data penelitian, bisa dipastikan jika Distrik 1 telah melakukan sebuah penelitian illegal terhadap anak-anak kecil. Mereka menemukan puluhan anak tewas di berbagai ruangan karena insiden tersebut. Masih ada yang selamat di antaranya dan langsung diamankan oleh orang-orang dari Distrik 3.                                

Laboraturium itu berukuran besar. Ada setidaknya lebih dari 10 ruang penelitian dengan luas yang berbeda-beda. Jika diasumsikan area laboraturium ini sendiri setengah dari wilayah Distrik 1. Berada di bawah tanah dan tersembunyi dari dunia luar.

Untuk menyelesaikan penyisiran tempat itu, mereka mulai mengirimkan agen lagi dari Distrik 3. Di antara orang-orang itu ada seorang anak berusia 14 tahun yang bergabung dalam sebuah tim pencarian. Walaupun masih seorang anak kecil, tapi dia sudah berada di dalam agensi tersebut sejak lama. Seorang anak laki-laki dengan rambut biru gelap dan mempunyai tatapan tenang itu bernama Ryuichi Aoi.

Sejak menginjakkan kaki ke dalam Lab 14 tempat mereka menjalankan tugas, rasa penasaran Ao mulai membakar semangat. Ingin sekali dia melihat ke semua penjuru tempat itu. Dan rasa penasarannya itu membuatnya terpisah dari anggota timnya yang lain.

Ao tau jika dirinya pasti akan membuat masalah untuk yang lainnya. Namun kakinya semakin melangkah ke dalam melewati lorong panjang di depannya itu. Dia juga tidak tau sejak kapan dirinya mulai terpisah dari yang lain. Sekarang ini dalam pikirannya hanya ingin tau apa yang akan ditemukannya di ujung lorong ini.

***

Berjalan cukup lama, yang dilihat Ao masihlah sebuah lorong yang panjang. Dia mulai merasa khawatir pada dirinya sendiri. Beberapa kali dia menoleh ke belakang dan ingin kembali, tapi rasa penasarannya terus membawanya melangkah maju hingga ujung dari lorong itu mulai terlihat. Ada rasa lega melihat sebuah pintu yang terbuka jauh di depannya. Namun sebuah perasaan takut mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Kakinya mulai gemetar untuk melangkah begitu melihat seseorang tengah duduk meringkuk di ambang pintu itu. 

Suasana mencekam mulai terasa saat orang itu mengangkat wajahnya. Ao tiba-tiba merasa lemas dan menyandarkan tubuhnya ke dinding. Orang yang ada di depannya itu menatap dengan tatapan kosong. Ao tau jika dia adalah salah seorang anak percobaan yang selamat, tapi ada yang berbeda. Tubuh Ao merasakan bahaya datang dari anak itu.

“Aku… harus pergi.” Dengan susah payah Ao menelan ludah.

                Begitu mulai tenang, dia berbalik dan berjalan perlahan dengan hati-hati. Meski begitu dia tau jika anak itu memperhatikannya. Klotak! Suara sesuatu terjatuh. Tanpa berpikir panjang Ao berlari sekuat tenaga. Berharap tidak diikuti, tapi justru sebaliknya. Suara derap kaki terdengar dengan jelas di belakangnya. Anak itu berlari mengejar Ao. Gawat, pikir Ao khawatir.

“Ao!” teriak seseorang. Di tengah kekhawatirannya itu Ao sedikit lega karena melihat Aki—ketua timnya—terlihat jauh di depannya. Namun dia juga tidak melupakan bahaya yang mengintainya.

“Aki-san berbahaya!” balas teriak Ao.

Aki yang mendengar hal tersebut segera menghampiri Ao dengan wajah serius. Dia mengeluarkan pistol dari holster di pinggangnya. Begitu melihat bayangan seseorang di belakang Ao, segera saja Aki membidik.

“Tunggu Aki-san! Dia-”

Belum selesai Ao berbicara. Sebuah bayangan bergerak dengan cepat dari samping kanannya. Ao terpental karena anak itu tiba-tiba menendangnya dengan cepat, membuatnya menghantam dinding lorong. Aki tak bergerak selama beberapa detik sampai Ao mengeram kesakitan. Dia tidak melihat gerakan anak itu.

