If you’re not the one, then why does my soul feel glad today?
If you’re not the one, then why does my hand fit yours this way?
If you are not mine, then why does your heart return my call?
If you are not mine, would I have the strength to stand at all?
I never know what the future brings, But I know you’re here with me now
We’ll make it through and I hope, You are the one I share my life with
~If You’re Not The One, Daniel Bedingfield~
Ara memiliki kebiasaan baru setiap akhir pecan kali ini. Ketika ia tak menghabiskan waktunya untuk pulang ke kampung halamannya, ia akan menghabiskan waktunya bersama seorang wanita separuh baya. Wanita itu bernama Rahayu Oktaryna atau biasa dipanggil Ara dengan panggilan akrab “tante Rahayu”. Ara bertemu wanita paruh baya itu beberapa pekan lalu. Ketika ia tanpa sengaja mendapati wanita paruh baya itu kesakitan, dan dia menawarkan diri kepada wanita paruh baya itu untuk membantunya dan membawanya ke rumah sakit.
Pertemuan pertamanya dengan wanita paruh baya itu begitu singkat. Namun, takdir berkata lain dimana ia kembali di pertemukan dengan wanita paruh baya itu di tempat yang sama yaitu di swalayan dimana Ara sering membeli kebutuhan bulanannya. Sejak saat itulah Arad an wanita paruh baya itu menjadi akrab dan sering menghabiskan waktu bersama di akhir pekan. Wanita paruh baya itu juga sering mengajak Ara ke rumahnya untuk sekedar menghabiskan waktu bersama karena ia kesepian sendirian di rumah. Seperti saat ini, Ara dan Rahayu sedang menghabiskan waktu di dapur dengan memasak berbagai jenis masakan dan kue-kue kecil. Kegiatan keduanya sangat sibuk namun kemudian terhenti ketika terdengar suara seseorang di ambang pintu dapur yang tentu saja membuat keduanya berhenti sejenak dari kegiatannya semula.
“Ma, mama sedang apa sih. Aku panggil-panggil nggak denger dari tadi…..,” ucap seorang lelaki yang berusia lebih muda tiga tahun Ara. “Ups…sorry mom aku nggak tahu kalau mama sedang sibuk dengan teman mama….,” ujar lelaki itu lagi sembari menutup mulutnya karena ia tidak tahu bahwa mamanya ternyata tidak sendirian di dapur itu.
Beberapa detik kemudian mamanya berbalik menatap anaknya itu dan menggeleng-gelengkan kepalanya karena ulah anaknya yang berteriak-teriak dari tadi. Bukannya tidak tahu kalau anaknya itu datang, tapi Rahayu sengaja membiarkan anaknya itu. Ara yang menyadari bahwa ada seseorang yang datang di ambang pintu dapur dan berbicara dengan Rahayu pun langsung membalikkan tubuhnya.
“Ada apa Tan?” tanya Ara.
“Anak tante datang… Ayo kita beres-beres dulu. Bawa masakan yang kita buat tadi ke meja makan ya, sudah waktunya makan siang. Tante juga akan mengenalkanmu pada anak-anak tante..,” ujar Rahayu.
“Baik Tan…,” ucap Ara singkat. Ara segera menghidangkan masakan yang dibuatnya bersama Rahayu tadi.
Sebenarnya itu adalah resep baru yang mereka dua ciptakan dan untung saja dia dan Rahayu masak banyak, hingga mereka tidak akan gelagapan untuk menyiapkan makan siang bagi anak-anak Rahayu yang tiba-tiba pulang. Ketika masih merapikan meja makan, Ara mendengar derap langkah kaki yang menuruni tangga. Dan ia bisa menebak kalau itu mungkin anak Rahayu yang tadi. Namun, ketika ia membalikkan badannya dan tak sengaja melihat seseorang itu matanya tiba-tiba membelalak kaget, begitu pula dengan sosok lelaki yang berdiri di hadapannya itu yang juga menampakkan ekspresi yang sama.
“Ara….,” ucap lelaki itu kemudian.
Rahayu yang sudah berdiri beberapa meter dari meja makan dengan masih membawa beberapa piring yang berisi masakan itupun dapat mendengar ucapan anak lelakinya.
