Read More >>"> Akai Ito (Complete) (Sepuluh) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - Akai Ito (Complete)
MENU
About Us  

And all along I believed I would find you
Time has brought your heart to me
I have loved you for a thousand years
I'll love you for a thousand more

~A Thousand Years, Cristina Perri~

            Hari sudah malam ketika Raka dan Naura sampai di Bandara Soekarno Hatta. Kedatangan mereka di sambut oleh kedua orang tua Raka dan Naura, serta tak lupa pula David pun turut hadir di sana.

            “Akhirnya kalian pulang…,” ucap Mama Raka yang langsung memeluk putra semata wayangnya itu dan setelahnya ia pun memeluk Naura dan mengecup kening wanita itu.

            David mencoba untuk menghentikan acara temu kangen itu, karena hari sudah begitu larut, hingga akhirnya mereka pun naik ke mobil Avanza Silver menuju ke rumah orang tua Raka. Sesampainya di rumah orang tua Raka, beberapa pelayan menyiapkan makan malam dan disana pula Naura melihat Raysa dan putrinya, Aurora.

            Aurora kecil berlari menuju Raka dan Raka pun menggendongnya. Walau bagaimanapun sekalipun Aurora bukanlah anak kandung Raka, Raka tetap menyayangi gadi kecil itu seperti anaknya sendiri. Raka mencium kening gadis kecil itu dan gadis kecil itu mencium kedua pipi Raka sembari berkata dengan suara cadelnya itu.

            “Akhirnya papa pulang, Aulola kangen sama papa,” ucap gadis kecil yang masih berada di gendongan Raka itu.

            “Iya sayang, papa juga kangen sama Aurora…,” ucap Raka. Aurora yang melihat Naura berdiri di samping Raka pun langsung meminta untuk di gendong olehnya. Naura mengernyitkan keningnya dan kemudian memenuhi keinginan gadis kecil itu.

            “Tante, tante mama balu Aulola kan?” tanya gadis kecil itu dan tentu saja membuat Naura bingung. Sementara semua yang berada di sana senyum-senyum melihat kebingungan Naura.

            “Kata Bunda sama nenek, Aulola akan punya mama balu…,” cetus gadis kecil itu lagi.

            “Maksud Aurora apa sayang?” tanya Naura dengan lembutnya.

            “Kan mama Naula akan menikah dengan papa Laka jadi mama Naula akan jadi mama Aulola juga,” jelas gadis kecil itu yang tentu saja membuat pipi Naura memerah karena malu.

            “Oh, jadi kalian sudah merencanakan semua ini dari awal…?” tanya Naura yang tentu saja membuat yang lainnya tertawa. “Ide gila siapa ini?” tanya Naura. Dan semua orang pun menunjuk pada satu orang yaitu David. “Oh, jadi kamu dalangnya heh…,” ucap Naura sembari mencubit lengan David. Namun kemudian, Aurora melarang Naura dengan keras karena Naura melakukan hal itu.

            “Jangan mama, jangan sakiti ayah Aulola….,” jelas Aurora.

            “Hah…ayah?” Naura kembali mengerutkan keningnya.

            “Iya, ayah, Ayah David adalah suaminya Bunda, jadi Aulola panggil ayah…,”

            “Hahh…sejak kapan kamu jadi suaminya Raysa, Vid. Eh salah..maksudku kapan kalian menikah?” tanya Naura.

            “Sejak kamu pergi meninggalkanku untuk mengejar Raka,” cetus David yang disambut kekehan oleh semua yang ada di sana.

            Semua orang tahu bahwa David memang mencintai Naura sejak lama. Namun, mereka pun tahu bahwa hati Naura telah dimiliki oleh Raka sejak awal, karenanya David menyerah atas Naura dan membiarkan Naura kembali pada cinta sejatinya, yaitu Raka, yang tak lain adalah sahabatnya sendiri.

            Karena makanan sudah tersedia di meja, mereka semua pun memutuskan untuk makan malam bersama terlebih dahulu sebelum melanjutkan pembicaraan. Naura menatap David dan mata itu seolah berkata pada David, aku butuh penjelasan. Setelahnya David pun mengiyakan dan mereka semua pun menyelesaikan acara makan malam keluarga.

