Read More >>"> Sacrifice (Chapter 3 Awkwardness) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - Sacrifice
MENU
About Us  

Bel pulang sekolah telah berbunyi beberapa menit yang lalu.
Di dalam kelas XI Mipa 6 hanya tersisa Natasya, Nayla, dan Adit. Nayla tengah membereskan barang - barangnya dan bersiap untuk pulang. Sedangkan Natasya tengah mengajari Adit materi kimia yang tadi sudah ia rangkum.

"Sya gue pulang duluan ya?" ucap Nayla setelah memastikan tidak ada barangnya yang tertinggal.

"Oke hati - hati, Nay" balas Natasya sambil melambaikan tangannya ke Nayla.

"Aww aww awww" pekik Adit setelah menyadari lengan yang ia lipat di depan dada itu dicubit oleh Natasya.

"Lo tu merhatiin gue nggak sih?! Gue udah capek - capek jelasin dari tadi, eh elo nya malah bengong!"

"Kata siapa gue dari tadi bengong? Gue juga dari tadi merhatiin lo kali! Lo nya aja yang nggak peka!" balas Adit yang tengah mengelus - elus bekas cubitan Natasya yang memerah.

"Oh ya? Coba lo ulangin apa yang gue jelasin!"

"Nggak tau gue."

"Kok nggak tau sih?! Katanya dengerin gimana sih?!" sewot Natasya.

"Gue kan bilangnya merhatiin lo bukan dengerin lo!" ucap Adit kemudian memeletkan lidahnya dan langsung kabur sebelum 'dihajar' oleh Natasya.

"Adiiitttttttttttt!!!" teriak Natasya geram. Ia langsung keluar kelas untuk mengejar Adit dan akan langsung menghajarnya ketika sudah tertangkap.

Adit tertawa puas melihat Natasya berusaha keras mengejarnya namun tak kunjung bisa menangkapnya.

"Sini nggak lo! Adiittt!!"

"Elo yang kesini dong! Sekali - kali cewek yang ngejar cowok jangan cowok yang ngejar cewek terus." teriak Adit dengan berjalan mundur menghadap Natasya.

"Ngomong apaan sih lo nggak nyambung banget!"   teriaknya lagi kemudian mempercepat langkahnya.

Brukk..
"Haduh maaf kak maaf. Nggak sengaja, maaf." ucap Natasya spontan ketika dirinya tanpa sengaja bertabrakan dengan Fian di perbelokan koridor.

"Lo nggak apa - apa kan?" tanya Fian sambil membantu Natasya berdiri.

"Iya nggak apa - apa kok. Maaf ya kak tadi bener - bener ga sengaja." ucapnya dengan raut muka merasa bersalah.

"Udah nggak apa - apa. Mana ada tabrakan disengaja." sahut Fian santai sambil ternyum.

"Ini apaan sih malah pada drama nggak jelas! Sekalian aja lo pingsan biar sekalian digendong sama pangeran kodok noh!" sewot Adit yang kini menghampiri keberadaan Fian dan Natasya karena dirinya merasa dilupakan oleh Natasya.

"Aww aduhhh duhh!" pekik Adit ketika kaki kanannya diinjak Natasya sekaligus pinggangnya dicubit Natasya secara serentak.

"Maaf ya kak. Omongannya emang ngga pernah bener jadi maklumin aja." kata Natasya sambil meringis.

"Ihh kok jadi gue sih? Omongan gue selalu bener kali." potong Adit.

"Awww awww! Sakit aish!" pekiknya lagi ketika pinggangnya terkena cubitan maut untuk ke sekian kalinya.

Fian hanya tertawa. "Oh ya, sepeda kamu udah jadi. Tinggal diambil aja. Tapi sorry gue nggak bisa nganterin. Habis ini gue harus ketemu kepsek soalnya."

"Oh ya? Makasih kak. Harusnya aku yang minta maaf karena udah ngrepotin kakak."

"Engga ga repot kok. Santai aja. Ya udah kalo gitu gue duluan ya. Ada keperluan."

"Oh iya iya. Silahkan. Sekali lagi makasih."

"Siap." balas Fian kemudian berlalu meninggalkan Natasya dan Adit yang melipat kedua tangannya.

