Read More >>"> Langit Jingga (Bagian 3 - Langit; Awan Mendung) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - Langit Jingga
MENU
About Us  

“Ra, bangun.”

 

Jarum jam menunjukkan pukul delapan tepat. Sinar mentari telah menerobos jauh dari luar jendela, membawa rasa hangat sekaligus hawa dingin secara bersamaan. Lyra meringkuk. Ia baru ingat bahwa Kota Cirebon yang panas telah ditinggalkannya, setelah mendengar kabar sang bapak. Kuningan asri, sungguh sejuk dan damai.

 

“Jam delapan?” Gadis itu terbelalak. Bagaimana tidak? Ia yang biasa terbangun pagi buta ketika kerja karena harus berangkat jam tujuh tepat, malah bangun sejam dari waktu dimana seharusnya sudah beraktivitas. “Ibu ‘kok nggak bangunin teteh, hoaamm,” protesnya seraya menggeliat.

 

Wanita dengan hijab pendek dan daster se-mata kaki menyahut, setelah membuka tirai jendela, “Gimana mau bangunin, teteh tidur kaya kebo,” kelakar ibu lantas meninggalkan kamar. “Kebooo, kebooo,” sahut Varsya—adiknya—yang ternyata masih berada di rumah.

 

“Berisik, Syapir!” sungut Lyra sambil merapikan selimut, meski tidak rela meninggalkan benda hangat itu sekarang. Ia sungguh rindu udara dingin ini, bergemul dibalik kain tebal dan meringkuk seperti tadi. Andai Cirebon memiliki hawa yang sama. Atau, andaikan dia bisa bekerja dengan gaji serupa di kota kelahirannya ....

 

Memang bak pinang dibelah dua wajah Lyra dengan sang ibunda, namun tidak demikian pada adiknya. Tetapi jangan tanya, bagaimana ributnya mereka! “Keboo belum mandi, masih bau jigong.”

 

Lyra menoleh garang, “Bodo amat, yang penting teteh nggak suka bolos.”

 

Varsya yang sebelumnya hanya duduk di sofa ruang tamu—letaknya di depan kamar Lyra— mendelik kesal. “Sotoy ayam!” dengusnya kemudian kembali fokus pada layar handphone.

 

“Lah, apa namanya dong kalau hari sekolah tapi malah santuy di rumah? Gurunya nyuruh home schooling karena capek? Ngaco! Hahaha,” seru gadis yang rambutnya mengembang mirip singa hutan kelaparan itu, sembari berjalan lunglai menuju kamar mandi.

 

Belum sampai semenit, kepala gadis itu mencuat kembali dari balik dinding yang memisahkan ruang televisi dengan kamar mandinya. “Syapir, kamu nganter bapak ke rs.?”

 

“Aku mau ke Kuningan. Ada acara organisasi, Teh!”

 

Lyra manggut-manggut, kemudian menyampirkan handuk di lehernya, yang telah dia ambil dari gantungan depan kamar mandi. Ia menghela napas. “Aku kuat. Aku harus kuat, iya!”

 

***

 

“O-operasi?” Pekiknya terbata. Bukankah penanganan medis tersebut menelan biaya yang tidak sedikit? Salivanya diteguk secara kasar, seakan berusaha menelan pahit kabar berita yang menghampiri, meski sulit. Terbayang kini puluhan kertas lembaran merah dengan nominal angka nol lima digit, yang sulit digapainya. Pun baru setahun lebih merantau, untuk kiriman kepada orang tua juga seadanya. Uang dari mana sebanyak itu?

 

“Tumornya ganas, kata dokter harus dilaksanakan secepatnya, itulah tujuan kita membawa bapakmu kemari.”

 

Lyra masih linglung, “Ibu tidak bilang harus ada operasi ... Kalau Ibu bilang, mesti Lyra membawa uang lebih kemari. Kita ‘kan bukan anggota BPJS.” Raut gadis itu bertambah sedih. Dipandangnya tubuh lelaki tua yang kian renta, kurus dengan wajah kesakitan yang menyayat pilu. Cairan infus yang menetes, menambah gusar jiwa Lyra. “Rumah sakit ini sangat besar, Bu,” gumamnya hampir tidak terdengar.