*****

            Acara makan malam pun selesai dan Naura segera duduk di kursi ruang keluarga di rumah Raka itu. David meminta izin terlebih dahulu kepada Naura untuk membaringkan Aurora sebelum member penjelasan atas semua hal yang terjadi.

            “Sejak kapan kamu merencanakan semuanya?” tanya Naura.

            David mendudukkan dirinya di kursi. “Sejak lama, aku sudah mulai merencanakan drama ini,” jawab David.

            “Astaga, sungguh tega ya kamu, menjadikanku seperti orang kebingungan karena tidak tahu apa-apa,”

            “Hehe…sorry Ra, habisnya aku bosen deh liat kamu dan Raka main kucing-kucingan terus dan gak nyatu-nyatu. Makanyalah aku buat ide gila ini. Dan orang tua kamu dan orang tua Raka pun setuju, ya sudah deh semuanya berjalan mulus kan? Raka sudah melamar kamu kan?” tanya David.

            “Tap…tapi…kan…,”

            “Sudahlah sayang, bukankah dengan begini akhirnya kita bisa bersama?” tanya Raka yang kini duduk di sebelah Naura dengan melingkarkan kedua tangannya di perut Naura dari belakang.

            “Tapi kan Raka, aku…aku….,”

            “Kenapa? Kamu malu karena beberapa waktu lalu kamu berubah jadi agresif karena ulah David?” tanya Raka dan membuat Naura menjadi malu.

            “Hahaha….kalau aku nggak ngajarin kamu jadi seagresif itu, aku nggak tahu deh gimana jadinya hubungan kalian,” ujar David. “Sorry, aku nggak bermaksud merubah kamu Ra, hanya saja aku ingin kamu lebih bisa sedikit terbuka dan mengatakan isi hati kamu. Aku tahu betul bagaimana cowok di samping kamu itu udah kayak orang gila yang nyari-nyari kamu bertahun-tahun, tapi sayangnya ketika ia ketemu dengan kamu, ia malah bingung mau berbuat apa karena ia tidak tahu sebenarnya seperti apa perasaanmu padanya. Makanya dia lebih memilih kabur ke Jepang karena lelah menerka-nerka apa yang ada di dalam kepala kecil kamu itu,” jelas David.

            Naura menatap mata Raka dan mencari kebenaran ucapan David disana. Naura menemukan kebenaran itu dan Raka pun mengangguk sembari berkata.

            “Ma’af, sebelumnya aku juga nggak tahu rencana si kunyuk satu itu, sumpah deh..,” ucap Raka sembari menghadapkan dua jarinya. “Aku baru tahu ketika aku menelpon mama, dan menanyakan kenapa kamu tiba-tiba datang ke Jepang, awalnya mama enggan untuk menjelaskannya padaku, tapi karena aku mendesak mama akhirnya mama menceritakan semuanya,” jelas Raka. “Tapi, sekarang aku pingin denger dari bibir mungil wanitaku ini, apa alasan anda menemui saya ke Jepang?” tanya Raka dengan nada menggoda yang tentu saja membuat Naura bersemu merah karena malu.

            “It..itu karena…Aku mencintaimu…,” ucap Naura lirih. Sebenarnya Raka mendengar ucapan gadis itu. Namun ia masih menggoda gadis itu dan berpura-pura tak mendengarnya.

            “Apa sayang, suaramu kurang kurang keras, aku nggak denger,” ucap Raka.

            “Aku mencintaimu Raka, Aku mencintai Raka Andana Putra dan aku nggak mau kehilangan kamu lagi. Makanya aku pergi ke sana buat nyusul kamu,” jelas Naura.

            Raka langsung mengecup bibir Naura dengan lembut dan Naura masih saja bersemu merah meskipun itu bukan pertama kalinya Raka melakukan itu terhadapnya.

            “Makasih sayang, akhirnya kamu mengatakan kata itu…,” ucap Raka dengan raut wajah bahagia.