"Nah mau lari kemana lo!" kata Natasya sambil menjewer telinga Adit dan tertawa puas. Kemudian 'menuntun' telinga Adit menuju kelas.

"Aww aww! Ih elo mah lama - lama jadi kek emak - emak deh! Hobinya ngehukum gue mulu!"

"Bodo! Ogah gue jadi emak lo! Lama - lama mati muda gue!"

"Eits ya jangan dong. Entar gue nggak punya emak lagi, mama kan dah nggak ada, masak lo ikut - ikutan pergi. Gue ama siapa dong?" katanya dengan memoloskan wajahnya.

"Aishh kurang ajar lo!"

????????????

"Beneran lo nggak mau gue anter dulu?"

"Enggak gue udah gede kali."

"Yakin?"

"Yakin udah ah buruan cabut. Entar malah elo telat lagi."

"Gue mah udah biasa telat kali. Lebih tepatnya nelat sih."

"Yeeee, elo mah emang nggak pernah niat jadi orang bener."

"Gitu ya? Makanya bikin gue bener dong."

"Ih apaan. Udah buruan sanaaaaaa udah pada kumpul noh di lapangan basket!" ucap Natasya sambil mendorong punggung Adit yang tengah melipatkan kedua lengannya.

Adit membalikkan badannya sehingga keduanya bertemu. Tubuh mereka tanpa jarak. Seolah - olah waktu dibiarkan berhenti begitu saja. Membuat keduanya saling diam. Hening beberapa saat.

Uhuk uhuk.. Natasya terbatuk, mencoba memecahkan suasana canggung ini. "Gu .. Gue pulang duluan. Lo.. Lo buruan latihan sana!" katanya sedikit gugup.

Adit hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal kemudian mengangguk dan menuju lapangan. Baru beberapa langkah Adit menengok ke belakang begitu pula Natasya, pandangan keduanya saling bertemu. Natasya buru - buru mengalihkan pandangan dan berlari menuju gerbang. Adit tersenyum melihat tingkah Natasya.

"Aduh bego bego bego! Kenapa sih gue bego banget!" rutuk Natasya sambil menepuk - nepuk dahinya. "Aduhh kenapa gue jadi deg deg an gini sih?" rutuknya lagi sambil memegang dadanya.

"Sama. Kenapa kita berdua jadi deg deg an gini ya." kata Adit dengan santainya. Natasya terlonjak, entah datang darimana tiba - tiba dia sudah berada di depan Natasya sambil berjalan mundur.

"Setan lo! Ngagetin gue aja!"

"Haha.. Lo masih deg deg an nggak? Kalo gue sih enggak." ucapnya bohong. Padahal dirinya masih deg deg an. "Coba deh." lanjutnya kemudian berdiri di hadapan Natasya sedekat tadi. Membuat Natasya bergeming.

1 detik.. 2 detik.. 3 detik.. 4 detik.. "Ish apaan sih lo?!" berontak Natasya, mendorong tubuh Adit kemudian pergi meninggalkannya. Adit tak mengejarnya. Ia harus mengontrol dirinya terlebih dahulu. Lagi - lagi dia tersenyum.

????????????

"Aduhh kenapa sih gue? Kok jadi nggak konsen gini. Fokus Tasya fokus! Lo harus fokus! Inget besok lo ulangan okey!" ucap Natasya berusaha menyemangati dirinya sendiri.

Tak seperti biasanya dia seperti ini. Semenjak kejadian tadi siang ia menjadi kurang fokus. Pikirannya selalu diisi dengan Adit yang selalu datang tanpa ia undang.

Hari - harinya selalu ia lewati bersama Adit sejak dulu. Dan mereka biasa - biasa saja. Tak ada yang spesial. Tapi mengapa kini ia merasa sedikit aneh ketika berada sangat dekat dengannya? Deg deg an tidak keruan. Bingung sendiri mau berbuat apa hingga membuatnya hanya mampu bergeming.

Drt..drtt.. Handphonenya yang tergeletak di atas nakas itu bergetar. Ia berjalan menuju nakas untuk mengambil handphonenya. Betapa terkejutnya dia ketika melihat Adit melakukan panggilan video. Langsung dilemparnya handphone itu di atas kasur. Ia kemudian berjalan mondar - mandir kesana kemari sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

"Stupid! Mau ngapain sih tu anak!"

