Read More >>"> Secret Love Story (Complete) (Lembaran Baru) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - Secret Love Story (Complete)
MENU
About Us  

Apabila cinta tidak berhasil…bebaskan dirimu…

Biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya dan terbang ke alam bebas lagi ..

Ingatlah…bahwa kamu mungkin menemukan cinta dan kehilangannya..

Tapi..ketika cinta itu mati..kamu tidak perlu mati bersamanya…

Orang terkuat bukan mereka yang selalu menang.

Melainkan mereka yang tetap tegar ketika mereka jatuh

~ Cinta Yang Agung, Kahlil Gibran ~

            Aku kembali ke Singapura dan melanjutkan kuliahku yang tertunda hingga selesai. Tidak lebih dari lima bulan akupun akhirnya menyelesaikan thesisku dan memperoleh gelar magisterku dua bulan berikutnya. Aku kembali ke Indonesia kemudian dan mencari pekerjaan disana. Dan setelah lama melalang buana kesana kemari akhirnya akupun mendapatkan pekerjaan di sebuah Kantor Akuntan Publik di Jakarta.

            Aku menghirup udara sore di jendela kaca ruang kerjaku yang menghadap ke arah jalan raya itu. Udaranya memang tidak begitu bersih seperti di Sragen, tapi paling tidak udara kali ini masih lebih baik bila dibandingkan dengan udara Jakarta yang biasanya. Aku mengangkat handphoneku yang bordering. Hampir setiap hari aku memperoleh panggilan dari orang yang sama yaitu mama. Mama tahu hubunganku telah berakhir dengan Sabrina beberapa waktu yang lalu, hingga mama mengira bahwa alasan aku memilih pergi memilih kerja di Jakarta adalah karena Sabrina. Tapi, sebenarnya alasan ku pergi adalah bukan karena itu, tapi lebih karena aku masih ingin merasakan suasana yang baru.

Mama Calling :

            “Assalamu’alaikum Nak…,”

Erlangga Calling :

            “Wa’alaikum salam ma….,” jawab Erlangga.

Mama Calling :

            “Gimana kabar kamu nak?”

Erlangga Calling :

            “Baik ma, mama gimana?” tanya Erlangga yang tidak langsung dijawabi oleh Mamanya. Erlangga mendengar mamanya tengah berbicara dengan orang lain di telponnya. “Ma..mama….,” tanya Erlangga.

Mama Calling :

            “Hah…iya nak, kenapa?”  Mama Erlangga balik bertanya dan bukannya menjawab pertanyaan Erlangga.

Erlangga Calling :

            “Ih,,,,mama ini gimana sih ma. Bukannya mama tadi yang nelfon Egha, lah sekarang mama yang malah ngacuhin Egha. Mama lagi sibuk ngapain sih?” tanya Erlangga.

Mama Calling :

            “Sorry nak, mama lagi sibuk masak bareng temen baru mama nih…,” ucap mamanya.

Erlangga Calling :

            “Yah, kalau mama sibuk ngapain telfon Egha ma…,”

Mama Calling :

            “Ya, mama kan kangen suaramu nak. Lagian mama juga pingin ngenalin kamu sama….,”

Erlangga Calling :

            “Stop…Egha tahu kemana arah pembicaraan mama. Pasti ujung-ujungnya mama mau ngenalin aku dengan temen baru mama yang lagi asyik masak bareng mama itu kan. Siapa dia, anak temen mama, anak papa temennya papa, atau… Arghhhh…sudahlah ma pokoknya Egha nggak mau kenalan titik…,” ucap Erlangga yang kemudian langsung mematikan telfonnya.

            Erlangga tahu ia berbuat nggak sopan kepada mamanya, tapi mau bagaimana lagi ia sudah lelah mamanya selalu menjodohkannya dengan anak-anak temennyalah, anak-anak temen kantor papanya lah, atau entahlah yang lainnya. Erlangga bukannya ingin membantah ataupun tidak mengabulkan keinginan kedua orang tuanya, hanya saja dia belum siap dan belum mantap untuk berpikir tentang pernikahan.

*****

            Mahdi memarkir mobilnya di sebuah lapangan dekat tempat tinggal Ara. Ia berniat untuk menemui Ara seperti janji beberapa waktu lalu. Gadis itu memintanya untuk menemui perihal ada hal penting yang ingin diberitahukannya oleh Ara kepadanya. Ia mengetuk pintu rumah kontrakan kecil itu. Dan keluarlah seorang gadis yang mengenakan baju terusan berwarna hijau toska motif bunga dan disertai jibab polos dengan warna senada. Ia membuka pintu dan tersenyum kepada seseorang yang berada di balik pintu itu.

