Read More >>"> Dimensi Kupu-kupu (20. Toko Roti) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - Dimensi Kupu-kupu
MENU
About Us  

Hari ini adalah hari keberangkatan Devina ke Solo. Sejak pagi aku sengaja tidak masuk sekolah karena sudah janji ke sahabatku itu untuk mengantarnya ke Bandara. Sejak tadi pula, dari berangkat bersama dari rumah Devina hingga kini sampai di Bandara tanganku tak pernah lepas dari dia.

Semakin sesak saja ketika tak terasa kami sudah sampai di ujung jalan. Gerbang terminal domestik itu sudah ada di depan mata kami. Waktu keberangkatan Devina tinggal satu jam lagi. Sahabatku itu menggenggam tanganku erat, sesekali juga menatap nelangsa Kakak laki-lakinya yang juga akan dia tinggalkan.

“Vin kalo udah nyampe Solo kabarin ya!” pintaku, Devina mengangguk. Tapi kemudian gadis itu menatapku dengan mata berkaca-kaca.

“Jangan nangis Vin, gue nangis juga nih nanti.”

Devina memelukku ditambah dia yang semakin terisak-isak. Aku mendapati Bang Denial juga sedang dipeluk dua orang tuanya. Mama Devina juga menangis. Meskipun perpisahan kami hanya sebatas Depok-Solo, tapi aku dapat merasakan rasanya ditinggal keluarga menetap di tempat yang jauh. Tapi kulihat Bang Denial masih mampu menjaga emosinya sehingga dia tidak menangis.

Akhirnya tangisku pecah juga. Suara isak tangisku dan Devina yang mendominasi.

Jam keberangkatan mereka ke Solo semakin dekat, rasanya belum rela menjalani LDR dengan sahabatku sejak SMP itu. Devina melepaskan pelukannya, beralih memeluk Kakak laki-lakinya sama erat.

“Jangan nakal disana!” ujar Bang Denial yang semakin membuat devina terisak dalam. “Nanti kalo libur, Abang nyusul ke Solo.”

“Bang Denial juga baik-baik disini, jangan nakal juga biar cepet wisuda,” ucap Devina terbata-bata disela tangisannya.

Aku menyaksikan adegan mereka dengan airmata meleleh-leleh, pasti rasanya berat kalau harus berpisah dengan saudara. Meskipun waktu di rumah sering merasa kesal atau bahkan sering bertengkar, aku pernah merasakan ditinggal Kak Ratih waktu dia harus menghabiskan banyak waktunya di kos-kosan dibanding di rumah.

Setelah mengucapkan banyak kalimat perpisahan dengan Kakaknya yang makin membuat mata sahabatku itu sembab, Devina memelukku lagi untuk terakhir kalinya. “Raras sayang Devina,” ucapku pelan.

“Too,” balas Devina sama pelannya. “Kalau ada yang nyakitin lo bilang ke gue ya Ras, jangan dipendem sendiri.” Itu kalimat terakhir dari Devina sebelum melepaskan pelukannya. Aku menjawabnya dengan anggukan pelan dengan senyum yang kupaksakan di antara tangisku yang masih belum bisa berhenti.

Devina mengambil koper kemudian berjalan ke dalam gerbang diapit dua orangtuanya. Sampai di dalam, gadis itu melambaikan tangan untukku dan Bang Denial yang masih berdiri kaku di tempat semula. Aku membalasnya, Bang Denial juga.

Hingga punggung ketiga orang itu lenyap dari pandangan, aku dan Kakak laki-laki Devina itu memutuskan untuk pulang. Aku nebeng mobil Bang Denial karena tadi kami berlima hanya membawa 1 mobil.

Hidupku di dimensi kali ini sungguh berbeda, aku tidak pernah menyangka kalau Devina akan dipindahkan ke Solo. Mungkin keputusan itu sudah dibuat Ayah Devina sejak dulu, tapi belum pernah terealisasikan. Tadi pagi aku juga dapat kabar dari Mama kalau Om Herman meninggal. Aku cukup pucat lagi saat mendengar bahwa laki-laki paruh baya teman ayah itu meninggal di waktu yang sama.

Mobil Bang Denial melaju di tengah padatnya jalan raya, aku yang duduk di sampingnya itu memperhatikan jalanan depan dengan seksama, sesekali juga mengobrol dengan calon dokter itu tentang sekolahku dan Devina. Hingga mobil berhenti di depan sebuah toko roti modern, aku turun dan mengucapkan terima kasih pada Bang Denial. Laki-laki terseyum sebelum mobilnya kembali masuk ke arus jalanan yang masih padat.

Kutatap toko roti mewah itu lama, aku memang sengaja minta diturunkan di toko roti milik Tante Riska. Niatku kesini adalah untuk membeli kue putu ayu kesukaanku dan Kak Ratih, setelah menyaksikan perpisahan Devina dan Bang Denial tadi, perasaanku jadi sensitif. Mungkin Devina meninggalkan salah satu sifatnya disini, yaitu mudah baper.