Sebuah cahaya masuk menerobos jendela kamarnya. Natasya menghampiri cahaya itu dengan ragu.

"Woii Nat! Kok nggak lo angkat sih?" teriak sosok cowok yang tengah berdiri di depan jendela apartemen (sebelah ruko Natasya) dengan tangan membawa senter.

Natasya diam tak menjawab. Bingung mencari alasan.

"Natasyakuu? Woii! Lo kenapa sih?"

"Ngapain sih lo?! Gue lagi belajar! Ganggu tau nggak?!"

"Nah pas banget tuh. Kita belajar bareng yukk!! Gue bosen nih disini!"

"Ogah! Gue ngantuk mau tidur!" ucapnya kemudian langsung menutup jendelanya dengan gorden.

"Yee kok gitu sih? Woi Nat?! Ah nggak asik lo!" teriak Adit yang jelas - jelas Natasya masih bisa mendengarnya.

Ruko dan apartemen tempat tinggal Adit hanya berjarak sekitar 1 meter saja. Adit tinggal disana sendirian. Ia memutuskan untuk tinggal sendiri setelah ayahnya menikah lagi. Alasannya, ia tak ingin serumah dengan mama tirinya juga karena ingin berdekatan dengan Natasya.

Semenjak Natasya pindah ke ruko itu, Adit menjadi tambah kesepian. Ditinggal mamanya juga ditinggal Natasya. Ditambah lagi ayahnya menikah lagi, menambah kesumpekannya.

Tinggal dirumah ayahnya sebenarnya sama saja dia tinggal sendiri. Tak ada orang terdekat yang membuatnya nyaman. Berbeda jika ia tinggal di apartemen. Jika ia merasa kesepian ia tinggal berteriak memanggil Natasya dan semua rasa kesepiannya akan hilang seketika.

My Ghost Adit : Nat! Gue laper nih! Anterin gue makan yuk! Sekalian deh bawa buku - buku lo. Entar belajar disana aja.

Natasya : mager_-

My Ghost Adit : Gue gendong gimana?

Natasya : tambah magerrrrrr

My Ghost Adit : ayoo lahh!! lo mau tanggung jawab kalo gue mati kelaparan?

Natasya : sejak kpn sih lo jadi ngeselin gini?

My Ghost Adit : berarti dulu enggak dong?

Natasya : tapi sekarang ngeselinnya tingkat akut!!!

My Ghost Adit : ish parah banget gue

Natasya : _-

My Ghost Adit : pengin gue bujuk - bujuk ya? biasanya juga langsung mau kalo gue ajak. Oke deh gue bujuk nih.. Natasya sayangg anterin dongggg

Natasya : jijik! makin lama makin aneh deh lo ah! kezel gue. ya udah buruan.

My Ghost Adit : nah gitu dong! jadi makin sayang deh

Natasya : apaan sih lo sayang sayang jijik gue

Di seberang sana, Adit tersenyum. Ingin dia membalas "gue beneran sayang sama lo" tapi ia mendeletenya menggantinya dengan "gue bercanda kali nggak usah baper"

Natasya : bodo'.. tunggu gue 10 menit lagi!

My Ghost Adit : nggak usah dandan, biasa aja

Natasya is typing..

My Ghost Adit : 10 menit dimulai

"Aish ni bocah!" desis Natasya, mendelete pesan yang belum sempat ia kirimkan.

????????????

Angin malam menusuk tulang rusuk. Cahaya bulan terang benderang. Sedang bulan purnama saat ini.

Natasya mengusap - usap kedua lengannya. Dingin menyeruak lengannya yang tak tertutupi kain itu. Ia hanya memakai kaos lengan pendek dan juga rok yang hanya sebatas lututnya. Rambut sebahunya yang sengaja ia gerai tertiup angin.

Adit menengok gadis yang tengah berjalan bersamanya itu. "Kalo tau dingin kenapa nggak pake jaket?"

Natasya berhenti berjalan. "Lo sendiri kenapa nggak pake jaket?"