            “Assalamu’alaikum....,” ucap Mahdi.

            “Wa’alaikum salam Mas...,” ucap Ara. “Masuk mas...,” ucapnya sembari memberi jarak kepada Mahdi agar masuk ke ruang tamu. Ia membuka pintu lebar-lebar agar tidak menimbulkan fitnah jika dia dan Mahdi hanya berdua di rumah tersebut.

            Ara menyediakan minuman dan beberapa cemilan kecil dan meletakkannya di meja ruang tamu. Ia duduk di seberang Mahdi. Mahdi meminum minuman yang disediakan oleh Ara untuk dirinya.

            “Em....apa yang ingin kamu bicarakan Ra?” tanya Mahdi kemudian.

            “Oh..it..itu...masalah hilang ingatan saya, mas....,” ucap Ara dengan sedikit ragu.

            “Iya kenapa? Apa kamu mulai mengingat sesuatu?” tanya Mahdi. Ara mengangguk untuk memberi jawaban. “Em...seberapa banyak yang kamu ingat?” tanya Mahdi.

            “Hanya sedikit mas. Aku mengingat beberapa kenangan masa lalu itu. Perlahan kenangan itu datang dalam ingatanku. Namun, ketika aku ingin menguak segala hal yang ada maka semuanya akan kembali semu dan aku tidak menemukan titik terangnya. Padahal tinggal sedikit lagi mas, sedikit lagi aku dapat mengetahui semuanya, tentang semua orang-orang yang ku kenal selama aku kuliah, namun tiba-tiba ketika ingatanku mengarah pada satu kenangan dengan seseorang, aku masih belum bisa memastikan siapa orang itu,” jelas Ara.

            “Jadi, kesimpulannya adalah kamu sudah mendaptkan beberapa kenangan masa lalu kamu, namun kamu kehilangan beberapa yang menyangkut tentang satu orang?” tanya Mahdi dan Ara pun menjawabnya dengan anggukan. “Em..kalau boleh tahu, apa kamu juga sudah mengingatku, Ra?” tanya Mahdi dengan nada cemas.

            “Apa kamu masih merasakan sesak yang dalam ketika kamu mencoba untuk mengingat orang itu?” tanya Mahdi lagi. Dan Ara pun mengangguk kembali.

            “Mas, nggak mau kamu merasakan kesakitan lagi Ra, jadi menurut mas sebaiknya kamu....,”

            “Aku ingin mengingat dia mas. Aku ingin mengingat semua tentang orang itu. Aku tahu betapa aku akan tersiksa jika aku mencoba terlalu keras untuk mengingatnya, tapi aku tetap mengingatnya mas...,”

            “Ra, kenapa kamu ingin mengingat semuanya jika yang ada semua yang kamu ingat itu hanya akan menyakiti diri kamu sendiri?”

            “Aku ingin berdamai dengan masa lalu mas,” ucap Ara tegas. Dan Mahdi pun tak bisa lagi mengatakan apapun atas ketegasan jawaban Ara tersebut selain mengiyakan permintaan gadis itu.

            “Baiklah aku akan membantumu. Ada satu metode agar kamu bisa berusaha untuk dapat mengembalikan ingatanmu,”

            “Cara apa itu mas?”

            “Melalui optogenetik. Mas ada kenalan dokter yang menguasai metode itu dalam pengobatan. Apa kamu mencobanya?” tanya Mahdi. Dan Ara pun menganggukkan kepalanya.

            “Baiklah, mas akan mengabari kamu setelah mas menanyakan kepada teman mas jadwal untuk terapinya..,”

            “Oke mas, terima kasih...,” ucap Ara.

            “Kenapa harus berterima kasih Ra, kamu menganggapku seperti orang lain saja...,” ucap Mahdi.

            “Eh...maksud mas?” tanya Ara dengan mengerutkan kening tanda ia tak mengerti.

            “Em...mak...maksudnya....ah..lupakan saja...nanti...suatu hari nanti kamu juga akan mengerti...,” ucap Mahdi.

            Ara masih tidak mengerti maksud dengan perkataan lelaki di hadapannya itu. Namun, ia mengiyakan semua perkataan lelaki itu seraya menganggukkan kepala sebagai jawabannya. Mahdi pun mengajak Ara untuk makan di luar agar Ara tidak repot untuk menyiapkan makan siang. Ara pun mengiyakan ajakan itu pasalnya dia juga memerlukan beberapa barang yang harus di belinya.