“Kamu mengenal Ara, Gha…?” tanya mamanya yang kemudian di jawabi anggukan kepala oleh Erlangga. Rahayu kemudian memalingkan wajahnya dari anaknya dan menatap ke arah yang masih terdiam dengan keterkejutannya seraya menanyakan pertanyaan “kalian saling kenal?” yang langsung di jawabi anggukan kepala pula oleh Ara.
“Oh, jadi kalian berdua sudah saling kenal. Baguslah kalau begitu, mama nggak perlu ngenalin lagi temen mama sama kamu kan Gha…?” tanya mamanya sembari menatap wajah anaknya itu yang masih terpaku pada gadis di depannya. Namun gadis di depannya itu menundukkan kepalanya dan tak membalas tatapan Erlangga. Rahayu merasakan keheningan dan tak mendengar anaknya menjawab pertanyaannya. Hingga kemudian dia berdehem. “Ehem….Gha…?” tanya mamanya lagi.
Erlangga kemudian tersadar dari keheningannya karena deheman mamanya. “Iya, ma…,” akhirnya hanya jawaban itulah yang dapat keluar dari bibirnya. Hingga kemudian seseorang pun menghampiri keduanya.
“Kenal siapa ma?” tanya seorang lelaki yang berusia lebih muda dari Erlangga, yaitu Ares, yang tidak lain adalah adik Erlangga.
Baik Rahayu, Erlangga ataupun Ara langsung memusatkan perhatian pada sesosok lelaki yang baru datang itu. Ares yang melihat siapa yang berdiri tepat beberapa meter di depan kakaknya itupun membelalakkan matanya seketika.
“Gadis jilbab panjang…!” pekiknya dengan kerasnya hingga membuat Ara terlonjak terkejut. Tidak hanya Ara, mama dan kakaknya pun terkejut dengan ucapan adiknya itu.
“Gadis jilbab panjang? Apa maksudmu Res?” tanya Mamanya penasaran, begitu pula Erlangga yang menatap Ares lekat meminta penjelasan.
“Ini dia, ma. Mbak inilah yang nolongin Ares saat Ares hendak pingsan di bandara waktu itu…,” jelas Ares. Ara yang mendengar pernyataan Ares itupun langsung menatap wajah Ares dan mencari kebenaran dari pernyataan Ares. Dan ketika ia melihatnya, ia akhirnya ingat bahwa benar ia pernah bertemu dengan lelaki itu beberapa bulan yang lalu.
“Astaga benarkah itu?” tanya mamanya yang langsung di jawab anggukan baik oleh Ares maupun Ara. “Dunia ini ternyata sempit ya kan Ra? Kamu pernah bertemu dan membantu membawaku ke rumah sakit waktu itu, kamu juga menolong Ares saat dia pingsan…,”
“Hendak pingsan ma…,”
“Halah sama aja pokoknya itu. Dan kamu…Erlangga…bagaimana ceritanya kamu dan Erlangga bisa saling kenal?” tanya Mamanya dengan rasa penasaran begitu pula dengan Ares yang juga penasaran kenapa kakaknya bisa mengenal gadis jilbab panjangnya itu.
“Em….kami…kami dulu satu kampus Tan,” jawab Ara kemudian setelah ia menunggu beberapa menit Erlangga tetap bungkam dan tidak menjawab pertanyaan mamanya.
“Ah benarkah….? Ya, Tuhan…bukankah berarti ini pertanda kalau kita semua berjodoh…,” cetus mamanya. Yang tentu saja membuat Erlangga menatapnya dengan kening berkerut.
Mereka pun memutuskan untuk makan siang bersama sebelum melanjutkan pembicaraan selanjutnya yang mungkin masih membuat mereka penasaran kenapa takdir dengan tiba-tiba bisa mempertemukan mereka.
*****
Usai makan siang bersama akhirnya mereka pun berbincang-bincang kembali dan saling berbagi cerita tentang bagaimana kisah pertemuan Rahayu dengan Ara dan juga tentang kisah pertemuan Ares dan Ara pula yang tidak sengaja itu.