Adit ikut berhenti. Ia menghampiri Natasya yang berada beberapa langkah di belakangnya. Kemudian merubah posisi tangannya yang semula ia masukkan ke saku celananya kini ia lipat di depan dada. "Gue lebih kebal dari lo"

Gadis itu memutar bola matanya. "Terserah lo deh!" ucapnya lalu berjalan meninggalkan Adit.

"Apa perlu gue lepas baju gue dan gue pakein ke lo?" kata Adit sambil berusaha menyejajari langkah Natasya.

"Dasar mesum!"

????????????

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (1)
  • dede_pratiwi

    cant wait next chapter

    Comment on chapter Prolog
Similar Tags
THE HISTORY OF PIPERALES
57      43     0     
Fantasy
Kinan, seorang gadis tujuh belas tahun, terkejut ketika ia melihat gambar aneh pada pergelangan tangan kirinya. Mirip sebuah tato namun lebih menakutkan daripada tato. Ia mencoba menyembunyikan tato itu dari penglihatan kakaknya selama ia mencari tahu asal usul tato itu lewat sahabatnya, Brandon. Penelusurannya itu membuat Kinan bertemu dengan manusia bermuka datar bernama Pradipta. Walaupun begi...
Lost you in Netherland
10      10     0     
Short Story
Kali ini aku akan benar - benar kehilangannya !!
Dari Sahabat Menjadi...
336      252     4     
Short Story
Sebuah cerita persahabatan dua orang yang akhirnya menjadi cinta❤
Aku Sakit
132      84     0     
Romance
Siapa sangka, Bella Natalia, cewek remaja introvert dan tidak memiliki banyak teman di sekolah mendadak populer setelah mengikuti audisi menyanyi di sekolahnya. Bahkah, seorang Dani Christian, cowok terpopuler di Bernadette tertarik pada Bella. Namun, bagaimana dengan Vanessa, sahabat terbaik Bella yang lebih dulu naksir cowok itu? Bella tidak ingin kehilangan sahabat terbaik, tapi dia sendiri...
Replika
47      35     0     
Romance
Ada orang pernah berkata bahwa di dunia ini ada 7 manusia yang mirip satu sama lain? Ada juga yang pernah berkata tentang adanya reinkarnasi? Aku hanya berharap salah satu hal itu terjadi padamu
Phased
171      120     0     
Romance
Belva adalah gadis lugu yang mudah jatuh cinta, bukan, bukan karena ia gadis yang bodoh dan baperan. Dia adalah gadis yang menyimpan banyak luka, rahasia, dan tangisan. Dia jatuh cinta bukan juga karena perasaan, tetapi karena ia rindu terhadap sosok Arga, abangnya yang sudah meninggal, hingga berusaha mencari-cari sosok Arga pada laki-laki lain. Obsesi dan trauma telah menutup hatinya, dan mengu...
Perahu Waktu
12      12     0     
Short Story
Ketika waktu mengajari tentang bagaimana hidup diantara kubangan sebuah rindu. Maka perahu kehidupanku akan mengajari akan sabar untuk menghempas sebuah kata yang bernama rindu
Nona Tak Terlihat
17      16     0     
Short Story
Ada seorang gadis yang selalu sendiri, tak ada teman disampingnya. Keberadaannya tak pernah dihiraukan oleh sekitar. Ia terus menyembunyikan diri dalam keramaian. Usahanya berkali-kali mendekati temannya namun sebanyak itu pula ia gagal. Kesepian dan ksedihan selalu menyelimuti hari-harinya. Nona tak terlihat, itulah sebutan yang melekat untuknya. Dan tak ada satupun yang memahami keinginan dan k...
Today, I Come Back!
90      61     0     
Romance
Alice gadis lembut yang sebelumnya menutup hatinya karena disakiti oleh mantan kekasihnya Alex. Ia menganggap semua lelaki demikian sama tiada bedanya. Ia menganggap semua lelaki tak pernah peka dan merutuki kisah cintanya yang selalu tragis, ketika Alice berjuang sendiri untuk membalut lukanya, Robin datang dan membawa sejuta harapan baru kepada Alice. Namun, keduanya tidak berjalan mulus. Enam ...
Perihal Waktu
10      10     0     
Short Story
"Semesta tidak pernah salah mengatur sebuah pertemuan antara Kau dan Aku"