            “Kenapa kamu senang sekali. Apa kata itu sangat berarti bagi kamu?” tanya Naura.

            “Ya iyalah, tentu saja ini sangat berarti bagiku. Kamu nggak tahu bagaimana aku sudah menunggumu bertahun-tahun untuk mengucap kata-kata itu padaku,”

            “Tapi kan Raka aku sudah menerima lamaran kamu di depan rumah kemarin dan bukannya itu sudah membuktikan kalau aku mencintai kamu meskipun aku tidak mengatakannya?”

            “Tentu saja sayang, dengan kamu menerima lamaranku itu memang menunjukkan bahwa kamu mencintai saya. Tapi, aku juga ingin dengar kata-kata itu secara langsung darimu…,” ucap Raka.

            Raysa pun akhirnya datang dan duduk di samping David, ia sempat mendengar percakapan diantara mereka bertiga tadi setelah mengecek keadaan Aurora di kamarnya.

            “Aku tadi dengar ada yang bilang kalau dia di lamar di depan pintu rumah?” tanya Raysa yang tentu saja membuat Naura tersenyum malu, karena ia tahu godaan yang Raysa tujukan itu untuknya. “Nggak romantis sekali sih Ra, harusnya kamu nggak menerimanya,” ucap Raysa sembari terkekeh. Raka yang mendengar hal itu pun langsung melotot pada Raysa.

            “Jangan pelototin istri gue…,” ucap David melihat kelakuan Raka.

            “Habisnya dia ngeselin. Naura aja nggak masalah gue lamar di depan pintu rumah. Kenapa dia yang sewot,” ucap Raka kesel.

            Naura yang melihat Raka mulai mengerucutkan bibirnya mengecup bibir Raka untuk menghilangkan kekesalan Raka. Dan hal itu tentu saja berhasil hingga membuat Raka yang tadi sebal dan kesel menjadi tersenyum setelah menerima kecupan Naura. Naura menatap tepat di manik mata Raka sembari berkata.

            “Aku tidak peduli meskipun lelaki ini melamarku dengan cara yang tidak romantis seperti kebanyakan lelaki lainnya. Bagiku dia punya caranya sendiri yang unik dan itu tentu saja hanya aku dari sekian banyaknya wanita yang menerima lamaran unik nya itu,” jelas Naura dan kemudian tersenyum simpul kepada Raysa dan David, sementara Raka senyum-senyum dan menyombongkan diri di hadapan kedua sahabatnya itu.

            “Tapi kan, itu berarti Raka nggak ada usaha yang besar buat ngelamar kamu karena dia nggak merencanakan acara lamaran yang romantis itu Ra,”  cetus David.

            “Raka sudah melakukan banyak usaha untuk membuat hatiku tetap untuknya. Ia melakukan banyak hal untuk ku meskipun aku tahu itu sulit baginya. Ia masih tetap bertahan menghadapi aku yang egois, yang terlewat polos hingga aku bahkan tak bisa menunjukkan perasaanku yang sebenarnya untuknya. Tapi, dari sekian banyak lelaki seorang Raka Andana Putralah yang tetap bersedia menjaga cintanya untukku. Bukankah itu sudah menunjukkan betapa besar usahanya untuk memilikiku..?” jelas Naura yang tentu saja membuat David dan Raysa tercenggang mendengar penuturan sahabatnya itu. Mereka pun tersenyum kemudian.

            “Kalian memang pasangan yang unik, sejak dulu sampai sekarang…,” ujar Raysa. “Ma’af jika dulu aku sempat menjadi penghalang bagi kalian berdua untuk bisa bersatu..,” ucap Raysa yang kemudian menjadi sendu karena rasa bersalahnya. Sejak dulu ia memang ingin mengucapkan hal itu secara langsung pada kedua sahabatnya itu. Namun, dirinya tidak mempunyai keberanian. Baru kali ini ia mendapatkan keberanian itu, dengan genggaman tangan David di pergelangan tangannya yang menguatkan dirinya.

            Naura dan Raka yang mendengarkan permintaan yang tulus dari sahabat kecilnya itupun tersenyum dan berkata.