            Hari sudah menjelang sore ketika Mahdi berpamitan untuk kembali pulang ke Surabaya. Sementara Ara masih ingin berkeliling mencari barang kebutuhannya mengingat hari ini adalah hari Sabtu, jadi ia bisa pulang agak malam sedikit untuk mencari apa yang dibutuhkannya.

            “Kamu beneran nggak mau mas anterin balik?” tanya Mahdi.

            “Iya, beneran mas. Aku ada keperluan sebentar kok. Nanti aku bisa pulang sendiri,” ujar Ara tanpa memberitahukan kepada Mahdi bahwa ia sebenarnya masih ingin membeli beberapa barang kebutuhannya sebelum balik pulang. Ia tidak memberitahukannya kepada Mahdi tujuannya karena ia tidak ingin merepotkan laki-laki itu. Lagi pula ia juga  tidak ingin lelaki itu sampai lebih malam ke Surabaya.

            Ara berjalan menuju lokasi dimana ia biasa membeli barang-barang kebutuhannya. Ia berjalan dari satu rak ke rak lainnya di sebuah swalayan. Namun, tiba-tiba ia bertemu dengan seorang wanita separuh baya yang sedang memegangi kepalanya sembari mendorong kereta dorongnya yang berisi penuh dengan belanjaan. Ara pun akhirnya mendekati wanita separuh baya itu.

            “Ah, bu...ibu baik-baik saja?” tanya Ara kemudian.

            Sang wanita separuh baya itu pun kemudian mengangkat wajahnya yang tadinya menunduk kini melihat ke arah gadis muda.

            “Em...kepala saya agak sedikit pusing, dek..,” ucap wanita separuh baya itu kemudian.

            “Apakah itu sangat sakit? Apakah ibu membutuhkan bantuan saya?” tanya Ara yang kemudian di sambut dengan anggukan oleh wanita paruh baya itu seraya mengiyakan.

            Wanita paruh baya itu pun tersenyum simpul namun tak terlihat oleh Ara. Beberapa waktu lalu ia berpikir bahwa dirinya mungkin akan pingsan di sini. Namun, tiba-tiba ada seorang gadis muda yang bersedia untuk membantunya. Gadis muda itu mendudukkan wanita muda itu pada sebuah kursi dan kemudian ia mengambil alih barang belanjaan wanita paruh baya itu dan membayar barang belanjaan wanita paruh baya itu dengan uang yang diberikan wanita paruh baya itu sebelumnya. Setelahnya ia pun kemudian membayar barang kebutuhannya dengan uangnya sendiri. Setelah menyelesaikan semuanya ia kembali ke wanita paruh baya yang duduk beristirahat di kursi dengan masih memijit-minit pelipisnya itu untuk menghilangkan rasa pusing dikepalanya.

            “Ibu, apa ibu masih merasa pusing?” tanya Ara sembari mengembalikan uang kembalian atas belanjaan wanita paruh baya tadi. Wanita paruh baya itu menganggukkan kepala kemudian untuk menjawab pertanyaan Ara.

            “Apa ibu mau saya antarkan ke rumah sakit?” tanya Ara dan wanita itu pun kemudian menganggukkan kepalanya lagi seraya memberikan jawabannya.

            Ara pun menyetopkan taksi dan membantu wanita paruh baya itu untuk mengantarnya ke rumah sakit. Wanita paruh baya tersebut mendapatkan perawatan kemudian di UGD dan meminta Ara untuk membantunya menghubungi keluarganya. Setelah panggilan kepada keluarga wanita paruh baya itu dilakukannya, ia kembali ke ranjang pasien yang di tempati wanita paruh baya itu.

            “Ibu, saya sudah menelpon suami ibu dan beliau bilang beliau dalam perjalanan dan sebentar lagi akan datang,” jelas Ara.

            Wanita paruh baya yang telah mendapat sedikit pertolongan itu kini lebih baik dari sbelumnya meskipun masih belum sepenuhnya kesehatannya pulih.

            “Baiklah, terima kasih ya nak. Kamu telah membantu saya dan saya telah merepotkan kamu dengan banyak,” ujar wanita paruh baya itu.

