Read More >>"> LEAD TO YOU (Lead To You - Part 3) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - LEAD TO YOU
MENU
About Us  

LEAD TO YOU – PART 3

*****

Perjalanan semalaman dengan kereta cukup membuatku bisa beristirahat lagi untuk memulihkan tenagaku. Ini sudah menjelang Subuh lagi dan kami melakukan shalat Subuh tayamum di dalam kereta. Bu Ami membuatku merasa memiliki Ibu lagi. Ia banyak bercerita tentang dirinya, bahwa suaminya sudah meninggal dunia cukup lama, dan ia tidak mempunyai anak dan tidak berkeinginan untuk menikah lagi, karena usianya sudah cukup lanjut. Bu Ami berkeinginan mengabdi kepada keluarga yang sudah mempekerjakannya dan banyak membantunya.

Aku berdecak kagum ketika taksi yang kami tumpangi berhenti di depan gerbang besar dan kokoh. Kemudian gerbangnya terbuka dengan sendirinya dan Bu Ami mengajakku masuk ke dalamnya. Mulutku sampai membuka saking tercengang melihat rumahnya yang sangat besar dan megah. Seorang pria berpakaian seragam menghampiri kami.

“Bi Ami! Kok cepet banget liburannya?” tanyanya dengan ekspresi heran dan melihat ke arahku, “ini siapa Bi?” tanyanya.

“Ah sudahlah, enggak perlu tahu juga. Tuan Alghaz sudah berangkat atau belum?” cetus Bu Ami sambil mengajakku masuk ke dalam halaman rumah.

Pria itu mengangguk, “Baru saja berangkat, mungkin kalau Bi Ami lima menit lebih awal, masih ketemu Tuan Alghaz deh” ujarnya.

“Gadis, ini Pak Momo, kepala keamanan di rumah ini” ujar Bu Ami.

Aku mengangguk dan menangkupkan tanganku padanya. “Assalamualaikum, saya Gadis, Pak” kataku. Pak Momo mengangguk dan melakukan hal yang sama sepertiku dan menjawab salamku.

Bu Ami menarik tanganku untuk masuk ke dalam rumah megah itu dan membawaku langsung ke arah belakang, di mana kamarnya berada. Rumah tempat Bu Ami bekerja benar-benar luas. Aku mungkin bisa seharian menjelajahi rumah ini. Kamar tidur Bu Ami juga tidak sekecil yang kubayangkan, bahkan dua kali lebih besar dari kamarku. Dinding berwarna abu-abu dan putih nampak serasi dengan perabotan yang ada di kamar Bu Ami. Tempat tidurnya juga cukup besar. Bu Ami memintaku menyimpan tasku di dalam lemari lebih dulu dan mengajakku ke dapur untuk sarapan.

 

            Ia memperkenalkanku pada beberapa karyawan dan juga pekerja rumah tangga yang lain, Bu Ami bilang ada sekitar 15 orang yang bekerja mengurus rumah ini. Sedangkan pemiliknya hanya satu orang saja, Tuan Alghaz, nama yang selalu ia sebutkan sejak tadi. Menurutku ia orang yang cukup dermawan, memperkerjakan banyak orang untuk rumahnya yang besar ini. Ya bayangkan saja kalau hanya satu atau dua orang? Bisa pingsan setelah menyapu rumah ini. Ternyata pekerjaan Bu Ami di rumah ini adalah memasak dan menyiapkan keperluan makanan untuk semua orang yang ada di rumah ini. Semua orang mempunyai tugas dan tanggung jawab sendiri, Bu Ami dibantu Nina untuk membereskan bagian dapur. Dan sekarang Bu Ami akan mengajukanku untuk bisa membantunya di dapur juga. Semoga saja Tuan Alghaz tidak keberatan, dan aku pun tidak keberatan jika tidak dibayar. Yang penting aku punya tempat untuk tinggal.