Kakiku mulai melangkah masuk ke toko roti milik tante Riska. Toko masih sepi, kemungkinan baru saja buka karena Tante Riska juga ikut melayat. sesekali aroma kayu manis menggelitik hidung. Kususuri satu-persatu rak tempat kue tradisional disana, roti buatan Mamaku juga ikut terekspos cantik. Setelah mengambil setidaknya 10 kue putu ayu kesukaanku dan meletakkannya ke keranjang, aku berniat membayar ke kasir sebelum seruan tante Riska yang datang dari pintu dapur menghentikan langkahku.

“Ras, main dulu sini! Tante pingin ngobrol sama kamu,” ucap wanita itu sambil berjalan menghampiriku. Aku tersenyum canggung.

“Ehm, iya Tan. Tante mau ngobrol apa?” tanyaku sambil mengikuti langkah Tante Riska yang menuntunku untuk duduk di salah satu kursi pengunjung disana.

“Kamu dari mana Ras?” tanya wanita itu sambil memperhatikan penampilanku yang tidak memakai seragam padahal bukan hari libur.

“Raras dari bandara Tan, ikut nganter temen pindahan,” jawabku. Kemudian aku mendapati seoarang pelayan perempuan datang ke meja kami dengan membawa dua gelas minuman serta sepiring kukis. Aku mengucapkan terima kasi sambil tersenyum.

“Ooh Tante kira kamu mana, soalnya rapi banget gitu.” Tante Riska tersenyum “Ayo diminum, mumpung masih dingin.”

Aku tertawa kecil lantas mengembil minuman dingin dari meja kemudian meminumnya. Rasa segar menjalari kerongkonganku dengan cepat.

“Gini Ras, sebenernya Tante itu penasaran sama Arja. Dia itu pulang maleeeem terus, jarang di rumah. Kalau ditanya bilangnya ‘urusan kampus Ma, biasalah BEM’ gitu terus jawabannya. Nah kamu kan sering keluar bareng Arja, jadi Tante mau nanya.” Tante Riska menatapku sebentar. “Bentar deh, Tante kasih liat sama kamu.”

Aku menelan ludah. Perasaanku seperti sedang ketahuan menghamili anak orang, apa-apaan ini? Aku kan perempuan. Kenapa Tante Riska membicarakan mengenai anaknya yang selalu pulang malam kepadaku? Laki-laki itu juga, kenapa tidak bilang sedang ada proyek Pegiat Biosintetiknya.

Tante Riska kembali dengan membawa ponsel pintar di tangannya, lantas menunjukanku sesuatu yang kontan membuatku menganga kemudian.

“Tante itu bingung, nggak tau apa-apa, Arja juga susah diajak ngobrol, tiba-tiba teman Tante kirimin kaya gitu. Itu beneran Ras?”

Aku memperhatikan screenshot artikel yang dikirim teman Tante Riska itu dengan seksama. Itu artikel tentang proyek pegiat biosintetik Kak Arja yang telah berhasil mendegradasi 50% PET di Bantar Gebang juga keberhasilannya mengembangbiakkan ideonella sakaiensis dengan baik.

Setelah sekian lama, akhirnya permasalahan plastik yang butuh jutaan tahun untuk melebur akhirnya mendapatkan jalan keluar. Itu kalimat terakhir artikel dengan foto Kak Arja beserta 7 orang temannya. Kak Arja berhasil. Aku menalan ludah susah payah, berkali-kali laki-laki itu berhasil, tapi apa kabar denganku?

“Kak Arja nggak bilang ke Tante Riska?” tanyaku setelah puas memperhatikan keberhasilan laki-laki ituu berulang kali.

“Duh, jangankan bilang yang ginian Ras, ngobrol aja kalau papasan di rumah aja. Itupun dia cuma bilang pagi Ma! Sore Ma!

Aku tertawa mendengar curhatan Tante Riska yang galau karena ditinggal anaknya yang sibuk dengan proyek. Lalu dengan senang hati kuceritakan semuanya tentang Kak Arja ke Tante Riska. Sesekali wanita itu menganga tidak percaya aktu kubilang kalau kerjaan anaknya gorek-gorek sampah di Bantar Gebang.

Respon Mama Kak Arja tentunya seperti yang kubayangkan, dari rautnya aku mendapati kalau dia bangga. Kemudian setelah aku berhasil menceritakan keseluruhannya, wanita itu dengan gesit menelpon suaminya heboh. Aku menunggu kegiatan telpon-menelpon itu sambil memakan kukis yang disuguhkan pelayan tadi.

“Ohiya Raras.” Suara Tante Riska yang tiba-tiba itu hampir membuatku tersedak.

“Iya?”

