Read More >>"> Nina and The Rivanos (11. Starlit) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - Nina and The Rivanos
MENU
About Us  

Dua minggu setelah interview “mengesankan” itu, Nina mendapat SMS pemberitahuan kalau dirinya diterima.

Kalau dihitung sejak pertamakali ia mengirim lamaran, hampir dua bulan Nina harus menunggu kepastian dari Starlit.

SMS itu menyebut dirinya bisa mulai masuk sebagai penulis part-time Senin depan. Ia akan kerja mulai jam 4 sore sampai 10 malam.

Tapi…Nina membaca lagi SMS pemberitahuan itu. Di akhir pesan, nomor yang diketahuinya adalah nomor bos Arman itu, menulis:

Selama tiga bulan ke depan, kamu akan di-training lebih dulu oleh editor Starlit. Hasil kerja selama tiga bulan tersebut akan dijadikan acuan untuk meneruskan kontrak atau tidak.

Dulu, Nina menggebu-gebu menunggu hasil dari lamaran yang diajukannya. Tapi sekarang…setelah mendengar kejujuran dari Raka tempo hari, semangat itu lenyap seketika.

“Nin, kamu beneran jadi resign?” kata Bang Abdul, saudara yang tempo hari mempekerjakannya di panti.

Nina menggigit bibirnya, memandang ruang tamu panti pijat ini yang sudah sangat familiar baginya.

“Kalo beneran kamu udah dapat kerja lain, Abang jadi tenang, Nduk. Ini cukup lama lho, kamu di sini. Kamu emang anak baik, jadi nggak kepengaruh lingkungan sini.”

Nina memandang tepat ke mata Bang Abdul, yang menatapnya dengan gelisah sekaligus iba. Bang Abdul memang bukan orang yang sangat baik, tapi Nina tetap kagum dengan bagaimana khawatir ia padanya.

“Bismillah, makasih ya Bang atas bantuannya selama ini. Kalau gitu Nina pamit dulu.”

Untuk terakhir kalinya, Nina mencium tangan Bang Abdul dengan sangat khidmat.

***

“Kamu udah yakin ambil keputusan ini, Nin? Serius?” tanya Oliv, saat mereka ke luar dari kelas dan menuju tempat parkir sepeda.

Nina menghela napas, berat. “Yep, aku nggak mau mundur lagi. Ini pekerjaan bagus soalnya.”

“Terus setan yang dulu fitnah kamu itu gimana?”

Nina menatap Oliv. Wajah cemberut dari cewek itu sebenarnya membuat Nina ingin menceritakan semua.

Semua yang dikatakan Raka di hari mereka melabrak Noval dulu.

Tapi Nina memalingkan pandangnya dari Oliv. Ia teringat bagaimana derasnya kata-kata yang dicetuskan Raka. Betapa dalamnya kebencian terkandung di dalam sana.

“Dia emang orang jahat, dari lahir. Tapi demi kamu, aku bakal menghadapi dia.”

“PERHATIAN, PERHATIAN, TES 1 2 3 4, TES A B C D E F G…H I J K L M N…TOLONG MINGGIR KARENA PACAR RAKA RIVANO MAU LEWAT!”

Lamunan Nina dibuyarkan oleh bunyi toa yang benar-benar keras. Siswa Naraya lain yang juga sedang dalam perjalanan pulang, menengadah melihat Raka di lantai dua, sedang membawa toa besar.

Semua yang ada di sekitar Nina langsung memandang cewek itu. Ada yang memasang ekspresi jengkel, tapi kebanyakan sedang tertawa geli.

Amarah bercampur malu yang selama sebulan terakhir padam, tiba-tiba tersulut lagi. Nina menatap ke atas, seraya menata apa yang harus diucapkannya.

Namun saat mereka berdua saling bertatapan, Nina langsung menunduk.

“Ayo cepetan pulang Liv, sebelum Raka turun.”

Nina menyeret Oliv dengan cepat, menerobos siswa-siswa lain yang sedang menuju tempat sama.

Seraya menata perasaannya yang sebulan ini langsung tak karuan setiap kali mendengar suara Raka.

***

Senin yang dinanti akhirnya tiba.

Sepanjang perjalanan dari rumah, Nina merasakan kegelisahan dari ujung kaki sampai ubun-ubun.

Sebelum berangkat tadi, perasaannya berkata lebih baik ia tidak berangkat.

Tapi toh, melihat senyum bahagia sang Ibu, Nina akhirnya harus berangkat ke tempat kerja barunya.

Setelah satu jam lebih perjalanan, Nina akhirnya tiba di Starlit.

Tempat itu tampak sangat berbeda dari dulu saat ia melakukan interview.

Jika dulu Starlit tampak sangat sepi, hanya beberapa kendaraan saja berjajar di garasi. Kali ini, Starlit tampak cukup ramai, dengan banyaknya motor yang berjajar sampai ke sisi teras. Selain itu, pintu depan Starlit juga terbuka lebar, menampakkan sekilas interior ruang depannya.