Waktu berlalu begitu cepat dengan membantu Bu Ami di dapur membuat berbagai macam masakan. Dan jika dugaan Bu Ami benar, sebentar lagi katanya Tuan Alghaz akan segera pulang. Jantungku sedikit berdebar-debar menantikan kepulangan tuan rumah, aku takut ia tidak suka dengan kehadiranku dan akhirnya mengusirku. Walaupun Bu Ami sudah berusaha meyakinkanku bahwa Tuan Alghaz tidak mungkin melakukan hal itu, tetap saja aku khawatir.

Aku sedang merapikan tanaman di depan rumah ketika kulihat sebuah mobil mewah melaju memasuki gerbang rumah dan melaju sampai ke depan pintu rumah. Pria yang di depan buru-buru turun dan berlari memutar ke pintu belakang dan membuka pintunya. Kemudian aku melihat seorang pria tampan dengan profile yang tinggi, keluar dari pintu belakang dan ia menatapku bingung sambil menyipitkan matanya. Kedua pipinya berlubang, padahal ia tidak senyum sama sekali. Jantungku mau copot rasanya. Dengan perlahan aku menunduk menghindari tatapannya.

"Kamu siapa?" tanyanya dengan suara berat yang ketus, membuatku ciut.

“Assalamualaikum, Tuan Alghaz. Saya---Gad---“

Dari arah belakangku muncul Bu Ami yang lari tergopoh-gopoh, “Tuan Alghaz, maaf saya belum mengabari Anda. Ini Gadis, Tuan. Dia anak angkat saya...”

“Anak angkat? Sejak kapan?”

“Ceritanya panjang, Tuan” sahut Bu Ami lagi.

Tuan Alghaz masih menatapku bingung. Ia melihatku dari atas sampai bawah. “Bi...berapa kali kubilang, panggil  Alghaz saja”

“Maaf, saya enggak bisa begitu Tuan Alghaz, lebih enak seperti ini” jawab Bu Ami ngeyel.

Tuan Alghaz menghela napasnya dan berjalan masuk ke dalam rumah, “Saya mau makan malam, masak apa Bi Ami?” tanyanya.

Kemudian Bu Ami menjawab semua masakan yang tadi kami masak bersama. Kulihat sebuah senyuman mengembang di wajah Tuan Alghaz, masya Allah, lesung pipinya terlihat lebih dalam. Astagafirullah! Apa yang kulakukan sih? Kenapa daritadi hanya fokus pada wajah Tuan Alghaz saja. Tapi kenapa pria setampan dia belum menikah dan berkeluarga ya? Sepertinya usianya sudah cukup matang. Apalagi ia adalah laki-laki yang sangat mapan seperti ini. Kenapa aku yang pusing memikirkan hal yang bukan urusanku ya?

Tuan Alghaz kembali berpaling padaku, “Siapa nama kamu, tadi?” tanyanya.

“Gadis, Tuan”

Kepalanya manggut-manggut sambil melanjutkan langkahnya masuk ke dalam.

“Biar saya bicara dulu sama Tuan Alghaz ya...” ujar Bu Ami menyusul Tuan Alghaz ke dalam dan aku mengangguk setuju.

 

Tuan Alghaz itu sedikit menakutkan untukku, profilnya yang tinggi, bentuk wajah yang tegas dengan rahang yang dipenuhi rambut-rambut halus, kumis yang cukup berbaris rapi di bawah hidungnya yang mancung sempurna, membuat sosoknya terlihat sangat disegani. Tapi Bu Ami bilang dia adalah pria yang sangat baik, semoga saja begitu. Karena aku takut dengan tatapan matanya yang tajam tadi saat dia melihatku.Tapi tidak kupungkiri Tuan Alghaz memang lelaki yang sangat tampan.

Tidak lama kemudian Bu Ami datang kembali ke dapur dan menemuiku, “Tuan Alghaz membolehkan kau tinggal dan bekerja di sini...” ujar Bu Ami membuat hatiku lega bukan kepalang.

“Alhamdulillah! Terima kasih banyak Bu Ami, aku---aku merasa tenang punya tempat tinggal”

“Berterima kasihlah sama Allah SWT lebih dulu, dan nanti sampaikan juga terima kasihmu pada Tuan Alghaz, karena ia mengajak kita makan malam bersama” sambung Bu Ami.