            “Tidak apa-apa bu, kebetulan saya ada di dekat ibu, jadi saya bisa sedikit membantu,” ujar Ara. “Em...kalau begitu, karena suami ibu sebentar lagi akan segera tiba, saya pamit dulu ya bu takut terlalu malam,” jelas Ara. “Bekanjaan ibu saya letakkan di atas nakas ya bu. Saya permisi dulu..,”

            “Iya nak, sekali lagi saya berterima kasih banyak...,”

            “Iya bu, semoga ibu lekas sembuh. Assalamu’alaikum...,” pamit Ara sembari membungkukkan tubuhnya memberi hormat kepada wanita paru baya yang berbaring di ranjang rumah sakit itu.

            “Wa’alaikum salam...,” ucap wanita paruh baya itu dengan senyum yang tak pernah lepas saat ia melihat Ara.

*****

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (1)
  • diyaaaa

    Ceritanya bagus, menginspirasi.
    baca ceritaku juga ya,

    Comment on chapter Di Batas Rindu
Similar Tags
Mencari Virgo
289      225     2     
Short Story
Tentang zodiak, tentang cinta yang hilang, tentang seseorang yang ternyata tidak bisa untuk digapai.
Dear Vienna
4      4     0     
Romance
Hidup Chris, pelajar kelas 1 SMA yang tadinya biasa-biasa saja sekarang jadi super repot karena masuk SMA Vienna dan bertemu dengan Rena, cewek aneh dari jurusan Bahasa. Ditambah, Rena punya satu permintaan aneh yang rasanya sulit untuk dikabulkan.
Bad Wish
117      35     0     
Romance
Diputuskan oleh Ginov hanya satu dari sekian masalah yang menimpa Eriz. Tapi ketika mengetahui alasan cowok itu mencampakkannya, Eriz janji tidak ada maaf untuknya. Ini kisah kehilangan yang tidak akan bisa kalian tebak akhirnya.
Renata Keyla
56      30     0     
Romance
[ON GOING] "Lo gak percaya sama gue?" "Kenapa gue harus percaya sama lo kalo lo cuma bisa omong kosong kaya gini! Gue benci sama lo, Vin!" "Lo benci gue?" "Iya, kenapa? Marah?!" "Lo bakalan nyesel udah ngomong kaya gitu ke gue, Natt." "Haruskah gue nyesel? Setelah lihat kelakuan asli lo yang kaya gini? Yang bisanya cuma ng...
Good Guy in Disguise
459      361     4     
Inspirational
It started with an affair.
Perceraian kontrak
207      42     0     
Romance
Ryan Delon seorang Ceo terkaya se-Eropa harus menyamar menjadi satpam demi mendapatkan cinta sejatinya. Akan tetapi, penderitaan itu hanyalah sementara sampai akhirnya ia dipersatukan dengan desainer cantik bernama Calesthane. Mereka menjalani hubungan hingga kejenjang pernikahan, namun hari-hari yang mereka jalani tidak seperti bayangannya. Banyak bebatuan di kehidupan mereka, sampai pada akh...
LOVEphobia
3      3     0     
Short Story
"Aku takut jatuh cinta karena takut ditinggalkan” Mengidap Lovephobia? Itu bukan kemauanku. Aku hanya takut gagal, takut kehilangan untuk beberapa kalinya. Cukup mereka yang meninggalkanku dalam luka dan sarang penyesalan.
The First
4      4     0     
Short Story
Aveen, seorang gadis19 tahun yang memiliki penyakit \"The First\". Ia sangatlah minder bertemu dengan orang baru, sangat cuek hingga kadang mati rasa. Banyak orang mengira dirinya aneh karena Aveen tak bisa membangun kesan pertama dengan baik. Aveen memutuskan untuk menceritakan penyakitnya itu kepada Mira, sahabatnya. Mira memberikan saran agar Aveen sering berlatih bertemu orang baru dan mengaj...
SILENT
64      6     0     
Romance
Tidak semua kata di dunia perlu diucapkan. Pun tidak semua makna di dalamnya perlu tersampaikan. Maka, aku memilih diam dalam semua keramaian ini. Bagiku, diamku, menyelamatkan hatiku, menyelamatkan jiwaku, menyelamatkan persahabatanku dan menyelamatkan aku dari semua hal yang tidak mungkin bisa aku hadapi sendirian, tanpa mereka. Namun satu hal, aku tidak bisa menyelamatkan rasa ini... M...
SECRET IN KYOTO
326      254     6     
Short Story
Musim semi adalah musim yang berbeda dari empat musim lainnya karena selalu ada kesempatan baru bagiku. Kesempatan untuk tumbuh dan mekar kembali bersama dengan kenangan di masa lalu yang kuharap akan diulang kembali.