Setelah menjejalkan motor di antara motor-motor lainnya, Nina menarik napas panjang. Lalu memberanikan diri mendatangi pintu depan.

“Selamat sore, selamat datang di Starlit. Ada yang bisa dibantu?”

Seorang wanita sangat cantik menyapa Nina begitu muncul di depan pintu. Wanita itu bertubuh cukup tinggi, ramping, dengan tunik dan hijab berwarna pink. Make-upnya tidak terlalu tebal, tapi tetap…bahkan Nina yang sama ceweknya terkesima dengan kecantikan itu.

“Halo, nama saya Sarah, ada yang bisa dibantu, Dek?”

Sarah menjulurkan tangan untuk menyalami, yang langsung disambut Nina tanpa mengalihkan pandang dari wajah Sarah.

“Saya mau…kerja, Kak. Saya kemarin dipanggil sama Bos Arman.” ucap Nina, lambat, masih terpana dengan kecantikan yang dilihatnya.

“Kerja?” Sarah mengerutkan dahi, melihat dari penampilannya, cewek di hadapannya ini umurnya masih 16 atau 17-an. Dan dia bilang dia mau kerja? Maksudnya?

“Maaf, kalau mau menaruh lamaran, saat ini kami sedang nggak buka lowongan kerja, Dek.”

“Bukan, Kak. Saya dipanggil Pak Arman untuk mulai kerja hari ini.”

Sekilas ada keraguan tampak di wajah Sarah, tapi kemudian dia berkata, “Oke, tunggu dulu, saya telponkan Pak Arman ya.”

Nina dipersilakan menunggu di deretan sofa merah yang terletak di samping resepsionis. Dari sana, ia mendapat sedikit pandangan dari pintu kaca di depannya.

Meski dari luar Starlit tampak seperti rumah biasa, ternyata di dalam penampakannya benar-benar seperti perusahaan. Di balik pintu kaca itu, ada meja-meja berjajar dengan komputer di atasnya. Pekerjanya tampak mondar-mandir, saling berkomunikasi, dan anehnya mereka tidak ada yang mengenakan seragam sama sekali.

Lima menit kemudian, di balik kaca itu, sosok yang ditunggu-tunggu Nina akhirnya tiba.

Dan ia makin dibuat keheranan.

“Udah lama datangnya? Maaf ya aku baru bangun tidur.”

Tanpa dijelaskan pun, Nina udah tahu kalau orang yang akan jadi bosnya ini baru bangun. Rambutnya berantakan, matanya sembab, dan ia masih mengenakan T-shirt menyerupai jersey Manchester City, dilengkapi dengan celana hitam selutut.

Kerja di dunia nyata beda banget ya sama kerja di sinetron-sinetron?

Meski masih terpana, Nina toh mengikuti saat Bos Arman mengajaknya ke ruang dalam. Memperkenalkannya pada tujuh pekerja yang tadi diperhatikannya.

Sebagian besar pekerja di sana tampak masih muda, usianya mungkin nggak ada yang lebih dari 30 tahun. Bahkan ada dua orang yang umurnya masih 21 dan 22 tahun.

Tapi di antara orang-orang itu, nggak ada sosok cowok tinggi yang memarahinya dulu. Syukurlah, kalau jabatan cowok bernama Reza itu emang tinggi, Nina nggak mungkin sering-sering ketemu dia, kan?

Lalu…Nina juga teringat perkataan Raka tempo dulu. Meski sampai sekarang Nina nggak tahu persisnya hubungan Raka dan Reza, Nina mau nggak mau ketakutan.

Apa yang dikatakan Raka benar? Jangan-jangan ia diterima kerja di sini gara-gara Raka yang memperjuangkannya? Apa cowok bernama Reza ini benar-benar pernah berbuat jahat pada Raka?

 “Nah Nina, tapi untuk sementara kamu kerja di lantai dua dulu. Seperti yang udah aku informasiin,  kamu kan masih baru nih, butuh briefing.” ucapan Bos Arman tiba-tiba menyentak Nina dari lamunan.

“Jadi selama tiga bulan ke depan, kamu akan dilatih dulu sama editor kami. Setelah itu kami baru memutuskan akan mengontrak kamu atau nggak.”

Editor? Kaki Nina kebas mengingat malam itu, saat ia dituduh mencuri secara sepihak oleh orang yang mengerikan itu.

Rasa takutnya belum teratasi, tapi ia sudah harus menghadapi sosok yang ditakutinya. Sosok penjahat yang konon telah menghancurkan kehidupan Raka.

“Za! Ini Nina udah dateng, tolong ya. Gua mau mandi dulu.”

Nina ternganga. Sosok mengerikan itu ada di sana, baru mengirimkan lirikan tajam. Sekilas, tapi makin menciutkan perasaan.

“Nina, mulai hari ini kamu ada di bawah bimbingannya Reza ya, dia editor sekaligus chief marketing-nya Starlit.”