Aku mengangguk.

Lima belas menit kemudian Tuan Alghaz sudah duduk di ruang makan dan mengomentari makanan yang tersaji di meja makan, “Wah, kurasa aku tidak akan mungkin makan semua masakan ini...” ujarnya seraya melihat ke arahku.

“Duduk” perintahnya kepadaku dengan dagunya.

Aku mengerjap gugup, tapi ia sekali lagi menggerakkan dagunya ke arah kursi di depannya, memintaku duduk di sana. Bu Ami menarik kursinya dan memintaku duduk, “Duduklah, nak” katanya.

Aku menurut dan duduk dengan perlahan di kursi yang sudah ditarik Bu Ami. Tuan Alghaz masih memandangiku. Aku menelan ludah melihat ke manik matanya yang berwarna coklat gelap. Bu Ami mengambilkan sedikit makanan ke dalam piring Tuan Alghaz. Pandangan Tuan Alghaz masih belum berpaling dariku dan hal ini membuatku salah tingkah.

“Berapa usiamu, Gadis?” tanyanya tiba-tiba.

“Saya, hampir 18 tahun, Tuan”

Ia mengangguk, “Sudah lulus sekolah?”

Aku menggeleng dan merasa sedih, karena seharusnya memang aku mengikuti ujian akhir sekolah tahun ini. Bu Ami memegang tanganku, mungkin ia mengerti mengapa raut wajahku berubah sendu.

“Saya berniat untuk menyekolahkan Gadis di sini Tuan, kalau Tuan Alghaz mengizinkan...” ujar Bu Ami, “karena sayang sekali ini adalah tahun terakhir sekolahnya” lanjut Bu Ami, membuatku terkejut sekaligus senang. Ya Allah, benarkan aku bisa melanjutkan sekolahku?

“Tentu saja---“ ujar Tuan Alghaz, setelah ia menelan makanan di tenggorokannya.

Mataku berbinar mendengarnya, “Benarkah saya bisa sekolah lagi?”

Tuan Alghaz mengangguk pelan. “Tentu...” katanya lagi.

Bu Ami memandangku tersenyum dan kami menghabiskan makanan kami setelahnya. Ternyata Tuan Alghaz sebaik yang Bu Ami ceritakan. Ia tidak segarang penampilannya.

“Bagaimana kamu bisa menjadi anak angkat Bi Ami?” tanya Tuan Alghaz padaku, saat Bu Ami pergi ke dapur dan Tuan Alghaz tidak membolehkanku meninggalkan meja sebelum dirinya.

Aku menghela napas pelan, “Saya bertemu Bu Ami di rumah adiknya di desa, Tuan. Mungkin  ia merasa kasihan pada saya, sehingga saya diangkat anak olehnya...” ceritaku singkat.

“Orang tuamu?”

Aku menggeleng sekaligus menelan ludahku, haruskah aku menceritakan yang sebenarnya pada Tuan Alghaz? Tentang ayahku yang menjualku pada sahabatnya sendiri demi membayar hutang-hutangnya? Akankah dia percaya? “Ibuku sudah lama meninggal, dan ayahku pergi entah kemana” jawabku tidak sepenuhnya berbohong. Aku memang tidak tahu kemana ayahku pergi, bagaimana keadaannya sekarang. Seketika aku merasa cemas kalau Max akan melakukan suatu yang buruk pada ayahku saat ini. Semoga Allah selalu melindungi ayahku.

“Oh, maaf, seharusnya aku tidak bertanya---“

Aku buru-buru menggeleng, “Tidak apa-apa Tuan...” sahutku cepat.

Tuan Alghaz berdiri, “Besok aku akan carikan sekolah untukmu” katanya dan setelah itu ia pergi meninggalkan ruang makan.

Hatiku menghangat mengingat niat baiknya untuk mencarikanku sekolah. Alhamdulillah, aku tahu Allah akan selalu menolongku. Aku bergegas menuju ke kamar untuk bersujud pada-Nya.