            “Tidak ada yang salah dan benar Raysa. Kamu tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri. Semua yang terjadi adalah karena takdir. Aku berpisah dengan Raka karena sebuah takdir. Namun, karena takdir itu pulalah kami dapat bertemu kembali dan menjadi satu kesatuan yang utuh,” jelas Naura.

            Akhirnya Raysa pun berhambur dan memeluk sahabat kecilnya itu sembari berkata.

            “Terima kasih Naura, kamu memang sahabat sejatiku. Entah seperti apa hidupku jika aku tidak mengenalmu,” ucap Raysa dengan menumpahkan air matanya di bahu Naura.

            “Hei, berhentilah menangis, jangan buat hari bahagiaku menjadi kesedihan karena tangismu,” ejek Raka pada Raysa, yang tentu saja langsung mendapatkan pelototan dari Naura dan David.

            “Raka benar, jangan menangis Sa. Bukankah kamu sudah menjadi seorang ibu? Bagaimana kamu akan menjelaskan jika Aurora melihatmu seperti ini? Aku nggak mau disalahkan seperti tadi oleh Aurora ketika aku mencubit lengan David..,” ucap Naura yang tentu saja membuat Raysa, David dan Raka menjadi terkekeh mendengar penuturan Naura.

*****

            Naura menyiapkan sarapan suaminya seperti biasanya sebelum dia berangkat kuliah. Suami? Ya, tepatnya sudah satu bulan lebih Naura dan Raka resmi menikah, dan seminggu setelah pernikahannya dulu ia dan Raka langsung kembali ke Jepang untuk menyelesaikan kuliah mereka. Naura mengambil master dan Raka dengan profesi barunya di bidang kedokteran itu. Pernikahan Naura dan Raka yang berlangsung seminggu yang lalu berlangsung cukup sederhana, pasalnya baik Naura dan Raka memang lebih menyukai kesederhanaan. Pernikahan itu di hadiri oleh keluarga dan teman-teman Naura dan Raka, ada Randy, Clara, dokter Farhan, dokter Handy, dokter Melisa dan para teman-teman dokter Raka dan para dosen-dosen Naura dulu, termasuk dosen Daniel yang dulu menyimpan perasaan para Naura.

            Raka melingkarkan tangannya di pinggang Naura dari belakang. Naura yang melihat tingkah Raka yang nyaris seperti anak-anak beberapa hari terakhir ini membuat Naura kadang jadi geram sendiri. Tapi, dia tahu bahwa dia harus bersabar menghadapi sikap manja Raka beberapa hari terakhir ini.

            “Sayang, aku lagi masak nih, bisakah kamu duduk manis di kursi dan membiarkanku menyelesaikan masakanku?” pinta Naura dengan lebut.

            Namun, Raka menggelengkan kepalanya tak menyetujui permintaan Naura. Ia malah semakin mengeratkan pelukannya pada Naura. Naura pun mendengus kecil dan segera mematikan kompor kemudian berbalik menghadap Raka.

            “Ada apa sih?” tanya Naura kemudian dengan lembut. Namun, Raka hanya menggelengkan kepala dan diam tak menjawab. Naura yang sedikit kesal akhirnya mengecup singkat bibir Raka dan akhirnya Raka pun bereaksi. Ia melumat bibir istrinya dengan lembut dan Naura pun membiarkan suaminya itu melakukan keinginannya. Setelah puas mencium Naura, Raka pun akhirnya melepaskan ciumannya.

            “Sudah?” tanya Naura yang di jawab anggukan kepala oleh Raka. “Sekarang sudah bisa bicara kan? Katakan padaku ada apa?”tanya Naura untuk kesekian kalinya.

            “Apa belum ada kabar bagus?” tanya Raka ambigu.

            “Kabar apa maksudmu?” tanya Naura.

            “Disana, apa belum ada kabar kalau di sana ada mahluk kecil sebagai penghuninya?” tanya Raka sembari menyentuh perut Naura yang masih datar itu.

            Naura yang kemudian mengerti maksud Raka pun menggeleng sebagai jawabannya.