 

Ibunya menghela napas berat, “Sedang Ibu usahakan, Ra. Alhamdulillah pemerintah desa dapat membantu, lumayan untuk menutupi biaya operasi. Hanya jika masih kurang, itu yang masih membebani Ibu.”

 

Ia sedikit lega, setidaknya untuk saat ini. “Kalau begitu, nanti Lyra coba pinjam sama bos Lyra. Yang penting bapak sembuh,” ucapnya lantas mengusap peluh di kening bapaknya, yang masih menunggu proses registrasi dari rumah sakit. Terlalu ramai, juga kesiangan. Mereka mendapat penanganan dari IGD terlebih dahulu agar bapaknya mendapat pereda nyeri sementara. “Ayah pasti kuat,” bisik gadis itu di sisi ayahnya. Sedang sosok pria yang merupakan cinta pertama sang putri jelita, memejamkan mata dalam rasa sakit.

 

Waktu berlalu, sudah satu jam hening. Lyra sibuk menatap sedih pada alat pengontrol detak jantung milik pasien sebelah, yang ia sendiri tidak tahu apa namanya. Karena penasaran, ditengoklah sosok dibalik tirai penutup itu, yang menjadi sekat penghalang pandangan antara satu pasien dengan yang lainnya. Sedang ibunya tidur di sisi sang ayah, jua lelaki tersayangnya sedang berjuang hidup dengan penderitaan yang mungkin akan segera diangkat. Lyra sangat berharap lebih.

 

Dengan takut dirinya mengkokohkan nurani. “Astagfirullah ...” Dua wanita hebat yang menjaga seorang balita, terkejut akan ‘mata’ yang seakan mengintai mereka sedari tadi. Lyra terenyuh, bukan was-was karena ketahuan mengintip tanpa izin aktivitas orang lain tanpa izin—seperti yang seharusnya. Tubuh mungil diberondong dengan banyak tempelan di sekitar dada, dimana bajunya tersingkap. Berbeda dengan ekspresi Lyra yang hampir menangis, anak itu hanya diam menggenggam jemari wanita muda yang diperkirakan sebagai ibunya. Dua perempuan di kanan dan kiri balita pun juga tersenyum.

 

“Neng, ada apa?” tanya salah seorang yang nampak seperti nenek si adik kecil. Lyra hanya menggeleng, dan memaksakan wajah-aku-hanya-lewat-bu.

 

“Mau lihat si dedek yah?” tanya ibu dari anak tersebut. Lagi-lagi Lyra hanya menjawab dengan isyarat tubuh, ia mengangguk. Dengan sisa rasa penasaran yang sebagian sudah menjadi keibaan, didekatinya anak itu. Mengecup keningnya sekilas, lantas bulir bening yang memupuk di mata hampir saja jatuh. Buru-buru ia tahan sekuat tenaga. “Terima kasih sudah menjenguk.”

 

Menjenguk? Ini hanya kebetulan, sebenarnya. Dan terlanjur juga, sudah sampai sejauh ini. Biasanya ia tidak gegabah ikut campur dalam suatu hal, apalagi jika sama sekali tidak kenal. “Anu, Bu. Dedek sakit apa?” tanya Lyra akhirnya. Ia meraba pergelangan adik kecil yang didekatnya terletak sebuah selang infus, membelai perlahan.

 

“Jantung bocor,” jawab si ibu santai, berbanding terbalik dengan Lyra yang seakan ingin roboh. “Umurnya sekarang tiga tahun, tapi dari kecil memang jantungnya bermasalah. Harus sering dirawat jadinya.”

 

Lyra menutup mulutnya rapat. Oh, Tuhan. Sebegitu lemahnya aku. Sebegitu tidak bersyukurnya aku.

 

***

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (4)
  • PenaLara

    @yurriansan Siyap, Mom. Thank you ^^

    Comment on chapter Bagian 3 - Langit; Awan Mendung
  • yurriansan

    @PenaLara waaah aku dpet julukan baru lgi di Tinlit wkwkwk.
    eh sma kok, aku juga msh bljar. lapakku aja bnyak kritikan juga.

    update chapter bru dlu, next aku bca2 lg ya...