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (5)
  • renicaryadi

    @elham udah dong om udah updet. Makasih ya udah nungguin. Lagi sakit gigi haha

  • elham

    Miriiip ..... :( skarang aq percaya apa yg q alami ini layaknya cermin...

    kereeen banget kak..
    D tinggu sllu klanjutanya.
    Smoga sllu d beri kesehatan trus..biar bisa nulis karya slanjut e

    Smangat

  • elham

    Sampek Sini masih sama...jdi k ingat ama almrhum..

  • aiana

    udah selesai sampai bag 3, di tunggu updatennya,
    boleh juga mampir di storyku kak...

  • yurriansan

    Awal baca pesanmu udah lucu :D.
    Isi.crtanya juga menarik. Aku finish bca smpe.chapter 3.

    Mmpir juga ya k storyku ku,.tlong krisannya juga :D

Similar Tags
Kekasih Sima
13      13     0     
Short Story
Sebenarnya siapa kekasih Sima? Mengapa bisa selama lima tahun dicampakkan membuat Sima tetap kasmaran, sementara orang-orang lain memilih menggila?
Bullying
12      12     0     
Inspirational
Bullying ... kata ini bukan lagi sesuatu yang asing di telinga kita. Setiap orang berusaha menghindari kata-kata ini. Tapi tahukah kalian, hampir seluruh anak pernah mengalami bullying, bahkan lebih miris itu dilakukan oleh orang tuanya sendiri. Aurel Ferdiansyah, adalah seorang gadis yang cantik dan pintar. Itu yang tampak diluaran. Namun, di dalamnya ia adalah gadis rapuh yang terhempas angi...
Premium
Boy Who Broke in My Window
6443      1925     11     
Humor
Jika kamu memintaku untuk mencintaimu seperti mereka. Maaf, aku tidak bisa. Aku hanyalah seorang yang mampu mencintai dan membahagiakan orang yang aku sayangi dengan caraku sendiri.
Konstelasi
38      28     0     
Fantasy
Aku takut hanya pada dua hal. Kehidupan dan Kematian.
Perceraian kontrak
601      323     0     
Romance
Ryan Delon seorang Ceo terkaya se-Eropa harus menyamar menjadi satpam demi mendapatkan cinta sejatinya. Akan tetapi, penderitaan itu hanyalah sementara sampai akhirnya ia dipersatukan dengan desainer cantik bernama Calesthane. Mereka menjalani hubungan hingga kejenjang pernikahan, namun hari-hari yang mereka jalani tidak seperti bayangannya. Banyak bebatuan di kehidupan mereka, sampai pada akh...
Teman
61      49     0     
Romance
Cinta itu tidak bisa ditebak kepada siapa dia akan datang, kapan dan dimana. Lalu mungkinkah cinta itu juga bisa datang dalam sebuah pertemanan?? Lalu apa yang akan terjadi jika teman berubah menjadi cinta?
Hey, I Love You!
41      29     0     
Romance
Daru kalau ketemu Sunny itu amit-amit. Tapi Sunny kalau ketemu Daru itu senang banget. Sunny menyukai Daru. Sedangkan Daru ogah banget dekat-dekat sama Sunny. Masalahnya Sunny itu cewek yang nggak tahu malu. Hobinya bilang 'I Love You' tanpa tahu tempat. Belum lagi gayanya nyentrik banget dengan aksesoris berwarna kuning. Terus Sunny juga nggak ada kapok-kapoknya dekatin Daru walaupun sudah d...
Chahaya dan Surya [BOOK 2 OF MUTIARA TRILOGY]
374      199     0     
Science Fiction
Mutiara, or more commonly known as Ara, found herself on a ship leading to a place called the Neo Renegades' headquarter. She and the prince of the New Kingdom of Indonesia, Prince Surya, have been kidnapped by the group called Neo Renegades. When she woke up, she found that Guntur, her childhood bestfriend, was in fact, one of the Neo Renegades.
Sweet Sound of Love
0      0     0     
Romance
"Itu suaramu?" Budi terbelalak tak percaya. Wia membekap mulutnya tak kalah terkejut. "Kamu mendengarnya? Itu isi hatiku!" "Ya sudah, gak usah lebay." "Hei, siapa yang gak khawatir kalau ada orang yang bisa membaca isi hati?" Wia memanyunkan bibirnya. "Bilang saja kalau kamu juga senang." "Eh kok?" "Barusan aku mendengarnya, ap...
Si Mungil I Love You
8      8     0     
Humor
Decha gadis mungil yang terlahir sebagai anak tunggal. Ia selalu bermain dengan kakak beradik, tetangganya-Kak Chaka dan Choki-yang memiliki dua perbedaan, pertama, usia Kak Chaka terpaut tujuh tahun dengan Decha, sementara Choki sebayanya; kedua, dari cara memperlakukan Decha, Kak Chaka sangat baik, sementara Choki, entah kenapa lelaki itu selalu menyebalkan. "Impianku sangat sederhana, ...