“Ao!” Aki segera melesat maju. Dia mengeluarkan beberapa tembakan. Dengan gerakan cepat, anak itu menghindar dan melompat ke belakang. Aki segera membantu Ao berdiri. Namun tanpa diduga, anak tersebut sudah berada di hadapan mereka berdua. Kembali anak itu melancarkan sebuah tendangan, tapi kali ini berhasil dihindari.

Aki dan Ao bergerak ke kanan dan kiri. Tangan Ao mengelurakan sebuah pisau belati dari belakang pinggungnya. Dia mengarahkannya ke depan dan dalam posisi bersiap. Sementara Aki kembali membidik dengan pistol di tangannya itu.

“Dia… anak percobaan?” gumam Aki. Dia melihat anak itu berlumuran darah dan terluka. Saat mata anak itu terfokus ke arahnya, Aki juga merasakan sesuatu yang berbahaya datang dari anak itu. Dia berbeda, batinnya. Mata Aki melirik ke Ao. Ao yang juga melihat ke arah Aki mengangguk. Mereka berjalan mundur dengan tenang.

Anak percobaan itu masih terdiam. Tatapannya masih memperhatikan Aki yang perlahan-lahan melangkahkan kakinya ke belakang. Anak itu mulai bergerak. Dengan terhuyung-huyung dia melangkah maju. Tangan kanannya terangkat ke depan, lalu lampu di lorong itu tiba-tiba menyala redup dan menjadi terang. Terlalu terang sampai meledak dan membuat mereka terkejut dengan kejadian ini.

Ao yang tidak mengerti apa yang barusan terjadi jadi hilang konsentrasi sampai Aki berteriak padanya.

“Ao! Sadarlah!”

Saat Ao menoleh anak itu berdiri di hadapannya sambil membawa sebatang besi. Semua ini kesalahanku, pikir Ao begitu besi itu terarah padanya. Sebisa mungkin Ao mencoba bertahan, dia menangkisnya dengan kedua tangan dan melindungi kepalanya. Anak itu kembali mengayunkan besi, membuat belati Ao terpental jauh. Dia mengerutkan keningnya, mengeram kesakitan. Jika aku tidak pergi ke tempat ini tadi, pikirannya lagi. Kini dirinya dipenuhi dengan rasa bersalah.

“Hentikan…”  Terdengar suara yang begitu lirih.

Ao membuka mata lebar-lebar dan saat menatap ke depan dia melihat sosok Aki berdiri tepat di belakang anak itu. Mengangkat tangan tinggi-tinggi sambil menggenggam pisau miliknya. Diayunkan dengan kuat dan darah seketika memuncerat.

***

“Ichi… Ichi… Ichimiya!” teriak Ao setelah beberapa kali dia memanggil nama Ichimiya. Gadis itu tengah mengeram kesakitan akibat beberapa lempeng besi yang mengapitnya. Sementara dia menahan rasa sakit sembari mencoba melepaskan diri, Ao dan Azura mencoba menyerang seorang anak yang bisa mengendalikan kekuatan istimewanya.

“Apa gunanya agen-agen itu?” gerutu Azura. Dia beresembunyi di balik kotak kayu di gudang itu.

“Mereka hanya mengawasi pekerjaan kita saja. Jangan marah, itu memang tugas mereka,” jawab Ao. Dia mengarahkan pistolnya ke depan dan membidik. Namun ada keraguan saat melihat kondisi anak itu yang melindungi anak satunya. “Sial,” kesal Ao pada diri sendiri.

“Kau terlalu lembek Ichimiya!” teriak Azura.

“Aku tidak ingin dengar itu darimu!” Ichimiya berhasil melepaskan diri dan mendekati anak-anak itu. Dia mencoba untuk melumpuhkan anak-anak itu tanpa melukainya. Ichimiya yang seorang petarung jarak dekat menguasai banyak teknik bela diri. Beberapa pukulan dan tendangan berhasil dilancarkannya, tapi musuh di hadapannya masih bisa bertahan.

Beberapa tembakan terdengar. Ao mencoba membuat meleset besi-besi yang mengarah padanya dan Azura. Di lain sisi, Azura juga bisa menggunakan teknik bela diri, tapi dia tidak mahir dalam penyerangan. Teknik yang dikuasainya lebih ke pertahanan. Oleh karena itu dia lincah dalam hal mengindar dan menjaga dirinya agar tidak terluka.

Melihat kondisi mereka yang terlihat terdesak, Ichimiya mulai gelisah. Dia harus segera membuat anak itu pingsan agar misi ini selesai.