“Kemarin Arja ngirim gambar ke Tante, keren banget gambarnya. Nih! Jago deh kamu.” Wanita itu menunjukanku sebuah roomchat-nya dengan Kak Arja.

Arja

Skillnya 10 20 tuh sama Mama

Riska

Waduh, itu lukisan siapa Ja?

Arja

Raras, Ma

Riska

Enggak paham sama gambarnya, itu lukisan apa?

Arja

Itu teori chaos, kata Raras.

Riska

Chaos?

Arja

Iya. Teori kekacauan. Itu mungkin ngelukisnya pake mood buruk

Riska

Bisa gitu ya, bagus. Mama mah nggak ada apa-apanya.

Aku mengembalikan ponsel pintar Tante Riska dengan senyuman tertahan. Itu foto lukisanku yang diam-diam difoto Kak Arja tanpa sepengetahuanku. Lukisan abstrak  yang kuberi nama chaos karena isinya kekacauan, seperti yang sedang kualami saat itu.

Menit demi menit kemudian, aku menghabiskan waktuku untuk mengobrol panjang dengan Tante Riska. Hingga jarum jam menunjukkan pukul 3 sore, aku baru pulang dari sana dengan membawa sekantong kue putu ayu gratisan.

 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Help Me
169      112     0     
Inspirational
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Jika manusia berfikir bahwa dunia adalah kehidupan yang mampu memberi kebahagiaan terbesar hingga mereka bangun pagi di fikirannya hanya memikirkan dunia yang bersifat fana. Padahal nyatanya kehidupan yang sesungguhnya yang menentukan kebahagiaan serta kepedihan yakni di akhirat. Semua di adili seadil adilnya oleh sang maha pencipta. Allah swt. Pe...
Babak-Babak Drama
13      13     0     
Inspirational
Diana Kuswantari nggak suka drama, karena seumur hidupnya cuma diisi itu. Ibu, Ayah, orang-orang yang cuma singgah sebentar di hidupnya, lantas pergi tanpa menoleh ke belakang. Sampai menginjak kelas 3 SMP, nggak ada satu pun orang yang mau repot-repot peduli padanya. Dian jadi belajar, kepedulian itu non-sense... Tidak penting! Kehidupan Dian jungkir balik saat Harumi Anggita, cewek sempurna...
Too Sassy For You
65      52     0     
Fantasy
Sebuah kejadian di pub membuat Nabila ditarik ke masa depan dan terlibat skandal sengan artis yang sedang berada pada puncak kariernya. Sebenarnya apa alasan yang membuat Adilla ditarik ke masa depan? Apakah semua ini berhubungan dengan kematian ayahnya?
Last Game (Permainan Terakhir)
12      12     0     
Fan Fiction
Last Game (Permainan Terakhir)
A Ghost Diary
123      94     0     
Fantasy
Damar tidak mengerti, apakah ini kutukan atau kesialan yang sedang menimpa hidupnya. Bagaimana tidak, hari-harinya yang memang berantakan menjadi semakin berantakan hanya karena sebuah buku diary. Semua bermula pada suatu hari, Damar mendapat hukuman dari Pak Rizal untuk membersihkan gudang sekolah. Tanpa sengaja, Damar menemukan sebuah buku diary di tumpukkan buku-buku bekas dalam gudang. Haru...
Simbiosis Mutualisme
13      13     0     
Romance
Jika boleh diibaratkan, Billie bukanlah kobaran api yang tengah menyala-nyala, melainkan sebuah ruang hampa yang tersembunyi di sekitar perapian. Billie adalah si pemberi racun tanpa penawar, perusak makna dan pembangkang rasa.
Cinta Untuk Raina
168      114     0     
Romance
Bertahan atau melepaskan? Pilihan yang sulit untuk Raina sebenarnya karna bertahan dengan dengan Adit tapi hati Adit sudah bukan milik Raina lagi hanya akan menyakitinya, sedangkan melepaskan Raina harus rela kehilangan sosok Adit di hidupnya yang selama ini menemaninya mengarungi cinta selama hampir 2 tahun dan perjalanan cinta itu bukan hal mudah yang di lalui Raina dan Adit karena cinta merek...
Aku dan Dunia
16      16     0     
Short Story
Apakah kamu tau benda semacam roller coaster? jika kamu bisa mendefinisikan perasaan macam apa yang aku alami. Mungkin roller coaster perumpamaan yang tepat. Aku bisa menebak bahwa didepan sana ketinggian menungguku untuk ku lintasi, aku bahkan sangat mudah menebak bahwa didepan sana juga aku akan melawan arus angin. Tetapi daripada semua itu, aku tidak bisa menebak bagaimana seharusnya sikapku m...
Adelaide - He Will Back Soon
69      43     0     
Romance
Kisah tentang kesalah pahaman yang mengitari tiga insan manusia.
Midnight Sky
63      51     0     
Mystery
Semuanya berubah semenjak kelompok itu muncul. Midnight Sky, sebenarnya siapa dirimu?