“Iya, ma..pokoknya sejak saat itu Ares bertekad mau mencari cewek yang kayak mbk ini. Ares juga sudah memutuskan semua cewek Ares, iya kan Kak?” ucap Ares dan meminta dukungan kakaknya bahwa apa yang dikatakannya adalah benar. Erlangga hanya menanggapi perkataan adeknya dengan anggukan kepala.
“Oh, jadi gitu ceritanya. Pantas akhir-akhir ini mama gak pernah liat kamu gonta ganti pacar lagi seperti dulu..,” ucap Mamanya yang tentu saja membuat Ara tersenyum kecil melihat bagaimana wanita paruh baya itu masih menggoda anaknya. “Jadi, bagaimana kalau Mama jodohkan kamu dengan Ara?” ucap Rahayu yang tentu saja membuat Ara terlonjak kaget, Ares melototkan matanya ke arah wanita paruh baya itu dan Erlangga tersedak minumannya mendengar ide mamanya itu.
“Mama, apa-apaan sih main jodoh-jodohin orang seenaknya,” ucap Erlangga kesal, ia mengerucutkan bibirnya layaknya seorang anak kecil.
“Lah, yang mama jodohin kan Ares, Gha bukannya kamu…,” ucap mamanya.
“Iya kak, kok jadi kakak yang sewot….,” ujar Ares kemudian.
“Emm…mak…maksudku bukan gitu. Cuman…kakak nggak mau aja kamu ngalamin apa yang kakak alamin. Kamu tahu kan gimana mama getol ngejodohin kakak sama anak-anak temennya itu supaya cepat nikah. Kakak nggak mau aja kalau kamu ngalamin yang kakak alamin..,” jelas Erlangga.
“Hah…kalau aku sih nggak masalah kak. Toh di jodohinnya sama kak Ara…,” ucap Ares sembari menatap mamanya dengan seringaian. Sementara mamanya menatap wajah kesal Erlangga dan wajah Ara yang sibuk dengan pemikirannya sendiri secara bergantian. Ia kemudian tersenyum simpul dan berkata.
“Iya, tentu saja. Mama sangat mau Ara jadi mantu mama. Karena kamu bilang kamu nggak mau nikah nikah dalam waktu dekat makanya mama maunya Ara nikah sama Ares,” ucap mamanya.
Erlangga semakin kesal dengan ucapan mamanya. “Mama nggak bisa seenaknya gitu dong memutuskan sesuatu. Mama harus minta pendapat Ara, apakah dia beneran mau menikah sama Ares,” ucap Erlangga.
Rahayu pun akhirnya beralih menatap Ara yang kini menatap Erlangga karena ucapan Erlangga sebelumnya yang menyangkut dirinya. Ia sedari tadi sibuk dengan pemikirannya sendiri dan tidak mengerti sudah sejauh apa pembicaraan mereka.
“Kamu mau kan Ara?”
“Eh..mau…,”
“Tuh kan Ara nya mau Gha…,”
“Hah…maksud Ara…mau… mau apa Tan?” tanya Ara dengan mengernyitkan keningnya yang tentu saja membuat Erlangga langsung menatap gadis itu. Ia tidak menyangka bahwa gadis itu sedari tadi tidak menyimak apa yang sedang mereka bicarakan.
“Astaga…jadi sejak tadi kamu tidak menyimak percakapan kami, Ra….? Tidak biasanya kamu seperti itu..ckckck…,” ucap Rahayu.
“Eh…ma’af Tan. It..itu…karena….,”
“Ya sudahlah, Mama tahu dengan situasi saat ini. Mama dan Ares akan meninggalkan kalian berdua. Mama tahu bahwa ada yang harus kalian bicarakan berdua,” ucap Rahayu.
“Hah…? Masalah apa ma?” tanya Erlangga heran.
“Gak usah berlagak nggak tahu deh Kak,” ucap Ares.
“Iya, kamu sok-sok an pakek nanya masalah apa. Memangnya Tuhan yang bisa tahu apa masalah sebenarnya yang terjadi diantara kalian berdua? Sudahlah, pokoknya mama dan Ares akan pergi meninggalkan kalian berdua. Tapi ingat, kamu jangan apa-apakan Aral oh Gha…,” ancam Mamanya.