*****

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (2)
  • Dreamon31

    @yurriansan terima kasih ya, oke aku mampir

    Comment on chapter Lead To You - Part 2
  • yurriansan

    Aku baru baca chapter 1, seru ceritanya. suka juga dengan gayamu bercrta.

    oh ya mmpir jg ya f crtaku. aku tggu kritik dan sarannya.
    judulnya : When He Gone
    trims

    Comment on chapter Lead To You - Part 1
Similar Tags
Teilzeit
39      30     0     
Mystery
Keola Niscala dan Kalea Nirbita, dua manusia beda dimensi yang tak pernah bersinggungan di depan layar, tapi menjadi tim simbiosis mutualisme di balik layar bersama dengan Cinta. Siapa sangka, tim yang mereka sebut Teilzeit itu mendapatkan sebuah pesan aneh dari Zero yang menginginkan seseorang untuk dihilangkan dari dunia, dan orang yang diincar itu adalah Tyaga Bahagi Avarel--si Pangeran sek...
Dia yang Terlewatkan
12      12     0     
Short Story
Ini tentang dia dan rasanya yang terlewat begitu saja. Tentang masa lalunya. Dan, dia adalah Haura.
PALETTE
10      10     0     
Fantasy
Sinting, gila, gesrek adalah definisi yang tepat untuk kelas 11 IPA A. Rasa-rasanya mereka emang cuma punya satu brain-cell yang dipake bareng-bareng. Gak masalah, toh Moana juga cuek dan ga pedulian orangnya. Lantas bagaimana kalau sebenarnya mereka adalah sekumpulan penyihir yang hobinya ikutan misi bunuh diri? Gak masalah, toh Moana ga akan terlibat dalam setiap misi bodoh itu. Iya...
Operasi ARAK
15      15     0     
Short Story
Berlatar di zaman orde baru, ini adalah kisah Jaka dan teman-temannya yang mencoba mengungkap misteri bunker dan tragedi jum'at kelabu. Apakah mereka berhasil memecahkan misteri itu?
Damn, You!!
94      65     0     
Romance
(17/21+) Apa yang tidak dimilikinya? Uang, mobil, apartemen, perusahaan, emas batangan? Hampir semuanya dia miliki kecuali satu, wanita. Apa yang membuatku jatuh cinta kepadanya? Arogansinya, sikap dinginnya, atau pesonanya dalam memikat wanita? Semuanya hampir membuatku jatuh cinta, tetapi alasan yang sebenarnya adalah, karena kelemahannya. Damn, you!! I see you see me ... everytime...
Untold
51      40     0     
Science Fiction
Tujuh tahun lalu. Tanpa belas kasih, pun tanpa rasa kemanusiaan yang terlampir, sukses membuat seorang dokter melakukan percobaan gila. Obsesinya pada syaraf manusia, menjadikannya seseorang yang berani melakukan transplantasi kepala pada bocah berumur sembilan tahun. Transplantasi dinyatakan berhasil. Namun insiden kecil menghantamnya, membuatnya kemudian menyesali keputusan yang ia lakukan. Imp...
Meet You After Wound
15      14     0     
Romance
"Hesa, lihatlah aku juga."
Sepi Tak Ingin Pergi
16      16     0     
Short Story
Dunia hanya satu. Namun, aku hidup di dua dunia. Katanya surga dan neraka ada di alam baka. Namun, aku merasakan keduanya. Orang bilang tak ada yang lebih menyakitkan daripada kehilangan. Namun, bagiku sakit adalah tentang merelakan.
CORAT-CORET MASA SMA
277      217     3     
Short Story
Masa SMA, masa paling bahagia! Tapi sayangnya tidak untuk selamanya. Masa depan sudah di depan mata, dan Adinda pun harus berpikir ulang mengenai cita-citanya.
#SedikitCemasBanyakRindunya
105      66     2     
Romance
Sebuah novel fiksi yang terinspirasi dari 4 lagu band "Payung Teduh"; Menuju Senja, Perempuan Yang Sedang dalam Pelukan, Resah dan Berdua Saja.