    Comment on chapter Bagian 2 - Jingga; Penenang Jiwa
  • PenaLara

    @yurriansan thanks mommy,masih belajar 😅. Semoga mommy mau sering-sering krisan karyaku 😍

    Comment on chapter Bagian 2 - Jingga; Penenang Jiwa
  • yurriansan

    Dari yg aku bca, aku blum mnmukan "greget" d crita ini, mungkin kamu hrus cpt2 tmbh chapter baru, biar trjawab :D.
    Klau boleh saran, tuljsanmu udah rapi dan diksinya bagus, tpi lbh bags lg klo lebih Showing. supay cerirany lbh hidup

    Comment on chapter Bagian 2 - Jingga; Penenang Jiwa
Similar Tags
Benang Merah, Cangkir Kopi, dan Setangan Leher
14      13     0     
Romance
Pernahkah kamu membaca sebuah kisah di mana seorang dosen merangkap menjadi dokter? Atau kisah dua orang sahabat yang saling cinta namun ternyata mereka berdua ialah adik kakak? Bosankah kalian dengan kisah seperti itu? Mungkin di awal, kalian akan merasa bahwa kisah ini sama seprti yang telah disebutkan di atas. Tapi maaf, banyak perbedaan yang terdapat di dalamnya. Hanin dan Salwa, dua ma...
Rindu
7      7     0     
Romance
Ketika rindu mengetuk hatimu, tapi yang dirindukan membuat bingung dirimu.
LINN
423      203     0     
Romance
“Mungkin benar adanya kita disatukan oleh emosi, senjata dan darah. Tapi karena itulah aku sadar jika aku benar-benar mencintaimu? Aku tidak menyesakarena kita harus dipertemukan tapi aku menyesal kenapa kita pernah besama. Meski begitu, kenangan itu menjadi senjata ampuh untuk banggkit” Sara menyakinkan hatinya. Sara merasa terpuruk karena Adrin harus memilih Tahtanya. Padahal ia rela unt...
Ketika Kita Berdua
1244      429     0     
Romance
Raya, seorang penulis yang telah puluhan kali ditolak naskahnya oleh penerbit, tiba-tiba mendapat tawaran menulis buku dengan tenggat waktu 3 bulan dari penerbit baru yang dipimpin oleh Aldo, dengan syarat dirinya harus fokus pada proyek ini dan tinggal sementara di mess kantor penerbitan. Dia harus meninggalkan bisnis miliknya dan melupakan perasaannya pada Radit yang ketahuan bermesraan dengan ...
Gue Mau Hidup Lagi
14      14     0     
Short Story
Bukan kisah pilu Diandra yang dua kali gagal bercinta. Bukan kisah manisnya setelah bangkit dari patah hati. Lirik kesamping, ada sosok bernama Rima yang sibuk mencari sesosok lain. Bisakah ia hidup lagi?
Loading 98%
12      12     0     
Romance
HER
19      19     0     
Short Story
Temanku yang bernama Kirane sering memintaku untuk menemaninya tidur di apartemennya. Trish juga sudah biasa membuka bajunya sampai telanjang ketika dihadapanku, dan Nel tak jarang memelukku karena hal-hal kecil. Itu semua terjadi karena mereka sudah melabeliku dengan julukan 'lelaki gay'. Sungguh, itu tidak masalah. Karena pekerjaanku memang menjadi banci. Dan peran itu sudah mendarah da...
Teman Khayalan
47      34     0     
Science Fiction
Tak ada yang salah dengan takdir dan waktu, namun seringkali manusia tidak menerima. Meski telah paham akan konsekuensinya, Ferd tetap bersikukuh menelusuri jalan untuk bernostalgia dengan cara yang tidak biasa. Kemudian, bahagiakah dia nantinya?
My Sunset
211      136     0     
Romance
You are my sunset.
TRIANGLE
11      11     0     
Romance
Semua berawal dari rasa dendam yang menyebabkan cella ingin menjadi pacarnya. Rasa muak dengan semua kata-katanya. Rasa penasaran dengan seseorang yang bernama Jordan Alexandria. "Apakah sesuatu yang berawal karena paksaan akan berakhir dengan sebuah kekecewaan? Bisakah sella membuatnya menjadi sebuah kebahagiaan?" - Marcella Lintang Aureliantika T R I A N G L E a s t o r ...