“Tidak ada pilihan lain.” Ichimiya melepas jaketnya. Dia berjalan mendekati anak yang bisa mengendalikan besi-besi di sekitarnya. Begitu tatapan mereka saling bertemu, dia segera merendah—hampir berjongkok—kemudian melesat maju dan berhenti di depan anak itu. Kaki kanan Ichimiya berayun dan menedang dengan kuat hingga anak itu terpental dan menabrak dinding.

Beberapa tetes darah membekas di lantai. Aku tidak pernah menggunakan kekuatan penuhku saat misi, pikir Ichimiya. Dalam semua misi yang sudah dia selesaikan dia belum pernah melawan anak percobaan yang bisa menggunakan kekuatan istimewanya. Kebanyakan mereka hanya melarikan diri atau tidak melawan saat ditangkap.

“Cepat selesaikan ini semua,” teriak Azura dari alat komunikasi.

“Aku tau.”

Ichimya kembali mendekati anak itu. Dia tertunduk ke lantai dan mencoba untuk berdiri dengan susah payah. Tangan kiri Ichimiya menariknya ke atas dan tangan kanan mengepal siap memukul. Tapi, tiba-tiba anak percobaan satunya—yang sedari tadi bersembunyi—mendorong Ichimiya dan berdiri di hadapannya.

“Jangan berani kau mendekatinya!” teriak anak itu. Seorang anak perempuan dengan rambut panjang. Terlihat jika dia gemetar ketakutan, bahkan air yang sudah berkumpul di sudut matanya sudah siap untuk menetes. “Menjauhlah!” teriaknya kembali. Ichimiya tiba-tiba melangkah mundur.

Dirinya dipenuhi keraguan. Kakinya terus melangkah mundur. Matanya terbelalak dan mulut Ichimiya menganga. Dia merasa tidak tega untuk menyakiti mereka.  Apa yang aku lakukan? Tanyanya pada diri sendiri.

Anak laki-laki yang dihajar Ichimiya tadi mengangkat tangannya menandakan dia menggunakan kemampuannya lagi. Ichimiya tersentak, membuatnya kembali berkonsentrasi pada musuhnya. Namun tanpa disadari sebuah lempengan besi tipis siap mengantam Ichimiya.

“Ichimiya!” teriak Ao. Dalam sekejap lempengan besi itu berhenti lalu jatuh. Ichimiya yang terkejut hanya bisa membelalakkan mata. Kurang satu senti saja benda itu mungkin akan menyayat tubuhnya. Saking kagetnya dia terpaku di tempat sampai akhirnya tertunduk lemas ke lantai.

“Apa… yang terjadi?” Ichimiya menoleh pelan. Dilihatnya anak laki-laki itu jatuh pingsan. Di lehernya menancap sebuah peluru bius. Sementara anak perempuan yang satunya mencoba membangunkan anak itu, dia tidak sadara jika dirinya juga sudah diincar.

Dari arah luar sebuah peluru bius melesat melewati lubang di dinding gudang. Peluru tersebut menancap di leher anak perempuan itu dan membuatnya jatuh pingsan juga.

How do you feel about this chapter?

0 0 1 0 0 0
Submit A Comment
Comments (11)
  • Ardhio_Prantoko

    Ide ceritanya boleh, saran aku coba ambil referensi dialog dan plotting ala western biar lebih greget

    Comment on chapter Mission 3
  • yulianaselfia97

    @dede_pratiwi thanks ya kak dah mampir

    Comment on chapter Mission 15
  • yulianaselfia97

    @yurriansan hmpir sama dibagina pertama

    Comment on chapter Mission 15
  • yurriansan

    Chapter 1 dan chapter 15, sma ya crtanya?

    Comment on chapter Mission 1
  • dede_pratiwi

    sukaa ceritanya kaya lagi nonton anime...udah kulike dan komen storymu. mampir dan like storyku juga ya. thankyouu

    Comment on chapter Mission 1
  • yulianaselfia97

    @Kang_Isa makasih ya udah mampir baca :)

    Comment on chapter Mission 4
  • Kang_Isa

    Waw! Ceritanya menarik sekali, seakan nonton anime. Bagus, lebih berani lagi penyampaian ceritanya. Setuju dengan komen sebelumnya, biar tambah greget rasa Action-nya. Good luck, ya.

