Risa memulai paginya dengan menguap lebar. Matanya yang masih terpejam membuatnya tampak seperti malaikat hidup. Perlahan, bocah cilik itu bangkit dari kasur tikarnya dan memanggil satu nama, "Papa?"
Dari ruangan kecil di samping kasur tikar Risa, muncul sebuah balasan, "Ya?"
Risa terlonjak senang, mengetahui kalau Papanya sudah memasak sesuatu untuk dimakan hari ini. Maklum, kemarin kemarin, mereka hanya makan sebungkus mie instan untuk dua orang. Dan bayangkan betapa bahagianya dirinya ketika mendapati Papa tersayangnya sudah bisa membeli sesuatu untuk menganjal lapar.
Mereka--Risa dan Papanya- bukanlah orang berada. Makan satu kali sehari saja sudah lebih dari syukur bagi gadis cilik itu. Papanya yang hanya bekerja sebagai serabutan itu hanya bisa mendapatkan upah 5.000 sampai 10.000 setiap harinya, yang mana hanya cukup untuk membeli mie instan. Risa tidak memiliki ibu, dia punya ibu tapi itu dulu. Ketika Risa lahir, ibu nya langsung beranjak pergi tanpa kata. Meninggalkan ia dan ayahnya dalam kesengsaraan yang nyata.
Nama gadis cilik itu sendiri diberikan oleh tetangganya yang peduli. Papanya yang hanya lulusan SD itu tadinya ingin memberikan gadis itu nama "Rani" atau "Jelita" tapi kiranya nama "Risa" sudah amat cocok dengan putri semata wayangnya itu.
"Papa, papa masak apa hari ini?" Risa berjingkrak dengan semangat disamping Papa nya yang sedang mengoreng telur dadar, membuat papanya menggeleng karena melihat keantusiasan anak itu. Penyesalan menyusup ke hatinya. Andai saja ia tidak miskin dan mau belajar dengan sungguh sungguh dulu, maka Risa tidak akan bernasib seperti ini, miskin dan cukup bahagia dengan sebutir telur.
"Risa, anakku tersayang, maafkan papa. Papa hanya bisa membeli telur ini karena kemarin papa mendapat uang tambahan"
Risa menggeleng, "Tidak apa, pa. Lagipula aku juga sudah lama tidak makan telur! Satupun tidak masalah! Asalkan Risa makannya bersama Papa!"
amelinovi








