Read More >>"> Heartache (8. Epilog) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - Heartache
MENU
About Us  

Aku merindukanmu.

Dua kata yang selama seminggu ini selalu menghiasi pikiranku. Rasa sakit akan kehilangan dan rasa bersalahku padamu terus menghantui mimpiku. Tiap malam kuterbangun mendengar kau memanggil namaku. Kupikir mungkin aku terkena kutukan karena menyimpan sebagian tubuhmu hingga membuatmu tak tenang disana tapi, ketika hal itu terjadi dan kupandangi wajahmu, senyumanmu langsung membuatku kembali tenang.

Sakit hati...

Ya, penyakit yang kuderita sekarang adalah itu. Karena dirimu, aku masih suka berbohong di depan rakyat desaku. Karena dirimu, hidupku jadi tak menentu. Karena dirimu, aku merasa menyesal. Kenapa saat kau ada aku tidak pernah memperlakukanmu dengan baik? Kenapa saat kau menangis aku tidak pernah ada disampingmu? Kenapa saat kau menyatakan cintamu aku tak membalasnya? Kenapa saat kita bertengkar aku berbohong padamu? Melihatmu pergi meninggalkanku, kenapa aku tidak menahanmu? Kenapa...kenapa aku baru menyadari itu semua setelah kau mati?!

Praang!

Tak sengaja kulemparkan gelas sake yang sedari tadi kupegang ke halaman belakang kamarku hingga membuatnya pecah. Aku tertegun memandangi pecahan-pecahan gelas sake milikku di atas rerumputan hijau. Mungkin karena sudah larut malam tidak ada satupun orang yang menampakkan batang hidungnya dengan wajah khawatir. Kini, kembali kulanjutkan perenunganku yang sudah berjalan selama beberapa jam.

“Kenangan ini...kenangan yang sudah kita buat, sekarang sudah berubah menjadi air mata.” aku tak sadar jika mulutku mulai bersuara.

“Dan sekarang kau sudah tidak ada lagi.” rasa sakit itu kembali bermunculan di rongga dadaku.

“Aku harap waktu bisa diputar kembali agar aku bisa merubah semuanya.” ya...kuharap itu bisa terjadi.

“Kau tahu? Sakit rasanya mengingatmu tapi di waktu yang bersamaan rasanya sulit untuk melupakanmu.” kutertunduk lesu mengakui hal itu.

“Sekarang aku sedang berusaha untuk bangkit dari keterpurukan karena aku tidak ingin membayangkan wajahmu yang menangis melihatku lemah seperti ini.” aku berusaha menghibur jiwaku yang sepi.

“Ah, benar. Kau tahu, Krisan?” tanyaku yang tak dijawab olehnya. “Walau orang lain mengatakan aku harus mencari penggantimu tapi aku tidak akan mencarinya karena aku tidak bisa. Mengapa? Karena aku milikmu sekarang.” aku mulai membayangkan wajah tersipu malunya yang imut itu.

“Ck! Jangan salahkan aku jika aku tidak ada mengatakan padamu, aku mencintaimu. Karena untuk saat ini aku hanya ingin mengatakan...”

Bahwa aku...

“Kau punya tempat tinggal?”

“Ti-tidak.” jawaban yang keluar dari mulutnya mendapat balasan yang makin tajam dari mata pemimpin klan Date. ”Uh, Masamune-sama—”

“Bagaimana jika kau tinggal disini?”

“Apa?!” teriak Krisan dan Koujiro bersamaan.

“Kenapa kau ikut berteriak?” pertanyaan itu ditujukan kepada tangan kanannya.

“Bu-bukan begitu..hanya saja—”

“Anda serius?”

“Of course I’m serious! Kau bisa tinggal disi—”

“Untuk sementara?”

“Mmm...jika kau ingin tinggal untuk sementara tidak masalah.”

“Dan asal Anda tau, Krisan sangat mencintai Anda.”

“Masamune..sama..” panggil Krisan sedih.

“Masamune-sama, bangunlah!! Ayo buka matamu!!! Anda bisa mendengarku, kan?!”

“Selamat makan!”

“Maafkan aku! Sungguh maafkan aku!”

“Harum.”

“Uh?”

“Baumu harum seperti bunga krisan.”

“Maaf..membuat kalian-duh ribet sekali..menunggu lama, hehehe.”

“Padahal...padahal aku sudah mempercayaimu sejak pertama kita bertemu...”

“Aku mencintaimu, Masamune-sama.”

Kutatap wajahnya yang tersenyum dengan mata tertutupnya seolah-olah sedang memandangiku.

“Aku merindukanmu.”

 

END

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Candra
458      337     3     
Short Story
Pertemuan tidak terduga dimalam itu membuat Candra dan Agam merasa nyaman satu sama lain. Tapi ada hal yang Agam tidak tahu tentang Candra, satu hal yang sangat Candra sembunyikan..
Cazador The First Mission
133      88     0     
Action
Seorang Pria yang menjadi tokoh penting pemicu Perang Seratus Tahun. Abad ke-12, awal dari Malapetaka yang menyelimuti belahan dunia utara. Sebuah perang yang akan tercatat dalam sejarah sebagai perang paling brutal.
Be Yourself
12      12     0     
Short Story
be yourself, and your life is feel better
Biar Aku
12      11     0     
Short Story
Sepercik cerita bersama papaku di masa silam penuh liku, penuh perjuangan. Melawan berbagai penyakit dengan penuh ketabahan.
DIAMNYA BAPAK
290      221     5     
Short Story
Kata Bapak padaku bahwa hidup itu ibarat senja, hadirnya selalu ada walau hanya sementara. Harus kutelusuri jejaknya dengan doa.
P O T E K
14      14     0     
Short Story
Aku memang menyukainya, tapi bukan berarti aku rela menyakiti hatiku sendiri.
bengkel hidayah
10      10     0     
Short Story
Seorang laki laki terbuka mata hatinya setelah sekian lama ia menjadi lelaki yang tak bertanggung jawab atas kehidupan dirinya. Ia merajut asa dengan tekat yang kuat. Sehingga apa yang ia lakukan bisa menggantikan kehidupan yang dulu kelam.
Kata, Kita, Derita
7      7     0     
Short Story
Aku hanyalah sepotong kenangan. Mengiba pada waktu untuk mencipta temu, meski aku tak sanggup memilikimu.
Ternyata darah gue B
11      11     0     
Short Story
menceritakan waktu gue mau nolongin teman gue yang lagi butuh darah O, eh ternyata darah gue B. untung ada ilman sebagai pahlawan bersarah O.
2 Kehidupan
14      14     0     
Short Story
Kisahku, bermula saat aku mulai berajak smp, hidupku menyendiri entah apa yang ada di pikiranku selama ini.