    Comment on chapter Mission 4
  • yulianaselfia97

    Makasih udah mampir :)
    Makasih jga saran n kritiknya

    Comment on chapter Mission 1
  • RaniRstar

    Saya suka idenya. Tapi ... penyampaiannya kurang gereget. Ini cerita action jangan penyampaianannya ala sinetron. Harus lebih berani lagi. Semangat and good luck.

    Comment on chapter Mission 1
  • yulianaselfia97

    Thanks sarannya :)

    Comment on chapter Mission 2
Similar Tags
KETIKA SENYUM BERBUAH PERTEMANAN
326      254     3     
Short Story
Pertemanan ini bermula saat kampus membuka penerimaan mahasiswa baru dan mereka bertemu dari sebuah senyum Karin yang membuat Nestria mengagumi senyum manis itu.
IDENTITAS
12      12     0     
Short Story
Sosoknya sangat kuat, positif dan merupakan tipeku. Tapi, aku tak bisa membiarkannya masuk dan mengambilku. Aku masih tidak rela menjangkaunya dan membiarkan dirinya mengendalikanku.
Just a Cosmological Things
26      21     0     
Romance
Tentang mereka yang bersahabat, tentang dia yang jatuh hati pada sahabatnya sendiri, dan tentang dia yang patah hati karena sahabatnya. "Karena jatuh cinta tidak hanya butuh aku dan kamu. Semesta harus ikut mendukung"- Caramello tyra. "But, it just a cosmological things" - Reno Dhimas White.
Langit Jingga
71      51     0     
Romance
"Aku benci senja. Ia menyadarkanku akan kebohongan yang mengakar dalam yakin, rusak semua. Kini bagiku, cinta hanyalah bualan semata." - Nurlyra Annisa -
Secret’s
106      75     0     
Romance
Aku sangat senang ketika naskah drama yang aku buat telah memenangkan lomba di sekolah. Dan naskah itu telah ditunjuk sebagai naskah yang akan digunakan pada acara kelulusan tahun ini, di depan wali murid dan anak-anak lainnya. Aku sering menulis diary pribadi, cerpen dan novel yang bersambung lalu memamerkannya di blog pribadiku. Anehnya, tulisan-tulisan yang aku kembangkan setelah itu justru...
BlueBerry Froze
0      0     0     
Romance
Hari-hari kulalui hanya dengan menemaninya agar ia bisa bersatu dengan cintanya. Satu-satunya manusia yang paling baik dan peka, dan paling senang membolak-balikkan hatiku. Tapi merupakan manusia paling bodoh karena dia gatau siapa kecengan aku? Aku harus apa? . . . . Tapi semua berubah seketika, saat Madam Eleval memberiku sebotol minuman.
Bye, World
160      105     0     
Science Fiction
Zo'r The Series: Book 1 - Zo'r : The Teenagers Book 2 - Zo'r : The Scientist Zo'r The Series Special Story - Bye, World "Bagaimana ... jika takdir mereka berubah?" Mereka adalah Zo'r, kelompok pembunuh terhebat yang diincar oleh kepolisian seluruh dunia. Identitas mereka tidak bisa dipastikan, banyak yang bilang, mereka adalah mutan, juga ada yang bilang, mereka adalah sekumpul...
The Eye
9      9     0     
Action
Hidup sebagai anak yang mempunyai kemampuan khusus yang kata orang namanya indigo tentu ada suka dan dukanya. Sukanya adalah aku jadi bisa berhati-hati dalam bertindak dan dapat melihat apakah orang ini baik atau jahat dan dukanya adalah aku dapat melihat masa depan dan masa lalu orang tersebut bahkan aku dapat melihat kematian seseorang. Bahkan saat memilih calon suamipun itu sangat membantu. Ak...
Sisi Lain Tentang Cinta
10      10     0     
Mystery
Jika, bagian terindah dari tidur adalah mimpi, maka bagian terindah dari hidup adalah mati.
Bersua di Ayat 30 An-Nur
35      25     0     
Romance
Perjalanan hidup seorang wanita muslimah yang penuh liku-liku tantangan hidup yang tidak tahu kapan berakhir. Beberapa kali keimanannya di uji ketaqwaannya berdiri diantara kedengkian. Angin panas yang memaksa membuka kain cadarnya. Bagaimana jika seorang muslimah seperti Hawna yang sangat menjaga kehormatanya bertemu dengan pria seperti David yang notabenenya nakal, pemabuk, pezina, dan jauh...