            “Belum sayang…Memangnya kenapa sih kamu tiba-tiba bertanya seperti itu?” selidik Naura dengan sikap Raka yang tiba-tiba menjadi aneh.

            “Hmmm…Raysa sudah satu bulan perutnya berisi. Dan David menyombongkannya padaku…,” jelas Raka dengan bibir mengkerut.

            Naura yang mendengar hal itu pun langsung tertawa setelah mengetahui alasan kenapa suaminya itu bertingkah konyol.

            “Oh, jadi kamu iri sama David nih ceritanya…?” tanya Naura.

            “Ya, iyalah sayang. Kek mana nggak iri, David udah mau punya dua anak, tapi aku masih belum…,”

            “Lah, kok dua? Harusnya Aurora nggak masuk hitungan kan?”

            “Maksud kamu?”

            “Aurora kan secara hukum anak kamu Raka, meskipun dia bukan anak kandung kamu. Sementara David, hanyalah ayah tiri menurut hukum. Jadi harusnya kamu bilang ke David kalau scorenya 1:1, dan bukannya 2:0,” jelas Naura.

            “Kamu benar, begitu ya…aku akan telpon si kunyuk satu itu…,” ucap Raka yang kini dengan wajah yang berbinar bahagia. Wajah kusutnya hilang entah kemana setelah mendengarkan penjelasan Naura.

            Ketika Raka berlari menuju kamarnya dan hendak mengambil handphone untuk menelpon David, Naura berteriak.

            “Sayang, bilang sama David score saat ini masih 1:1 dan akan menjadi 1:2 dalam waktu dekat…,” ucap Naura dengan terkekeh geli mendengar pernyataannya sendiri.

            Raka yang semula hendak melangkah menuju kamar kembali berbalik dan bertanya pada Naura.

            “Maksud kamu?”

            “Kita akan ke rumah sakit setelah sarapan untuk membuktikannya..,” jelas Naura yang tentu saja membuat Raka mengerutkan keningnya karena bingung dengan maksud istrinya. “Aku tidak yakin apakah aku sudah hamil atau belum. Hanya saja aku merasakan beberapa tanda-tandanya…,” jelas Naura dengan senyum malu.

            “Benarkah? Astaga…kenapa kamu tidak mengatakannya dari tadi…,”

            “Aku hanya tidak ingin kamu terlalu berharap, nanti kamu kecewa…,” ucap Naura.

            Raka pun langsung menggendong istrinya itu dengan raut wajah yang bahagia. “Aku tidak akan kecewa sayang, apapun hasilnya aku pasti menerimanya. Hanya saja feelingku mengatakan bahwa kali ini harapanku akan menjadi nyata…,” ucap Raka dengan mencium lembut bibir istrinya. “Kalau begitu kita harus cepat-cepat mandi dan sarapan, setelah itu kita harus pergi ke rumah sakit,” ujar Raka.

            “Loh, bukannya tadi kamu mau menelfon David dulu?”

            “Nggak usah nanti saja, setelah kita memastikan ada mahluk kecil yang lucu di perutmu itu, dengan begitu si kunyuk itu akan semakin iri denganku…,” ujar Raka yang kemudian pergi menuju ke kamar mandi dengan riangnya. Sementara Naura hanya menggeleng-gelengkan kepalanya menanggapi tingkah Raka yang tak ubahnya seperti anak kecil itu.

*****

 

The End

 

 

           

           

 

 

 

 

 

 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (2)
  • FPujii

    Hai, Kak... aku udah baca loh, asik ya... jangan lupa baca ceritaku juga yaa, Script Sweet di TWM18

    Comment on chapter Prolog
  • ShiYiCha

    Hallo, Kak. Kebetulan aku lihat cerita ini waktu lagi melacak TWM, dan akhirnya mampir, deh karena tertarik sama cover dan blurbnya. Semangat terus, ya Kak menulisnya... Kutunggu karya-karya selanjutnya.
    By the way, klo boleh kritik/saran, nih... di beberapa kalimat di chapt. prolog masih ditemui kesalahan tanda baca. Setahuku sehabis ... tidak perlu ada ...(,). Terus titik2 sebagai jeda itu formalnya hanya bisa diketik 1x atau 3x. Maaf, ya kak klo salah.
    Anyway, kalo boleh tolong likeback, ya