“Astaga…segitu nggak percayanya mama sama anak sendiri…,”Erlangga mendengus kesal. Tapi mamanya tak menggubrisnya dan segera pergi meninggalkan meja makan bersama dengan Ares.
Tercipta keheningan beberapa saat diantara mereka. Hingga Erlangga kemudian mengajak Ara untuk meninggalkan meja makan dan menuju ke taman belakang rumah Erlangga. Tanpa bertanya apapun Ara hanya mengikuti kemana langkah kaki itu melangkah.
*****
Erlangga duduk di halaman belakang rumahnya. Ada sebuah teras kecil yang tepat mengarah ke arah kebun. Ia duduk menyelonjorkan kakinya di atas rerumputan. Ara pun akhirnya melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh lelaki itu. Ia menyelonjorkan kakinya dan membenarkan rok gamisnya yang berbahan balloteli dengan warna baby blue itu agar tidak menyingkap. Sebuah kaus kaki bertengger di kakinya hingga menutup sempurnah semua kulitnya kecuali telapak tangan dan wajahnya. Erlangga yang menyadari bahwa rok gadis itu terlalu panjang pun berkomentar seperti masa lalu.
“Itu rok atau kain pel?” ucapnya refleks. Tapi, kemudian ia melihat gadis itu menatapnya dan ia baru tersadar bahwa gadis itu kehilangan ingatannya dan tidak mungkin mengingat hal kecilyang sering ia katakana untuk menggoda gadis itu.
“Eh…ma’af..,” ucapnya kemudian.
“Tidak apa-apa…,” jawab Ara singkat.
Keheningan kembali melingkupi keduanya beberapa saat. Hingga beberapa menit kemudian mereka melontarkan pertanyaan yang sama.
“Bagaimana kabarmu?” tanya keduanya bersamaan.
“Eh…kamu duluan aja….,” ucap Erlangga kemudian. Ara pun mengangguk dan mengajukan pertanyaan itu lagi.
“Bagaimana kabarmu, Gha?” tanya ARa yang tentu saja membuat Erlangga melotot tak percaya mendengar Ara memanggilnya dengan panggilan yang sering dilakukannya seperti dulu. Ia berpikir sejenak apakah gadis itu sudah menemukan kembali ingatannya, atau… Namun kemudian di tepisnya dugaannya yang tidak beralasan dan mustahil itu, karena sebelumnya Ara juga memanggilnya dengan sebutan itu ketika bertemu dengannya dulu, tepat disaat gadis itu kehilangan ingatannya.
“Kabarku baik…Kamu?” ucap Erlangga kemudian.
“Aku juga baik…,”
“Ah…syukurlah kalau begitu…,”
“Eh,,,iy..iya…,”
“Dunia itu sempit ya ternyata. Aku nggak nyangka bisa bertemu kamu dengan cara seperti ini. Aku juga nggak tahu kamu bertemu dengan Mama dan Adikku,” ujar Erlangga.
“Iya, juga nggak nyangka kalau mereka adalah keluargamu. Semuanya berkat takdir. Berkat takdir kita bisa bertemu seperti ini,”
“Ya, kamu benar…semuanya karena takdir…,” ucap Erlangga.
Keduanya kemudian mencipta keheningan sekali lagi. Mereka sibuk dengan pemikiran masing-masing. Erlangga dengan pemikirannya yang entah kemana, begitu pula dengan Ara yang juga sibuk dengan pemikirannya. Namun, kemudian keheningan terpecahkan oleh sebuah pernnyataan yang dilontarkan oleh Ara.
“Ma’af…Gha….,” ucap Ara lirih namun masih dapat di dengar oleh Erlangga. Erlangga yang mendengar gadis itu mengucapkan kata-kata itu segera memalingkan pandangannya yang semula menatap langit ke arah gadis itu. Ia masih tidak mengerti kenapa gadis itu tiba-tiba mengucapkan kata ‘ma’af” padanya. Erlangga masih mengerutkan keningnya dan menatap gadis itu dengan lekat, seraya meminta penjelasan.
*****
Ceritanya bagus, menginspirasi.
Comment on chapter Di Batas Rindubaca ceritaku juga ya,