    Comment on chapter Prolog
Similar Tags
Bukan kepribadian ganda
233      142     0     
Romance
Saat seseorang berada di titik terendah dalam hidupnya, mengasingkan bukan cara yang tepat untuk bertindak. Maka, duduklah disampingnya, tepuklah pelan bahunya, usaplah dengan lembut pugunggungnya saat dalam pelukan, meski hanya sekejap saja. Kau akan terkenang dalam hidupnya. (70 % TRUE STORY, 30 % FIKSI)
My Noona
163      115     0     
Romance
Ini bukan cinta segitiga atau bahkan segi empat. Ini adalah garis linear. Kina memendam perasaan pada Gio, sahabat masa kecilnya. Sayangnya, Gio tergila-gila pada Freya, tetangga apartemennya yang 5 tahun lebih tua. Freya sendiri tak bisa melepaskan dirinya dari Brandon, pengacara mapan yang sudah 7 tahun dia pacariwalaupun Brandon sebenarnya tidak pernah menganggap Freya lebih dari kucing peliha...
the invisible prince
1231      710     7     
Short Story
menjadi manusia memang hal yang paling didambakan bagi setiap makhluk . Itupun yang aku rasakan, sama seperti manusia serigala yang dapat berevolusi menjadi warewolf, vampir yang tiba-tiba bisa hidup dengan manusia, dan baru-baru ini masih hangat dibicarakan adalah manusia harimau .Lalu apa lagi ? adakah makhluk lain selain mereka ? Lantas aku ini disebut apa ?
Sosok Ayah
14      14     0     
Short Story
Luisa sayang Ayah. Tapi kenapa Ayah seakan-akan tidak mengindahkan keberadaanku? Ayah, cobalah bicara dan menatap Luisa. (Cerpen)
Melepaskan
8      8     0     
Romance
Ajarkan aku membenci tawamu, melupakan candamu. Sebab kala aku merindu, aku tak bisa lagi melihatmu..
Senja (Ceritamu, Milikmu)
172      153     0     
Romance
Semuanya telah sirna, begitu mudah untuk terlupakan. Namun, rasa itu tak pernah hilang hingga saat ini. Walaupun dayana berusaha untuk membuka hatinya, semuanya tak sama saat dia bersama dito. Hingga suatu hari dayana dipertemukan kembali dengan dito. Dayana sangat merindukan dito hingga air matanya menetes tak berhenti. Dayana selalu berpikir Semua ini adalah pelajaran, segalanya tak ada yang ta...
Samantha
13      13     0     
Short Story
Sesosok perempuan bernama Samantha yang terlalu percaya atas apa yang telah dia lihat di parkiran sekolah, membuatnya mengambil keputusaan untuk menjauhi sosok laki-laki yang dia cintai.
My Sunset
211      136     0     
Romance
You are my sunset.
Bulan Dan Bintang
159      118     0     
Romance
Cinta itu butuh sebuah ungkapan, dan cinta terkadang tidak bisa menjadi arti. Cinta tidak bisa di deskripsikan namun cinta adalah sebuah rasa yang terletak di dalam dua hati seseorang. Terkadang di balik cinta ada kebencian, benci yang tidak bisa di pahami. yang mungkin perlahan-lahan akan menjadi sebuah kata dan rasa, dan itulah yang dirasakan oleh dua hati seseorang. Bulan Dan Bintang. M...
DariLyanka
72      48     0     
Romance
"Aku memulai kisah ini denganmu,karena ingin kamu memberi warna pada duniaku,selain Hitam dan Putih yang ku tau,tapi kamu malah memberi ku Abu-abu" -Lyanka "Semua itu berawal dari ketidak jelasan, hidup mu terlalu berharga untuk ku sakiti,maka dari itu aku tak bisa memutuskan untuk memberimu warna Pink atau Biru seperti kesukaanmu" - Daril